
...Tidak akan ku biarkan apa yang telah menjadi milik ku dilirik, apa lagi di sentuh oleh orang lain....
...Davvien Wilmar...
...----------------...
Berhubung sang asisten masih dalam masa bulan madunya, saat ke kantor bahkan sampai menemui klien, calon ayah dari bayi kembar ini selalu di dampingi sang istri.
Pagi ini keduanya menuju ke salah satu perusahaan, kali ini Davvien mengikuti tender pembangunan Apartemen, bukan hanya keuntungan nya saja, tapi pria berumur hampir 29 ini merasa itu adalah sebuah tantangan, sekali gus ingin mencoba sejauh mana kemampuan nya.
Meskipun setiap mengikuti tender dia selalu menang, namun suami dari Vera ini tidak pernah puas.
Semua orang sudah berkumpul di dalam sebuah ruangan di perusahaan yabg mereka datangi.
Vera nampak gugup, meski dia hanya bertugas menemani sang suami, namun wanita yang sedang berbadan dua ini tetap merasa gugup, karna ini kali pertama nya bagi Vera mengikuti tender yang biasa hanya di dengar dari sang Daddy.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Davvien yang menangkap raut wajah gugup dari sang istri.
"Iya, aku hanya sedikit gugup!" jawab Vera dengan suara pelan.
"Tenang lah, aku ada di sini!" tukas Davvien mencoba menenangkan hati istri tercintanya itu.
Saat mereka melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, semua mata mengarah kepada keduanya, meski perut Vera sudah sangat kelihatan, namun kecantikan nya tidak pernah luntur, bahkan kini bertambah dua kali lipat.
Vera menggunakan dress di bawah lutut, dengan rambut tergerai cantik, namun masih menampakkan leher jenjang yang terlihat mulus dan putih.
Semua mata seolah tidak berkedip, Davvien tentu saja tidak suka jika pria lain melihat wanita nya dengan tatapan mengingini.
Jangan kan Davvien, Vera pun merasa risih dengan tatapan aneh para lelaki di dalam ruangan itu, Davvien langsung memeluk pinggang sang istri, kemudian di menduduki tubuhnya di sebuah kursi yang masih kosong dengan meja yang berukuran panjang.
__ADS_1
Tapi di sela tatapan mengingini kepada Vera, ada beberapa sorot mata yang melihat tak suka dengan kedatangan Davvien, karna mereka yakin, jika Davvien yang mengikuti tender, sudah tentu pewaris tunggal Wilmar yang akan menang.
Davvien tidak mendudukkan Vera di atas kursi di sebelah nya, melainkan di atas pangkuan nya sendiri, lalu tanpa ragu dan malu Davvien langsung mencium leher sang istri, membuat semua yang melihat membelalakkan mata, termasuk Vera.
"Sayang! apa yang kamu lakukan, semua orang melihat kita!" bisik Vera di telinga sang suami.
"Biarkan mereka melihat dan tau jika kamu adalah milik ku, agar mereka tidak menatapmu dengan tatapan mengingini!" jawab Davvien juga berbisik di telinga Vera.
"Tapi tidak seperti ini juga, sekarang turun kan aku!" Vera sontak bangun dari pangkuan Davvien, dan menduduki kursi di sebelah Davvien.
Pimpinan perusahaan yang mengadakan tender tersebut pun masuk.
Tak berapa lama, mereka langsung memulai presentasi proposal.
Dengan percaya diri, semua nya menunjukkan keahlian mereka.
Davvien dan Vera memilih untuk keluar sebentar membelikan makanan untuk Vera.
Setelah waktu yang di tetapkan sampai, semua nya pun kembali masuk ke dalam ruangan rapat tadi.
Pimpinan rapat pun angkat bicara, guna untuk mengumumkan pemenang tender proyeknya itu.
"Terima kasih untuk semua yang sudah hadir di sini, perusahaan kami sangat salut kepada semua orang yang mengikuti tender ini, kami sebenarnya bingung harus memilih yang mana, karna hasil presentasi Kalian semua memuaskan!" ucap pimpinan rapat dengan berdiri di tengah meja.
"Namun! kami juga harus memilih pemenang tender kali ini, dengan berat hati perusahaan kami memutuskan yang memenang tender ini adalah Tuan Davvien Wilmar!" lanjut orang itu dengan begitu lantang, membuat telinga beberapa orang sakit karna kekalahan mereka.
Namun, tidak sedikit dari mereka yang bertepuk tangan.
Semua orang bubar setelah tau siapa yang berhak atas proyek pendirian apartemen di kota D.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Davvien, Vera dan juga pimpinan perusahaan dan sekaligus pimpinan proyek yang kini sudah beralih kepada perusahaan Davvien.
"Selamat Tuan Wilmar, saya tau ini bukan yang pertama untuk anda!" ucap lelaki itu dengan menjabat tangan Davvien.
"Terima kasih Tuan!" jawab Davvien singkat.
Lelaki yang usianya sekitar 30 tahun, kini mengulurkan tangannya ke hadapan Vera.
"Selamat Nona!" lanjut nya dengan menatap Vera lekat.
Vera sungkan menyambut tangan lelaki itu, karna menghargai sang suami yang berada di sana.
Davvien yang tidak ingin istri kesayangan di sentuh oleh lelaki lain langsung menyambar tangan yang sudah menggantung di hadapan Vera.
"Terima kasih Tuan, dan kenalkan ini istri saya!" jelas Davvien, setelah itu pun dia langsung menyambar pinggang Vera dengan begitu posesif.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1