Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Memaafkan.


__ADS_3

Hai, hai, hai.... Apa kabar ni Reader Mafia Karatan, masih setia nggak nih nungguin cerita yang lelet nya kayak siput, bikin bosan yang nunggu.


Author harap kalian masih sering jengukin Davvien ama Vera, meski cerita ini rada hancur, alurnya menonton dan juga typo yang bertebaran.


Aku akan usahakan untuk up yang banyak, tapi Reader udah banyak yang out, komentar hanya beberapa biji, kadang bikin semangat juga nurun.


Ayo yang udah pergi balik lagi, kita tamatin sama-sama kisah Mafia kejam yang menjadi bucin ini.


...🌷HAPPY READING🌷...


...----------------...


Hari ini ruangan tempat Davvien di rawat tampak penuh, semua ibuk-ibuk datang untuk membawa pulang Davvien setelah di nyatakan sembuh.


Semua keluarga berkumpul di sana termasuk mama dan papa Intan, Vera membereskan pakaian yang dia bawa ke rumah sakit selama suaminya di rawat, ke dua bayi gembul nya di ambil alih oleh nenek dan oma mereka.


Fero siap siaga membantu Davvien, namun papa dari bayi kembar itu hanya ingin di papah oleh sang istri tercinta.


Vera memberikan barang tersebut pada Fero, dan dia pun membantu suami bucin nya itu turun dan berjalan keluar.


"Sayang, apa kamu tidak bisa berjalan?" tanya Vera sembari meletakkan tangan kekar Davvien di kedua pundak nya.


"Nggak sayang, sakit!" rengek Davvien, Vera hanya mengangguk, mereka pun keluar dari dalam ruangan menuju mobil.


"Dasar bos lebay, yang kena tembak kan tangan bukan kaki nya, lagian biasanya kalau luka seperti itu sehari dua hari sudah sembuh, bilang saja ingin di manja oleh Vera. Dasar modus!" umpat Fero dalam hati, padahal tangan nya juga tidak lepas di pinggang Intan.


"Fero! jangan suka mengumpat ku di dalam hati!" hardik Davvien sambil terus berjalan.


Semua orang menatap ke arah Fero yang hanya berwajah datar termasuk sang istri yang berada dalam pelukan nya.


"Apa! kenapa dia tau kalau aku sedang mengatai dirinya. Apa setelah koma dia sudah bisa membaca isi pikiran orang lain!" lanjut Fero membatin.


"Sudah ku bilang jangan mengatai ku!" ulang Davvien lagi.


"Tidak Tuan!" jawab Fero sopan.


"Oke, harus diam!" sambung dalam hati nya lagi.


Sampai di parkiran, mereka langsung masuk ke dalam mobil, Vera dan Davvien duduk di belakang, sedangkan Fero dan juga Intan duduk di depan, sedangkan orang tua mereka menaiki mobil masing-masing.


Mobil pun melaju, hanya 30 menit mereka sudah sampai di kediaman Wilmar.


Setelah Fero menghentikan mobilnya, Vera membuka seatbelt lalu membuka pintu mobil ingin keluar.


Setelah dia keluar, Vera ingin mengitari mobil untuk membantu bayi besar nya turun, tapi naas malah dirinya yang kesandung dengan kaki kiri hingga membuat nya tersungkur ke depan.

__ADS_1


Davvien yang melihat nya pun buru-buru membuka pintu mobil lalu keluar, kemudian diapun langsung berlari mengitari mobil dan membantu sang istri untuk bangun.


Intan dan Fero juga ikut turun karna khawatir dengan Vera.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan? kenapa kamu tidur sini, kan kita sudah sampai di rumah!" ucap Davvien sambil membantu Vera untuk bangun.


"Siapa juga yang mau tidur di sini, hanya tidak sengaja kaki ku kesandung dengan kaki nya lagi!" timpal Vera menyangkal ucapan sang suami.


"Lalu kenapa kamu berlari, bukan nya kakimu masih sakit?" tanya Vera membuat Davvien melongo, sejurus kemudian ayah dari bayi ini langsung memasang wajah tercengir nya.


"Aku hanya khawatir padamu sayang, makanya rasa sakit di kaki ku hilang seketika!" jawab Davvien.


"Tukan, hanya modus!" Fero kembali membatin.


Vera hanya acuh, diapun kembali membantu Davvien untuk masuk ke dalam rumah.


