
Setelah menemui sahabatnya Intan kembali pulang di hantarkan oleh Fero.
Setelah melalui sedikit drama di antara Fero dan Frans, akhirnya Intan bisa terlepas dari lelaki berbeda karakter tersebut.
Frans seorang pria ramah, humoris juga asik saat di ajak bicara, sedangkan Fero pria dingin yang sangat hemat bicara juga pemaksa.
Intan ingat saat Frans memanggil nya dengan sebutan Baby, Fero langsung menatap nya dengan begitu tajam.
Mereka pun sempat berdebat, sebelum akhirnya sang bos menyudahi perdebatan mereka.
Intan juga mengingat jika Fero menjadi lebih diam saat mereka pulang, Fero kembali menjadi lemari es.
Sedangkan Fero, setelah mengantar Intan, tanpa mengatakan apapun, Fero memutar setir mobilnya menuju jalan pulang.
Di perjalanan dia terus memikirkan tentang gadis yang saat ini dia perjuangkan, Fero panas dingin ketika melihat Intan duduk bersama Frans saat dia kembali setelah menemui Davvien.
Meski Intan dan Frans duduk berjarak, namun itu membuat hati nya meradang.
"Apa dia benar-benar sudah tidak mencintai ku, apa dia sudah melupakan ku dan menyukai lelaki itu, dan kenapa dengan ku ini... dulu aku selalu menghina nya tapi kini aku malah mengejar nya bahkan tidak rela dia bersama lelaki lain"
Fero memegang kepalanya dengan tangan kanan dengan sikunya dia tahan pada pintu mobil, sedangkan tangan kirinya masih memegang setir mobil.
"Aku akan memastikan sekali lagi apa dia memang sudah melupakan ku apa belum, jika memang, aku akan melupakan nya" Lanjut Fero membatin.
"Tapi aku tidak sanggup, aahhhkkk"
Fero frustasi memikirkan perasaan nya yang berubah seratus delapan puluh derajat, saat ini dia benar-benar sangat mencintai Intan.
...----------------...
Waktu berlalu, hari berganti dengan begitu cepat, Davvien dan Vera sudah pulang ke mansion mereka sendiri.
Vera sudah kembali masuk kuliah, Davvien pun sudah beberapa hari lalu mulai bekerja.
Fero dan Intan sudah jarang bertemu, posisi Fero yang sudah kembali sibuk.
Fero pun semakin merasa jika Intan memang sudah melupakan dirinya, apa lagi Fero sempat beberapa kali melihat kedekatan Intan dan Frans, saat Intan pergi ke rumah Vera, dan begitu juga Frans yang selalu menjenguk adik kesayangannya, di sana lah Fero sering menyaksikan kedekatan keduanya.
Kadang Fero melihat jika Frans dan Intan tertawa bersama meski ada Vera juga yang menengahi mereka, namun Fero merasa sakit, karna jika dengan dirinya Intan selalu bersikap jutek dan cuek.
Fero duduk termenung di dalam ruangan nya, melihat kedepan dengan tatapan kosong.
Dia terus memikirkan langkah apa yang harus dia ambil untuk kedepan nya.
Apa dia akan melepaskan Intan bersama dengan Frans, atau dia akan memperjuangkan Intan sekali lagi.
''Fero, Kenapa kau tidak mengangkat telpon dari ku?" Tanya Davvien yang sudah berdiri di pintu ruangan Fero.
Dari tadi Davvein menelpon Fero, namun tak di respon dari empunya, dan sampai saat Davvien memanggil dan berbicara pun Fero masih tidak bergeming.
"Kutu kupret, apa kau tuli?"
Masih tidak ada jawaban, merasa kesal Davvien langsung melangkah dan menggebrak meja di hadapan Fero.
Brakkkkkk
Fero yang merasa kaget pun langsung berdiri.
"Bisa sopan sedikit masuk ke dalam ruangan orang?" Tanya Fero spontan belum menyadari yang menggebrak meja nya adalah bos sinting nya.
"Sudah berani kau berteriak pada bos mu hah"
Fero langsung gelagapan saat tau orang yang dia bentak adalah Davvien.
__ADS_1
"Tu-tuan, maaf saya tidak tau jika itu anda" Ucap Fero sambil membungkuk kan badan nya.
"Saya kira OB masuk tanpa mengetuk makanya saya kesal tuan" Lanjut nya lagi.
"Apa, kau bilang aku OB, dan bilang tidak mengetuk pintu, kau tidak tau hah berapa kali aku menelpon mu, dan kaki ku sudah pegal berdiri di pintu ruangan ini, dari tadi aku berbicara dan bertanya, tapi kau tidak menggunakan telinga mu"
"Maaf tuan, kan saya tidak tau... lagian tuan untuk apa mencari saya selalu"
"Apa, kau sungguh terlalu sekarang kutu kupret"
Davvien melangkah mendekati Fero dengan mengayun tinjuan pada Fero, dan sebelah tangan nya memegang kerah baju Fero, namun pergerakan Davvien yang tiba-tiba membuat Fero tidak siap, dia pun langsung terduduk kembali di kursi nya dengan menarik Davvien tepat di atas pangkuan nya.
Untuk sesaat mereka terdiam dengan berjarak cukup dekat, hingga suara seseorang mengagetkan keduanya.
"Aaaaaaa" Vera berteriak saat melihat suami dan asisten nya begitu dekat.
Vera yang baru sampai di kantor Davvien yang di jemput oleh anak buah Davvien sudah masuk ke dalam ruangan suaminya, namun dia tidak menemukan Davvien di sana.
