
...Hubungan akan bertahan jika pasangan nya mempercayai satu sama lain, tidak berprasangka buruk, dan juga tidak mudah mempercayai ucap orang lain....
...----------------...
Intan dan Vera baru tiba di rumah, keduanya baru pulang mengantarkan makanan untuk suami mereka masing-masing.
Keduanya langsung menuju ke dalam kamar. Tujuan mereka sama, yaitu menyiapkan pakaian dan juga keperluan para suami, karna keduanya besok akan berangkat ke kota B.
Sebelum ke kamarnya, Vera terlebih dulu melihat si kembar, karna jika waktu siang hari, Syakir dan Syakira di tidurkan di kamar mereka sendiri.
Setelah memastikan keduanya masih terlelap, Vera langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menyiapkan pakaian untuk sang suami tercinta.
Sebenarnya dia merasa begitu berat, karna Davvien di sana lumayan lama, sehari tidak berada dalam dada bidang yang liat sang suami nya saja sudah sangat membuatnya rindu, apalagi kali ini kepergian Davvien sampai lima hari di sana.
Dengan wajah lesu, ibu dua anak ini memilih pakaian dan juga barang yang akan di bawakan, Davvien.
Sama halnya dengan Intan, ini pertama kalinya untuk Intan, dia merasa begitu sedih saat sang suami mengatakan jika dia akan berangkat besok.
Apalagi dirinya sedang hamil muda, tentu masih sangat membutuhkan belaian dan perhatian dari orang tercinta, terutama suaminya sendiri. Tak terasa air mata nya keluar saat memasukkan pakaian Fero ke dalam koper yang akan di bawanya nanti.
Tapi keduanya tidak ingin menjadi istri yang egois, karna mereka tau. Davvien dan Fero bekerja keras hanya untuk mereka, ya meskipun Davvien sebenarnya bisa mendapatkan uang yang banyak dengan hanya menggeser-geser layar ponsel saja, tapi tetap saja. Itu merupakan kewajiban nya sebagai pimpinan perusahaan.
...----------------...
Malam hari...
Mereka semua sudah selesai menyantap makan malam, kini kedua pasangan suami istri itu sedang duduk dalam kamar mereka masing-masing.
Fero dan Intan duduk balkon kamar, dengan Intan duduk di atas pangkuan Fero, ayah dari calon bayi yang di kandung Intan ini, memeluk dengan erat pinggang sang istri, rasanya juga berat jika harus meninggalkan Intan, apalah dia sedang hamil.
Setelah sekian lama, baru kali ini dia merasa sedih dan berat untuk pergi, kalau dulu jika mau pergi ya pergi saja, tidak ada yang dia pikirkan, tapi sekarang ada istri dan calon anaknya yang sama-sama berarti dalam hidupnya yang harus dia tinggalkan. Saat ini keduanya sama-sama di runding kesedihan di dalam hati masing-masing.
"Sayang!" bisik Fero tepat di telinga Intan.
"Iya, sayang!" jawab Intan lirih.
"Jaga anak kita, ya! jangan pernah keluar sendiri selama aku tidak ada!" ujar Fero memperingati sang istri.
"Jangan telat makan, jangan banyak pikiran. Aku ingin kamu dan anak kita sehat-sehat di sini!" lanjut Fero lagi.
__ADS_1
Intan mengangguk "Iya, aku pasti akan menjaga nya, lagian kan ada Vera di sini, ada Bi Aini juga. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu juga harus menjaga kesehatan selama di sana!" tukas Intan, memperingati balik.
"Iya, sayang!" jawab Fero. Tangan nya menyentuh perut Intan "Sayang, kamu sehat-sehat ya dalam perut, Mama! jangan buat Mama sakit ya Nak!"
Cup...
Intan menyandarkan kepalanya di dada Fero yang bidang, membuat adik kecil sang suami bangun.
"Sayang ...,!" panggil Fero lagi, kali ini terdengar suara berat keluar dari mulut sang suami.
"Iya ...!" jawab Intan, sebenarnya dia sudah paham apa yang di inginkan suami nya itu.
