
Siang hari.....
Susana hati ketiga manusia sedang di runding kesusahan, dimana mereka gelisah karna suatu hal yang sama.
Di taman, Riko sudah duduk di bangku taman, dimana tempat yang menyimpan banyak kenangan manis bersama kekasih nya yang sekarang menjadi istri orang.
Riko duduk diam, menatap ke dapan ada rasa ragu di hatinya, dia gelisah takut bila Vera tidak datang, maka hancur lah harapan nya, apa lagi mengingat perkataan Davvien kalau mereka sudah bersatu.
Sedangkan di kampus..
Vera masih berfikir, dia juga sedang bingung, hati nya gelisah apa kah dia harus pergi menemui Riko atau tidak, kalau dia menemui Riko dia takut karna tidak memberi tahukan nya pada Davvien, tapi kalau tidak menemui Riko semuanya tidak akan selesai, akhirnya Vera pun memutuskan untuk pergi, dia akan memberi tahu pada Riko tentang perasaan nya, biar dia merasa tenang.
Lain nya di kantor...
Davvien mondar mandir di depan meja kerja nya, dia tampak sangat resah Davvien tidak ingin bila dia harus kehilangan orang yang dicintainya ke keduakalinya.
"Fero apa aku harus kesana memastikannya, kalau aku kesana..."
"Kau tidak tau dia beneran pergi atau tidak, dan kau juga tidak ingin melihat bila mereka ada disana"
Sambung Fero, karna berulang kali Davvien mengatakan hal yang sama, bila Fero menjawab Davvien tidak menerima sara dari nya Fero.
Fero sedang duduk di sofa sambil meminum kopi nya terus melihat pada Davvien.
"Kau sedari tadi bertanya, bila aku menjawab kau tidak terima"
"Aku bingung Fero"
Davvien dan Riko sama sama sangat takut bila hati mereka terluka, kalau Vera dia takut akan menyakiti salah satu dari mereka, mungkin jika di film-film sudah di gabung menjadi tiga dengan Vera di tengah.
Vera sudah sampai di taman, dia langsung menghampiri Riko yang sudah menunggu nya di sana.
Vera mengajak pak Toni untuk ikut dengan nya biar jadi orang ke tiga, supaya dia tidak terlalu merasa bersalah pada Davvien, tapi Vera menyuruh pak Toni agak sedikit menjauh namun pak Toni bisa mendengar percakapan antara mereka, ntah kenapa Vera benar benar takut jika Davvien tau dan salah paham.
Salah jika dirinya sekarang menjaga perasaan suaminya, salah bila dia mencoba melupakan masa lalu nya?
"Riko"
__ADS_1
Riko pun menoleh pada Vera, dia bangun langsung menarik lembut tangan Vera untuk duduk di samping nya.
"Aku pikir kamu tidak akan datang Ra"
Vera hanya tersenyum canggung, tidak tau harus berkata apa, dia juga tidak tega menyakiti Riko.
"Kamu ingat tempat ini, dimana kita selalu menghabiskan waktu bersama di sini"
Vera masih diam, rasanya sakit saat Riko membahas masa lalu, tidak rela rasanya berpisah dengan Riko, apa dia akan mengubah tekadnya sekarang.
"Aku tau kamu masih mencintai ku Vera, dan begitupun dengan ku, jika kau ingin aku akan membantu kalian bercerai"
Tatapan Vera langsung teralihkan pada Riko, dia belum pernah berfikir untuk berpisah dengan suaminya, meski belum cinta bukan berarti ingin berpisah, karna Vera sudah membuat komitmen sejak dulu, dalam hidupnya menikah hanya sekali.
Pak Toni yang mendengar nya pun ikutan kaget, namun dia hanya bisa kaget tidak bisa berbuat apa apa.
Di kantor...
Davvien masih gelisah, dia benar-benar tidak tenang tapi juga tidak sanggup kalau nanti melihat istrinya menemui kekasihnya, mental nya tidak akan siap bila kehilangan orang yang di cinta kedua kalinya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi, karna sudah beberapa kali menghubungi Vera namun tidak di jawab oleh Vera.
Vera menatap Riko, menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.
"Ko, sebenar nya aku ke sini ingin memperjelas kan semua nya, aku sudah menemukan jawaban nya"
Vera menghentikan sesaat kata katanya, sungguh dia merasa sangat sedih juga takut.
