Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Hadiah bogem mentah


__ADS_3

Saat mendengar penjelasan Fero emosi Davvien langsung memuncak, tanduk nya perlahan keluar, muka nya sudah memerah serasa keluar asap dari telinga dan hidung nya, tapi Davvien mencoba menahan nya.


"Fero, dalam 15 menit kamu harus ada di sini"


Davvien langsung mematikan sambungan nya, dia melemparkan ponsel nya secara kasar, sungguh asisten tiada akhlak itu berhasil membuat nya harus berpuasa selama satu minggu.


Sedangkan Fero masih tersenyum senyum sendiri, dia membayangkan bonus atau hadiah apa yang di berikan tuan nya itu.


Dengan buru buru pun Fero langsung melangkah keluar, dia langsung membawa mobil nya menuju ke rumah Davvien.


karna tidak terlalu jauh Fero sampai lebih cepat dari waktu yang Davvien berikan, karna Fero tidak sabar mendapat hadiah terima kasih dari Davvien dia membawa mobilnya dengan cepat.


Saat sampai di halaman rumah Davvien, Fero melihat Dokter Hendri di sana sedang mencoba menyala kan motor yang sudah terlihat butut dengan di bantu beberapa penjaga rumah.


Fero mula nya ragu, tapi setelah lebih dekat dan benar saja itu adalah Dokter Hendri.


"Hey, kapan kau kesini dan kenapa kau di sini siapa yang sakit, dan mengapa kau malah mengotak atik motor apa kau sekarang beralih profesi dari dokter menjadi pekerja bengkel?"


Dokter Hendri yang sudah merasa capek pun kesal dengan pertanyaan Fero.


"Jangan banyak bicara, cepat bantu aku hidupkan motor butut ini"


"Loh kenapa aku harus menghidup kan nya aku bukan orang bengkel jadi tidak mengerti dengan mesin, kau kesini dengan apa aku tidak melihat mobil mu"


"Haisss aku ke sini pakek motor ini"


Fero yang mendengar nya langsung tertawa terbahak bahak, Dokter Hendri langsung terasa marah karna Fero malah menertawakan nya.


"Hahahahahahaah apa kau sudah miskin apa kau sudah kehilangan pekerjaan mu hingga kau hanya punya motor ini, hahahaha"


"Sudah ketawanya?"


Dokter Hendri menatap Fero dengan tajam, melihat itu Fero menghentikan tawa nya.


"Oke oke, tapi kenapa kamu memakai motor ini, kapan kamu beli?"


"Hufff ini semua karna tuan, dia menyuruh ku datang kesini dalam waktu 10 menit, kalau tidak aku akan di pecat, gila dari rumah sakit 10, mana jalanan macet lagi, aku lihat seorang bapak dengan motor ini, aku pinjam dan aku titipkan mobil ku pada nya, terus aku bayar dia, tapi sekarang motor sial*n ini tidak bisa hidup lagi"


Mendengar itu Fero jadi penasaran siapa yang sakit, apa ini ada hubungannya dengan Davvien menyuruh nya datang ke sana, tanpa menolong Dokter Hendri setelah mendengar nya Fero langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Hei bantu aku dulu"


Dokter Hendri mendengus kesal karna Fero tidak membantu nya , dia pun melihat pada para penjaga.


"Apa kau lihat, bantu aku"

__ADS_1


Dengan pasrah mereka membantu Dokter Hendri menghidup kan motor bapak bapak yang Hendri pinjam.


...----------------...


Tok tok tok...


Saat mendengar suara dari dalam menyuruh nya masuk, Fero pun membuka pintu kamar Davvien, dia langsung di hidangkan pemandangan romantis di mana Davvien sedang menyuapi Vera.


"Wah mereka sudah semakin romantis, dan leher mereka, hais aku benar benar berhasil"


Batin Fero dia kembali tersenyum saat melihat pasutri yang terlihat romantis dan melihat merah merah di leher Vera dan Davvien.


