Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Ke luar kota.


__ADS_3

Pagi yang cerah, mentari bersinar menyinari alam Semesta. Tapi sinarnya matahari tak mampu menyinari hati dua istri yang sedang mendung ini.


Siapa lagi kalau bukan Intan dan Vera, saat ini keduanya sedang duduk di bangku taman, mereka mencoba menghibur diri, sejak suami mereka berangkat dua jam yang lalu.


"Mereka kok belum nelpon ya!" keluh Intan, matanya terus saja menatap ponsel di tangannya sedari tadi.


"Iya sabar, Tan. Mungkin mereka ada urusan!" ujar Vera menyemangati, padahai dalam hati nya sendiri sudah sangat geram, karna Davvien juga belum memberikan kabar.


Kling...klang...klung...kling...


Tiba-tiba handphone Vera berbunyi nyaring membuat empunya langsung menatap layar persegi di tangan nya tersebut. Matanya berbinar tatkala mengetahui jika yang menelpon adalah suami nya.


"Tan, aku masuk dulu. Mas Davvien menelpon!" ujar Vera sambil berlari kecil, menjauh dari Intan.


"Ih, kok aku di tinggal, sih!" gerutu Intan merasa kesal karna sang suami belum menelpon.


Tapi tiba-tiba ponselnya juga ikut berdering, dengan segera Intan menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan yang sedari tadi dia tunggu.


"Halo! kenapa baru menelpon sekarang, sedari tadi aku menunggu kabar dari mu!" tanya Intan tanpa jeda.


Terdengar suara terkekeh di balik telepon nya "Aku baru sampai, sayang!" suara lembut Fero langsung menenangkan hati Intan yang sedari tadi merasa gelisah.


"Hem ...! ya sudah istirahat lah!" tukas Intan, menurunkan nada bicaranya.


Panggilan pun terputus, sebenarnya mereka masih sama-sama merindu, namun Intan mengerti, jika suaminya saat ini pasti capek dan butuh istirahat.


...----------------...


Sudah tiga hari berlalu, Davvien dan Fero berada di luar kota, sedangkan Vera dan Intan mencoba menghibur diri dengan melakukan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan.


Seperti membuat kue yang banyak, untuk di kirimkan ke rumah orang tua dan juga mertua mereka, kadang Vera juga mengajak Intan masuk ke dalam ruangan latihan, Vera mengasah kemampuan bela dirinya lagi, kadang juga mengajarkan Intan gerakan-gerakan kecil saja, mengingat Intan sedang hamil muda.


Hari ini, keduanya tidak melakukan apapun, karna Vera seharian berada di dalam kamar si kembar, karna Syakira sedikit rewel mulai dari pagi.


Rasa rindu yang memuncak untuk sang suami, hanya bisa mereka lepaskan sejenak melalui vidio call melalui via WhatsApp, meskipun jauh, tapi Davvien tak pernah lupa Setiap hari untuk menghubungi Vera, begitu pun juga dengan Fero.


Karna rasa bosan, saat kedua anaknya tertidur, Vera mengambil kertas, pensil dan beberapa alat lainnya, lalu ibu dua anak ini menguraikan kemampuan nya di atas secarik kertas.


Vera sudah mendesain beberapa lukisan gaun yang sangat cantik, meski aktivitas nya harus putus-putus karna Syakira benar-benar sangat rewel, bayi bungsunya itu tidak benar-benar tertidur, karna hampir lima belas menit sekali dia terjaga dan juga menangis. Namun, tidak dengan Syakir, bayi lelaki nya ini tertidur dengan begitu pulas.

__ADS_1


"Oek .... oek ...." rengek Syakira lagi, Vera menutup semua kegiatan nya, lalu mendekati box Syakira.


"Anak Mama kenapa menangis terus, hem!" ujar Vera seraya tangan nya terulur ingin menggendong anak nya itu.


Tapi, mata nya langsung terbelalak saat menyentuh badan anak bungsunya yang tiba-tiba panas.


"Astaghfirullah, Nak! badan kamu kenapa tiba-tiba panas begini!" pekik Vera langsung merasa khawatir.