Mobil yang membawa Ny.Andin dan juga Rina pun sampai.


Keempat orang tua Davvien dan Vera pun ikut masuk ke dalam.


Vera meletakkan Davvien dengan pelan pada sofa di ruang keluarga, kemudian dia mengambil Syakir dan Syakira untuk menidurkan keduanya di kamar mereka.


"Aku akan menidurkan si kembar dulu, aku akan kembali. Intan, bantuin aku bawa Syakir!" ajak Vera dia mengambil Syakira dalam gendongan sang mertua. Intan langsung bangkit dan turut mengambil Syakir dalam gendongan Rina.


"Tidur yang nyenyak ya cucu Nenek!" ucap Rina sambil mencium pipi gembul cucu pertama nya itu.


Lalu mereka pun melangkah masuk ke dalam lift setelah di angguki oleh bi Aini.


"Ma, Pa! Roy masih di markas saya, Irfan dan anak buah nya yang menjaga nya!" Davvien bersuara mulai membicarakan sesuatu yang serius.


"Kenapa kamu tidak langsung menyuruh Irfan untuk membunuh nya Vien?" tanya Tn.Andre.


"Yang bermasalah dengan dia adalah Papa, Mama dan juga Vera, jadi Davvien serahkan semuanya pada Mama dan Papa, Dad!" jawab Davvien, jika menyangkut hal seperti ini, Davvien memang lah sangat bijak.


"Terimakasih Nak, tapi mungkin kami akan melepaskan dan memaafkan dia!" ujar Tn.Diwan, dia tidak ingin menjadi orang yang pendendam, dia berfikir jika dia membunuh Roy, apa bedanya dia dengan kakak yang ternyata adalah kakak angkat nya itu.


"Tapi menurut ku, lebih baik Papa memikirkan nya lagi, toh dia juga bukan Kakak kandung Papa, lagian belum tentu dia bisa berubah!" jawab Davvien yang membuat Tn.Andre dan Ny.Andin terkejut.


Mereka memang belum mengetahui kebenaran nya.


"Jadi dia bukan Kakak kandung kamu Diwan?" tanya Tn.Andre.


Tn.Diwan menggeleng, dia juga sedikit terkejut karna Davvien mengetahui nya, sedangkan dia belum memberitahu kepada menantu nya itu. Tapi dia ingat lagi, siapa orang yang menjadi menantu nya itu.


"Dia Kakak angkat, karna Papa dulu memungut dirinya dari jalanan!" jawab Tn.Diwan.

__ADS_1


Tn.Andre menggeleng kepalanya "Pantesan sifat nya sangat jauh berbeda dengan mu!" tukas nya lagi. Para wanita hanya diam dan menyimak.


Bi Aini tiba dengan membawa nampan berisi kopi, teh dan beberapa cemilan lalu meletakkan pada meja sofa di depan mereka. Di susul Vera dan Intan yang sudah menidurkan si kembar.


"Bahas apaan ni, kok serius banget!" tanya Vera yang langsung duduk di dekat Davvien, sedangkan Intan tentu saja di dekat Fero.


"Sudah tidur mereka?" tanya Fero sambil tangan nya mengelus kepala Intan.


"Sudah husband!"


"Kami sedang membahas masalah Paman Roy sayang!" jawab Davvien.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan untuk pria itu?" tanya Vera lagi.


"Aku serahkan semuanya pada kalian, dan Papa bilang ingin memaafkan nya!" jawab Davvien.


"Iya Nak, tidak baik kalau kita menyimpan dendam, jika dia sudah salah, maka kita yang harus memaafkan nya!" imbun Tn.Diwan.


"Heum, kalau seperti itu Vera ikut saja Ma, Dad!" tukas Vera, baginya apapun keputusan kedua orang tuanya itulah yang terbaik.


"Baik, besok aku akan ke sana untuk melihat nya!" timpal Davvien lagi.


"Aku ikut!" pinta Vera.


"Tapi...!"


"Aku ikut pokok nya! lagian kamu juga belum pulih total, aku tidak ingin kamu kenapa-napa!" ucapan Davvien langsung terpotong oleh Vera.


Akhirnya Davvien mengangguk mengiyakan permintaan sang istri.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Like❤️


Komen❤️

__ADS_1


Vote❤️.


__ADS_2