Davvien sudah selesai menyuapi makan Vera, dan juga dirinya Vera memaksa Davvien juga ikut makan, al hasil mereka makan sepiring berdua, dengan hidangan tambahan yaitu setiap setelah menyuapi Vera Davvien selalu mencium pipi Vera.


Davvien melangkah menyimpan piring di meja, dia pun mendekati Fero yang tercengar cengir pada Davvien, Davvien pun ikut membalas senyuman Fero.


Bughhhhhh


Bughhhhhh


Fero langsung tersungkur ke lantai, sedangkan Vera langsung kaget melihat pukulan yang Davvien berikan pada orang yang sudah dia anggap kakak.


"Ke kenapa kau memukul ku, harus nya kau berterima kasih pada ku dan memberikan hadia untuk ku"


Bughhhhhh


"Suami ku sudah jangan kau pukuli kak Fero"


Teriak Vera yang sudah tidak tega melihat Fero di beri pukulan maut oleh suami nya.


Sedangkan Fero sedang mengingat kesalahan apa yang dia perbuat hingga Davvien begitu marah.


"Aku tidak akan berhenti, gara gara dia tuan J ku harus berpuasa selama satu minggu"


"Apa maksud mu"


Fero dan Vera bertanya secara bersamaan.


"Sayang, kau tau kenapa aku tidak bisa mengontrol diri semalam dan kenapa kau juga sangat agresif, itu semua karna dia, karna perbuatan nya yang menaruh lilin beraroma perangsang di kamar dan kamar mandi kita, pantas saja saat lilin itu habis kita baru ambruk"


Mendengar itu Vera pun ikut marah, jika dia tidak sakit mungkin dia akan memberi pukulan dan tendangan pada Fero.


"Kalau begitu pukul dia lagi suami ku, gara gara dia aku tidak bisa berjalan"


Bughhhh

__ADS_1


Saat mendengar istrinya memberi izin, Davvien langsung memukul Fero lagi, sedangkan Fero belum paham masih menahan tanpa membalas, darah sudah keluar dari hidung nya, tapi Fero tidak tumbang, dia masih berdiri dengan sigap.


"Katakan apa kesalahan ku"


"Kau bertanya apa kesalahan mu, kau lihat istri ku sakit dan tidak bisa berjalan karna aku menggempur istriku sampai pagi karna lilin sialan yang kau berikan, aku juga harus berpuasa untuk tuan J ku selama seminggu itu juga karna ulah mu istriku mengalami luka bagian dalam , dan asal kau tau aku sudah buka segel sebelum kau memberikan benda sialan itu"


Davvien membentak Fero, dia benar-benar sangat marah, bagaimana tidak karna kekonyolan sahabat nya itu dia yang kesusahan.


Mendengar itu, Fero juga merasa bersalah, karna melihat keadaan Vera yang terlihat sangat lemah.


"Ya ampun Vera, maafkan kakak kakak tidak bermaksud menyakiti mu"


"Tunggu aku sembuh aku akan memberikan mu pelajaran"


Ucap Vera penuh ancaman.


Glekkkkk


"Kenapa mereka berdua sangat menyeramkan"


Batin Fero, dia melihat suami istri itu seperti ingin memakan nya saja.


"Sekarang kau belikan obat ini, cepat"


Davvien memberikan resep yang di berikan Dokter Hendri.


Meski terasa sakit Fero berusaha berjalan untuk membelikan obat untuk Vera, toh ini juga karna ulah nya.


Saat diluar Fero melihat motor yang tadi di otak atik oleh Hendri masih berdiri di sana.


"Kemana Hendri?"


Tanya Fero dengan memegangi wajah nya, para anak buah yang melihat nya merasa ngeri, karna wajah Fero di penuhi memar dan juga sedikit darah.


"Dia sudah pergi dengan taksi online tuan"


Fero hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil nya.


Saat sampai di apotik, Fero turun untuk membelikan obat Vera, setelah selesai dia hendak masuk ke dalam mobil.


"Tuan,,,"


Bersambung.....


Like, komen juga vote nya teman teman.

__ADS_1


__ADS_2