"Oek ... oek ...!" tangis Syakira pun semakin pecah, Vera mencoba memberikan kembali ASI untuk Syakira, namun di tolak oleh bayi gembul ini.


"Ya Allah, Nak! ada apa dengan mu!" lirih Vera, air matanya langsung berderai, tidak tau harus berbuat apa. Pikiran nya langsung teringat akan suami yang jauh di luar kota.


"Ra, kenapa Syakira menangis terus?" tanya Intan, saat dia keluar dari dalam kamar, telinga nya langsung mendengar tangisan dari, Syakira.


Intan pun terkejut kala melihat Vera sedang menangis, pasalnya dia sangat jarang melihat air mata menggenang di mata sahabatnya ini, yang dia tau Vera adalah wanita yang kuat dan juga tegar.


"Ra, kamu nangis?" tanya Intan langsung menghampiri Vera.


"Syakira, Tan!" lirih Vera sambil menghapus air matanya.


"Kenapa dengan, Syakira?" Intan kembali bertanya.


"Astaghfirullah ... Ya Allah!" Intan langsung menyambar Syakira dalam pangkuan Vera, lalu mencoba membuat nya berhenti menangis.


Bukan tidak perduli, tapi bagi Vera ini pertama kali di hadapan kan dengan situasi seperti ini, dia sudah linglung, tidak tau harus berbuat apa.


"Ra, coba kamu cari dokter khusus bayi di ponsel mu, dan tanyakan masalah nya!" ujar Intan pada Vera.


"Iya, Tan!" langsung saja, ibu dua anak ini menyambar gawai miliknya.


Tapi sebelum itu, ponselnya terlebih dulu berdering karna sang suami menelpon nya. Vera semakin gelagapan, sebelum menjawab pun, Vera menghapus air matanya, dan keluar dari dalam kamar si kembar, dia tidak ingin Davvien tidak tenang karna tangisan putri mereka.


Sebelum menjawab, Vera berdehem terlebih dahulu "Hekhem! Assalamualaikum, sayang!" ucap Vera sesantai mungkin.


"Waalaikum salam, sayang! apa kamu menangis?" tanya Davvien, membuat Vera tambah gelagapan.


"Tida, aku baru saja bangun tidur!" bohong Vera, dia tau itu salah. Tapi dia juga tidak mungkin membuat suaminya terbebani yang sedangĀ  bekerja.


"Hem ... anak-anak bagaimana, apa mereka sehat?" tanya Davvien di seberang sana.

__ADS_1


Degggg.....


Vera langsung bungkam. Dia bingung, apa harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


"Sayang!" panggil Davvien lagi.


"I-iya, sayang!" jawab Vera sedikit tersentak, membuat Davvien sedikit curiga.


"Apa mereka sehat?" tanya Davvien, kembali memastikan.


"Mereka sehat, sayang! kan baru tadi pagi kamu lihat mereka!"elak Vera.


"Hem ... ntah lah, perasaan ku tidak enak, terus saja kepikiran si kembar!" ungkap Davvien mengutarakan perasaannya, yang sedari tadi juga merasa gelisah.


"Mungkin karna kamu sudah lama tidak bertemu dengan mereka!" sergah Vera dengan cepat.


"Padahal aku ingin melihat mereka, tapi sekarang aku harus pergi!" imbuh Davvien, membuat Vera mengelus dadanya.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya, sayang!" lanjut Davvien lagi.


"Iya, hati-hati! jangan lupa makan!" timpal Vera membuat senyuman terbit di bibir manis Davvien.


"I love you, sayang!"


"I love you too!"


Setelah panggilan terputus, Vera langsung mencari apa yang menjadi tujuan nya sedari tadi, Syakira sudah sedikit tenang.


Bukan dia tidak ingin memberitahu kepada Davvien, tapi wanita beranak dua ini ingin menangani nya sendiri, karna cuma panas, jadi dia tidak ingin membuat sang suami resah dan juga khawatir.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung.


__ADS_2