Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Kedatangan Tomi.


__ADS_3

Saat ini di kediaman Wilmar suasana sedang tegang, semua keluarga berkumpul di rumah Davvien termasuk Ny.Andin dan Tn.Andre.


Vera terduduk lemah di sofa, Irfan beserta anak buah nya sudah di putuskan untuk mencari keberadaan mertua nya oleh Davvien,  Ny.Andin berusaha menenangkan menantu nya itu, sedangkan si kembar masih di temenin oleh Intan.


Davvien saat ini sedang fokus sama benda canggih di hadapannya, kali ini bukan Fero, tapi dia ambil alih sendiri mencari keberadaan mertua nya.


Tidak ada raut bercanda, hanya wajah  dingin, mata yang tajam dan juga rahang yang mengeras, kadang sesekali macan asia ini berdecak kesal karna lagi-lagi dia belum bisa menemukan titik terang.


Bukan Davvien tidak bisa di andalkan, tapi dia sudah mencoba mencari informasi mulai dari CCTV jalan, tapi tidak menemukan apapun, penculik ini sudah merencanakan dengan sangat matang.


"Fero, tanya kan Frans sudah sampai mana mereka saat ini!" perintah Davvien dengan suara dingin nya.


Fero langsung menghubungi Frans, tapi nomor nya tidak bisa di hubungi.


"Nomor nya masih belum aktif, Tuan!" jelas Fero.


Davvien menghela nafas nya lalu kembali berujar.


"Kita tunggu saja Frans pulang dengan Tomi, asisten nya Daddy Diwan!" imbun nya kembali menatap layar di hadapannya.


Yap, Frans yang sudah di berikan kontak ponsel Tomi oleh papa nya, saat tidak menemukan keberadaan kedua orang tua nya, Frans langsung menghubungi Tomi, dan betapa terkejutnya dia saat Tomi menjelaskan jika beberapa hari lalu mommy nya mendapatkan teror, dan Tomi juga bilang soal hilangnya Tn.Diwan dan Rina ada kaitannya dengan peneror itu.


Maka dari itu, Frans segera menghubungi Davvien untuk memberitahu jika dia akan menjemput Tomi, sebelum paman nya menculik Tomi terlebih dahulu, karna semua rahasia Tomi lah yang mengetahui.


Davvien langsung menyuruh Frans berangkat dengan jet pribadi keluarga Wilmar, di dampingi oleh beberapa anak buah Irfan.


Davvien melihat sang istri yang duduk terdiam dengan tatapan penuh kekhawatiran, meski tidak ada air mata yang mengalir, namu dia tau, wanita hebatnya ini sangat terpukul, dia hanya berusaha tegar, karna hanya itu yang dia tau dari sifat istrinya itu.


"Sayang, kamu minum susu dulu ya!"


Davvien menyodorkan segelas susu yang dia minta buat kan pada bi Aini.


Ny.Andin sudah beranjak ke dalam kamar Davvien dan Vera untuk menemani Intan menjaga si kembar.


Tn.Andre masih duduk di dalam ruangan kerja Davvien bersama Fero.


"Tapi Mama, Daddy!" ucap Vera getir.

__ADS_1


"Tenang sayang, aku janji akan menemukan mereka! minum dulu, demi anak kita!" ujar Davvien mencoba menenangkan sang istri.


Vera pun meneguk susu yang di berikan sang suami, Davvien langsung menarik kepala Vera ke dalam pelukan nya.


Di sini lah Vera menumpahkan segala nya, dada Davvien adalah tempat ternyaman untuk dirinya bersandar saat hati nya di runding kegelisahan.


Tak berapa lama, suara mesin mobil masuk ke dalam pagar rumah Davvien, Vera buru-buru mengangkat kepalanya dan menghapus air mata yang hanya dia tunjukkan di hadapan suaminya saja.


"Sayang, mungkin itu Kakak!" ucap Vera dengan suara serak.


Davvien mengangguk, lalu keduanya pun keluar melihat orang yang baru saja tiba.


Dan benar saja... Yang datang adalah kakak nya, Frans. Dan seorang yang tidak mereka kenali.


"Kakak!" panggil Vera, dia ingin berlari ke dalam pelukan sang kakak, tapi dia masih ingat jika sang suami pasti tidak akan menyukainya.


"Bagaimana Kak, apa ada tanda-tanda tentang penculikan Mama dan Papa?" tanya Vera tanpa sabar.


"Belum dek, lebih baik kita dengar kan penjelasan dari Tomi dulu!" jawab Frans berusaha menenangkan.


Tomi menatap Vera intens, terakhir dia melihat anak dari tuan nya masih sangat kecil.


Vera dan Davvien sontak melihat ke arah pria yang hampir sama umurnya dengan Daddy nya yang berdiri di samping Frans.


"Lebih baik kita masuk dulu!" ujar Davvien.


Ke empat orang itu masuk ke dalam rumah, Vera masih penasaran dengan sosok seorang yang datang bersama kakak sulung nya itu.


"Kak!" panggil Vera, dia melirik ke arah pria paruh baya yang juga melihat ke pada nya.


Frans mengerti yang di maksud adik kesayangannya itu.


"Dia asisten Daddy yang mengurus perusahaan Daddy selama ini sayang!" bukan Frans yang menjawab, melainkan Davvein.


Vera sebenarnya terus berfikir kenapa Frans malah membawa pulang asisten Daddy nya, bukan mencaritahu keberadaan orang tua mereka.


"Kak, bagaimana jika mereka menyakiti Mama dan Daddy Kak, kenapa sampai sekarang mereka belum juga di temukan, bagaimana jika mereka!" Vera sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, membayangkan nya saja dia tidak sanggup.

__ADS_1


"Mereka tidak akan mencelakai Tuan dan nyonya Anggara!" ucap Tomi lantang.


Semua mengerutkan dahinya mendengar perkataan lelaki kepercayaan orang tua mereka.


"Mengapa anda sangat yakin?" tanya Davvien.


"Karna sebenarnya incaran mereka bukan lagi Tn.Reyan, melainkan..!" Tomi menjeda ucapan nya dan melihat ke arah Vera.


"Melainkan Nona Kia!" sambung nya membuat mereka semua terkejut.


"Apa maksud anda?" tanya Davvien dengan dingin, Tomi jelas melihat wajah tak bersahabat dari suami anak tuan nya itu.


Tomi pun mulai menceritakan semuanya, mulai dari Tn.Diwan menyuruh nya memegang perusahaan sementara, hingga surat wasiat yang telah di ubah menjadi nama Kia beserta juga dengan alasan nya.


Raut kecemasan dan ketegangan langsung menghiasi wajah dari ayah bayi kembar ini. Tentu saja rasa takut hinggap di hatinya, bukan karna lemah tapi ini menyangkut belahan jiwa nya.


Vera yang mendengar itupun tak berkutik, namun sepersekian detik dia langsung menatap pada sang suami. Davvien menggeleng, seolah tau apa yang di pikirkan Vera.


"Tidak sayang, aku tidak akan pernah setuju!" celetuk Davvien dengan tegas tanpa mau di bantah.


"Tapi ini untuk keselamatan Mama dan Daddy, izin kan aku ke sana!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Haduh-duh, gimana ini apa Davvien akan membiarkan istri kesayangan nya menyelamatkan mertua nya.


Mengingat jika Davvien suami yang sangat posesif, tidak yakin dia akan memberikan izin.

__ADS_1


Simak terus cerita nya, jangan lupa juga like, komen dan juga vote teman-teman.


__ADS_2