"Aku memang mencintai mu, dan bahkan sampai sekarang aku masih mencintaimu, rasa cinta tidak akan hilang dengan begitu saja, apa lagi kita telah bersama bertahun-tahun, aku tidak bisa dengan mudah melupakan mu"
Riko tersenyum mendengar jawaban Vera, dia berfikir bila dia akan mendapatkan Vera kembali.
"Tapi bukan berarti aku akan meninggalkan nya, aku memang belum mencintai nya tapi aku juga tidak berniat untuk mengakhiri pernikahan ini, aku tidak ingin membuat Daddy malu, aku tidak ingin berpisah dengan tidak ada alsan apapun, aku hanya ingin menikah sekali dalam hidup ku, maaf Ko, mungkin kita di pertemukan tapi kita tidak di ditakdirkan, cari lah perempuan lebih baik dari aku, aku sudah tidak sempurna lagi"
Vera menundukkan kepala, menahan tangisnya.
"Dia mungkin tidak sebaik dirimu, tapi dia adalah suami ku, aku tidak bisa seberat apapun aku harus menerima kenyataan ini, maafkan aku ko, hiks,,,,hiks,,,"
__ADS_1
Air mata Vera tumpah, dia tidak bisa menahan tangisnya lagi.
Riko masih belum percaya dengan yang di katakan Vera, nafasnya tercekat Riko diam menatap kedepan merasakan sakit yang amat dalam di dada nya, dia berfikir bahwa Davvien benar benar telah menyentuh kekasihnya itu.
Tak terasa air mata mengalir di pipi Riko, hati nya yang hancur di gambarkan dengan deraian air yang terus keluar membasahi pipi nya, semua kenangan manis bersama Vera sungguh semakin menambah perih di hatinya.
"Ko, jangan diam seperti ini maafkan aku, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku Ko, sekarang kita akhiri hubungan ini hiks,, lupakan aku Ko hiks,,hiks,,,"
Vera terus menangis melihat keadaan Riko yang seperti nya sangat terpukul.
Sedangkan Riko masih menikmati rasa sakit yang semakin bertambah, apalagi saat Vera mengakhiri hubungan mereka, bagaikan luka yang tersiram air garam, sungguh menyakitkan.
"Boleh aku memeluk mu untuk terakhir kalinya?"
Tanya Riko, hanya itu yang bisa terucap dari bibir nya, Riko masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dia lalui, dia ingin saat ini hanya menjadi mimpi buruknya.
Vera mengangguk dengan terus menangis Vera berhamburan masuk ke dalam pelukan Riko.
Vera juga sama terpukul nya dengan Riko, sama sakit nya karna harus melepaskan sesuatu yang sudah membuat hidupnya berwarna beberapa tahun lalu, memang benar Riko adalah cinta pertama Vera, dulu Vera tidak suka yang namanya pacaran sudah banyak pria yang dia tolak termasuk Riko, tapi Riko tidak menyerah sampai akhirnya mampu menaklukan Vera.
Tapi akhirnya Riko tidak seberuntung Davvien, dia yang susah malah Davvien yang meraih hasil.
Mereka masih dalam mode berpelukan,sama sama meluapkan rasa sakit di hati mereka, keduanya sama sama menangis hanya itu yang bisa mengungkapkan betapa terlukanya mereka.
Saat masih berlarut dalam pelukan satu sama lain, seseorang datang mendorong tubuh Riko, dia pun langsung menarik tangan Vera secara kasar.
Vera kaget melihat orang yang menariknya.
"Tu-Tuan"
~Bersambung.
Hai hai hai...πππ maaf bila terlambat up, kemaren ada acara maulid, makasih ya yang masih setia membaca cerita gadungan ini yang rada rada hancur, aku juga minta maaf bila alur nya tidak sesuai keinginan kalian, aku belum cukup berpengalaman untuk membuat suatu karya.
Maaf juga bila tidak terlalu menyentuh, aku tidak terlalu pandai membuat para pembaca dag dig dug seerrr, aku juga tidak terlalu pandai membuat alur sedih, maaf ya.
Jika kalian berkenan, silahkan like, komen jiga Vote ya,, dukungan kalian adalah semangat bagi author, karya ini tidak akan ada apa apanya jika tanpa kalianππ.
__ADS_1