Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Davvien yang posesif


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Davvien yang melihat perubahan sikap sang istri, dia pun mengedarkan pandangannya mengikuti Vera.


Wajah Davvien seketika berubah menjadi dingin, sedingin gunung es yang berada di kutub Utara, wajah yang mula nya menggemaskan bagi Vera kini sudah berubah menjadi garang mengalahkan garangnya harimau yang sedang menatap mangsanya.


Davvien menggenggam erat tinjuan nya, sungguh hati dan pikiran nya menjadi panas menyaksikan pemandangan di hadapan nya, rasanya Davvien ingin mencongkel mata Riko karna melihat tak berkedip kepada istrinya itu.


Davvien merasa sakit di sudut hatinya karna melihat Vera yang sedang menatap mantan kekasih nya itu, apa lagi Vera tidak menghiraukan ucapan dirinya.


"Aku kira dia masih belum melupakan nya!" Davvien juga ikut membatin.


Kakek yang melihat aura dingin dari sang cucu hana mencoba diam, dia sudah paham jika Davvien sedang di bakar api cemburu.


"Hekhem...!!" Davvien berdehem membuat Vera langsung mengalihkan pandangannya.


"Apa kau sudah selesai bertatap-tatapan dengan mantan kekasihmu itu?" tanya Davvien dengan begitu dingin, dia pun melangkah dan meninggalkan Vera dengan rasa bersalahnya.


"Apa yang aku lakukan, dia pasti salah paham!" batin Vera diapun mengejar Davvien.


"Sayang...!"


Vera langsung mengikuti Davvien, dia sadar jika sang suami sedang marah kepada nya, mengerti dengan sikap posesif Davvien, Vera mengaku salah karna dia sempat tidak menghiraukan panggilan sang suami.


Davvien melangkah keluar dari keramaian, sungguh saat ini dia butuh sesuatu yang bisa di jadikan tempat amarah nya, biasa nya selalu Fero yang menjadi sasaran amukan nya, tapi tidak mungkin kali ini dia memberi hadiah bogem mentah untuk Fero.


Karna merasa sangat kesal Davvien meninju dinding yang berada di hadapannya, dia benar-benar sangat marah.


"Aku mengira selama ini hatimu sudah sepenuhnya untuk ku, tapi kenapa saat dia hadir kamu malah seperti itu, kamu bahkan menghiraukan aku yang berada di samping mu!" gumam Davvien sambil terus meninju dinding keras itu.


Greeb...


"Hentikan, jangan sakiti dirimu lagi... Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintai mu, hatiku memang sudah sepenuhnya untuk dirimu!" Vera yang melihat dan mendengar perkataan Davvien langsung memeluk nya dari belakang, saat ini Vera rela jika Davvien akan menyakiti dirinya.


Vera merasa begitu menyesal, tanpa sengaja dia telah melukai hati suami yang di cintai nya yang tidak pernah membuat nya bersedih dan selalu mengutamakan kebahagiaan nya.

__ADS_1


Davvien berhenti saat merasakan pelukan hangat dari sang istri, meski sedikit terhalang dengan perut Vera.


Davvien memejamkan matanya dan menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Apa kau sudah selesai menatapnya?" tanya Davvien lagi dengan suara dingin nya.


"Maafkan aku suami ku, aku bukan melihat karna masih ada rasa, tapi aku melihat nya merasa bahagia karna dia juga sudah mempunyai keluarga dan hidup baru... maafkan aku, jangan sakiti dirimu seperti ini!" ucap Vera mengatakan yang sebenarnya.


Tanpa terasa Vera menetes kan air mata, untung nya di sana tidak ada orang lain.


Davvien yang merasakan sang istri menangis, langsung membalikkan badannya dan melihat ke arah Vera


Davvien menghapus air mata di pipi Lisa, bagaimana mungkin dia rela melihat Vera menangis seperti itu.


"Ku mohon jangan menangis!" ujar Davvien dengan lembut.


"Dan ku mohon, jangan salah paham!" jawab Vera sambil memegang tangan Davvien yang sudah sedikit mengeluarkan darah, hatinya semakin sakit, Vera pun tambah menangis, merasa kasihan kepada sang suami.


Davvien langsung membawa Vera dalam pelukan nya.


"Maaf kan aku juga, karna sudah memarahi mu, harusnya aku tidak perlu marah seperti tadi"


Davvien pun mencium puncak kepala Vera.


"Kita masuk yuk, mempelai wanita nya sudah datang!" Davvien membawa Vera masuk ke dalam dan bergabung dengan keluarga mereka.


Davvien begitu posesif, dia bahkan tidak melepaskan tangan nya sedikit pun dari pinggang sang istri.


"Kamu dari mana Nak? Mama cari dari tadi!'' tanya mama Rina.


"Tadi ke sana sebentar Ma, apa Intan dan keluarga nya sudah datang Mah?"


"Itu, mereka baru saja sampai!" jawab mama Rina.

__ADS_1


Saat ini semua mata tertuju kepada mempelai wanita yang sedang memasuki aula acara pernikahan.


Ketiga pendamping Fero sudah mengantar kan dirinya ke meja ijab qobul, kini Intan juga di antar oleh ke dua sahabat nya untuk duduk di sebelah Fero.


Semua begitu takjub akan kecantikan Intan, Frans merasa mencoba tersenyum melihat Intan yang terlihat sangat sempurna.


Fero yang mengalihkan pandangannya nya kepada Intan pun terkesiap, dia begitu takjub dengan kecantikan wanita yang sebentar lagi akan dia nikahi.


"Dia sungguh cantik... rasanya aku adalah orang terbodoh karna dulu pernah mengatakan jika dia tidak menarik!" batin Fero saat melihat Intan semakin dekat dan sudah duduk di sebelah nya.


"Kamu sangat cantik sayang!" bisik Fero kepada Intan hingga membuat pipi Intan semakin merona.


"Fokus saja, nanti kamu tidak bisa menjawab akad nikahnya!" balas Intan juga berbisik pada Fero.


Papa Intan sebagai wali, juga sudah duduk di depan Fero untuk menikahkan putrinya dengan penghulu di samping nya.


Tn.Andre, Davvien dan Tn.Diwan mereka menjadi saksi, sedangkan para wanita duduk di belakang Fero dan Intan.


Acara pun di mulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, arahan tentang cara menjalani rumah tangga hingga acar akad pun di mulai.


"Siap Tuan, Nak Fero?" tanya pak penghulu.


Keduanya mengangguk dengan begitu yakin, Fero langsung menjabat tangan Papa Intan.


Dan dengan sekali tarikan nafas Fero mengucapkan ijab qabul yang akan menghalalkan dirinya bersama sang kekasih.


"Sah....!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2