Vera keluar berencana menanyai suaminya pada Fero, namun alangkah terkejutnya Vera saat melihat sang suami yang berada di pangkuan Fero.
"Sa-sayang" Davvien langsung berdiri dan mendekati Vera.
"A-apa yang kalian lakukan?" Vera begitu syok, Fero dan Davvien mencoba menjelaskan.
"Sayang, ini bukan seperti yang kamu bayangkan"
"Iya Vera, tadi hanya tidak sengaja dia terjatuh dan terduduk di atas ku"
Vera masih melongo, dia pun menyipitkan matanya, lalu mengintimidasi keduanya.
"Jelaskan pada ku kenapa kamu berada di ruangan kak Fero dan duduk di pangkuan nya, bahkan aku yang membayangkan nya saja menjadi ngeri"
Vera bergidik membayangkan yang tidak-tidak tentang suami dan Fero.
...----------------...
Intan memikirkan Fero yang juga sudah berubah, kembali dingin dan cuek pada nya, bahkan setelah hari Fero mengantar dirinya sampai sekarang Fero tidak pernah menemui dirinya, jika bertemu pun Fero hanya berlalu tampa menghiraukan Intan meski mereka berhadapan.
"Apa cuman segitu cinta mu untuk ku, apa cinta yang sempat kau ucapkan hanya sekedar saja" Gumam Intan.
"Untung diriku tidak langsung menerima mu, ternyata kamu hanya mempermainkan ku" Lanjut nya lagi.
...----------------...
Kembali ke ruangan di kantor...
Vera menatap tajam pada kedua orang di hadapan nya, setelah mendengar semuanya Vera sedikit tenang.
"Huffff aku jadi tenang, ternyata kamu masih normal suamiku" Vera memegang dadanya.
Davvien menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi kau sempat berpikir jika aku sudah tidak normal, dan aku menyukai kutu kupret ini?"
"Ya kan tidak ada yang tau, tapi aku sudah yakin pada mu"
"Aku juga masih normal Vera, dan kakak juga tidak tertarik dengan suami mu ini" Fero pun tidak mau kalah.
"Kutu kupret kau..."
"Sudah sudah jangan berdebat lagi" Vera mengehentikan ucapan nya, lalu dia menatap pada Fero.
"Dan kau kak, ceritakan apa sebetulnya yang menjadi masalah mu, kenapa aku lihat akhir akhir ini kakak sering diam, melamun hingga membuat mu tidak fokus" Vera sudah duduk di samping suaminya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-ap...."
Belum selesai Fero berbicara namun senjata sudah di todong kan di hadapan Fero.
"Jangan mencoba menutupi apapun dari ku kak, ingat lah adik mu ini pandai memainkan senjata"
Vera menarik senjata di balik jas suaminya, dia tau meski Davvien berhenti menjadi mafia, namun senjata tetap selalu di bawa Davvien.
Vera sengaja melakukan itu karna tau sifat Fero yang tertutup, dia ingin membantu menyelesaikan masalah sang kakak, Vera tidak tega melihat Fero yang kebanyakan diam akhir-akhir ini.
Fero menelan ludah nya kasar, melihat cara Vera mengancam.
"Baik lah, sekarang turun kan senjata nya"
Davvien tersenyum, dia pun mencium pipi Vera lalu mengelus perut buncit sang istri.
"Aku bangga pada mu yank"
"Dasar, suami istri pemaksa" Batin Fero.
Fero menghembuskan nafas nya, dia pun mulai menceritakan tentang hubungan nya dengan Intan yang semakin menjauh, dia juga menceritakan tentang kedekatan Intan dengan Frans.
Fero pun kali ini juga ingin meluapkan rasa sesak di dadanya, dia juga butuh saran dari seseorang yang setia mendengarkan kisah dirinya.
"Oh... aku sudah yakin, pasti itu maslah nya"
Vera kini sudah di dudukkan di atas pangkuan Davvien, Fero sudah biasa melihat pemandangan seperti itu.
Davvien hanya mendengar pembicaraan mereka, sambil terus memeluk pinggang sang istri dan meletakkan kepalanya di dada Vera.
"Saran dari ku kakak kejar terus Intan, aku melihat dia belum bisa melupakan mu, karna kakak lah cinta pertama Intan... kakak berjuang lah sekali lagi jika kakak benar-benar mencintai nya, masak kakak menjadi lelaki lemah seperti itu"
"Apa kamu tetap akan mendukung ku meski tau jika kakak mu Frans juga menyukai Intan?"
"Jika kalian sama sama cinta kenapa nggak, karna cinta kan nggak bisa dipaksa, lagian kak Fero yang terlebih dahulu mengenal Intan bukan kak Frans"
Hanya itu jawaban Vera, namun meski sesingkat itu, mampu membangkitkan semangat Fero kembali untuk mendapatkan hati Intan kembali.
"Tapi satu yang kurang"
"Apa?" Tanya Fero.
"Kak Fero terlalu kaku, jadi lah orang yang bisa di ajak bicara, di saat dia membutuhkan kakak, kakak selalu ada, jangan utama kan gengsi atau egois, jangan membuat nya tegang bila berdekatan dengan kakak, jadi lah orang yang mengerti dirinya"
Dan nasehat Vera di terima dengan baik oleh Fero, dia sadar selama ini Fero mendekati Intan dengan masih bersikap cuek, dia akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Intan nyaman dengan dirinya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jika kalian mau yuk lindungi karya recehan ku ini, di sini ya kalian bisa lindungi dengan memberi kan bintang untuk kary ku ini
__ADS_1
Jika kalian berkenan ðŸ¤ðŸ¤.