"Aku mau!" celetuk Fero, dengan nada menggoda.
Intan bangun, lalu membungkuk kan badannya dan berbisik di telinga Fero dengan begitu sensual "Lakukanlah! bukan kah dia milikmu!"
Fero yang mendengar nya pun senang bukan main, langsung saja dia menggendong sang istri ala bridal style, masuk ke dalam kamar. Lalu dengan perlahan merebahkan Intan di atas kasur, penyatuan keduanya pun tak dapat tertahan kan lagi, saat dua hati dan jiwa telah bersatu.
Suara indah menggema dalam ruangan, namun hanya dinding yang menjadi saksi, betapa saling menghangat kan kedua insan yang sudah sah sebagai pasangan suami istri ini.
...----------------...
Keduanya tertawa riang saat kedua anak nya menunjukkan sikap menggemaskan mereka, mereka duduk di atas karpet berbulu tebal nan sangat lembut. Davvien terlihat sangat menikmati suasana saat ini, karna ayah dua anak ini akan meninggalkan ke dua bayinya untuk beberapa hari.
"Bilang apa anak Papa!" gurau Davvien dengan kedua bayinya yang terlentang di atas karpet berwarna merah tersebut.
Kedua bayi gembul itu hanya tertawa, tangan dan kaki mereka terangkat ke atas, sambil sesekali tangan mungilnya memegang hidung sang Papa yang mancung.
Puas bermain, Vera dan Davvien melihat jika kedua anaknya sudah menguap, pertanda mereka sudah mengantuk.
"Ululu anak Mama sudah mengantuk, ya!" gumam Vera sambil mengambil Syakir untuk dia susui.
Syakira juga di bawa ke dalam pangkuan sang Papa, hanya sekitar 10 menit, Syakir sudah terlelap. Langsung saja Vera bergantian menyusui untuk anak perempuan nya.
"Si cantik Mama juga sudah ngantuk, ya!" celetuk Vera lagi, tangan nya mengelus lembut kepala anak nya itu.
Selesai menidurkan keduanya, Vera langsung melihat Davvien yang juga seperti bayi kehausan menatap pada dirinya.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Vera yang pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Aku juga haus!" timpal Davvien dengan senyuman mesum di bibirnya.
"Oh baiklah, tunggu di sini Tuan suami, istrimu akan mengambilkan minum untuk mu!" sergah Vera ingin melanjutkan langkahnya.
Tapi belum sempat mengangkat kakinya, tangan nya sudah di tarik oleh Davvien, diapun langsung terjatuh di atas dada Davvien yang sudah berbaring.
"Aku mau minum seperti Syakir dan Syakira!" lirih Davvien, Vera dapat melihat mata sang suami sudah berkabut gairah.
Tanpa sempat menjawab, sang suami langsung menyambar apa yang dia inginkan, Vera hanya bisa mengeluarkan suara-suara kesukaan Davvien, semakin membuat suaminya itu bergairah.
"Sayang!" panggil Davvien dengan suara serak, menahan sesuatu.
"Naiklah ke atas kasur, dan berbaring lah di sana!" perintah Vera.
"Apa!" jawab Davvien tidak mengerti.
Vera tersenyum "Aku memang belum bisa menyerahkan diriku pada mu, tapi aku bisa memuaskan mu!" bisik Vera tepat di telinga Davvien, sambil matanya menunjuk pada tangan nya. membuat suami mesumnya itu langsung menurut dan pasrah.
Vera menjalankan tugasnya, dia tidak ingin membuat suaminya tersiksa yang akan membuat nya kecewa, maka dia harus pandai-pandai mencari cara menyenangkan sang suami.
Tanpa henti Vera terus memberikan rasa ken*kmatan untuk Davvien, hingga suara lenguhan kepuasan terdengar dari mulut sang suami.
"Thank you, honey! You are the best!" puji Davvien atas kepuasan yang dia rasakan.
Vera hanya tersenyum, lalu masuk ke dalam pelukan Davvien dan terlelap bersama.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1