
Mobil yang membawa Tn.Diwan dan juga sang istri sedang melaju, mereka pulang dengan di kawal beberapa bodyguard, sejak di beritahu oleh sang istri, Tn.Diwan menambah penjagaan di rumah maupun saat mereka keluar.
Frans tidak ikut pulang dengan mereka, dia meminta izin karna ada hal yang harus dia urus.
Tn.Diwan duduk dengan sang istri di belakang, sedangkan yang menyetir mobil dari belakang, terus melihat tiga mobil pengawal dari tuan nya.
Sampai di tempat yang sepi, perlahan mobil yang menjadi pengawal mereka berkurang satu satu. Supir sempat heran karna hilang nya mobil yang sedari tadi mengikuti mereka, tapi saat hendak memberitau kepada Tn.Diwan, dia kembali melihat melalui kaca spion mobil nya empat mobil warna hitam sudah berada di belakang mereka.
Tapi anehnya mobil itu melaju semakin cepat, hingga tanpa sempat sang supir berbicara, salah satu dari mobil tersebut sudah menghadang mobil merek, membuat supir harus menginjak rem mobil dengan begitu kuat, sehingga membenturkan kepala Tn.Diwan dan Rina pada kursi depan.
Tn.Diwan memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing, di iringi dengan suara ringis dari sang istri yang duduk di sebelah nya.
"Ma, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Tn.Diwan yang merasa khawatir dengan keadaan sang istri.
"Tidak apa-apa Pa!" jawab nya, juga sambil memegang dahinya.
"Kenapa berhenti mendadak?" tanya Tn.Diwan sedikit kesal.
"Maaf Tu..!" belum sempat menjawab tiba-tiba.
Dor...!
Kriiiinggggggg.....
Sura tembakan terdengar memekik telinga, bersamaan dengan suara pecah nya kaca mobil depan, Tn.Diwan memeluk Rina yang gemetar karna terkejut dengan suara tembakan tersebut, dan yang lebih membuat nya terkejut ketika melihat supir di depan mereka sudah terkulai tak bernyawa dengan darah terus keluar dari kepalanya.
"Pa... ada apa ini, siapa mereka?" tanya Rina lirih, dia menenggelamkan wajahnya di dalam dada sang suami.
"Papa juga tidak tau Ma!" jawab Tn.Diwan mencoba menenangkan ibu dari anaknya, meski dia sendiri juga sangat khawatir.
__ADS_1
"Cepat! turun dari dalam sana!" bentak orang dari luar, mereka menggedor kaca mobil dan mengacungkan pistol ke arah mereka.
Tn.Diwan melihat jika mobil nya sudah di kerumuni oleh orang-orang yang tidak dia kenali.
Tn.Diwan mencoba mengambil ponsel dari dalam saku celananya, ingin menelpon seseorang, tapi salah satu dari orang tersebut dapat melihat yang di lakukan nya.
"Cepat keluar, dan jangan coba-coba menghubungi siapapun! atau tidak akan ku tembak punggung istri mu!" bentak orang dari luar, seketika menghentikan keinginan Tn.Diwan.
Demi keselamatan sang istri, Tn.Diwan akhirnya keluar dari mobil, betapa terkejutnya dia saat melihat semua yang ada di sana bukan lah pengawal nya lagi.
Siapa orang ini, Bagaimana bisa mereka menjadi yang lain, kemana semua pengawal nya, dan dari mana asal mereka semua. Pemikiran itu seolah berputar dalam pikiran Tn.Diwan.
"Siapa kalian?" tanya Tn.Diwan dengan nada tegas mengintimidasi. Dia masih belum merenggang kan pelukan kepada sang istri.
Keadaan begitu sepi, tidak ada satupun kendaraan yang lewat, jika lewat pun, mungkin tidak akan berani ikut campur, melihat kelompok mereka yang begitu banyak dan juga bertubuh besar.
Dengan patuh, mereka semua mendekati Tn.Diwan dan menarik lengan nya dan juga lengan wanita yang berada dalam pelukan nya.
"Pa! kita harus bagaimana?" tanya Rina sudah sangat khawatir.
"Papa juga tidak tau Ma!" jawab nya, seraya menepis tangan yang sedang menarik mereka.
"Lepaskan istri saya!" teriak Tn.Diwan dengan wajah merah padam.
"Pa! lepas!" Rina turut melawan, namun kekuasaan nya tidak sebanding dengan lelaki bertubuh tegap yang sedang menarik kasar lengan nya itu.
"Hahahaha, bawa mereka!" perintah seorang berkulit hitam dan kepala botak yang mungkin bos dari komplotan para penjahat itu.
"Lepaskan istri saya!" lagi-lagi Tn.Diwan mencoba melawan, namun sepersekian detik dia merasakan sesuatu menghantam tekuk belakang leher nya, hingga membuat nya samar-samar melihat dan mendengar sang istri yang terus menjerit memanggil dirinya. Dan akhirnya dunia terasa berputar dan semuanya menjadi gelap.
__ADS_1
"Lepaskan saya, kalian siapa, apa salah kami?" tanya Rina terus memberontak.
Dan diapun melebarkan matanya saat orang yang tidak mempunyai hati ini memukul sang suami hingga hilang kesadaran.
Bruk...
Rina menjerit histeris memanggil lelaki yang sangat dia cintai itu.
"Pa! Papa!" panggil Rina terus melawan hingga dirinya pun hilang kesadaran karna pukulan yang dia terima di belakang punggungnya.
Ketua dari mereka itu mengambil gawai yang berada di dalam saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Mereka sudah ada di tangan kami Tuan!" ujar ketua dari mereka.
"Bagus, bawa mereka!" tukas seseorang dari balik telpon.
"Baik Tuan!" sambung telpon pun terputus.
"Hahahahahah... sudah saat nya!"
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1