Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Hadiah.


__ADS_3

Serangkai acara sudah selesai, para tamu undangan sudah meninggalkan tempat yang di adakan acara pernikahan Rani dan juga Riki, begitupun dengan keluarga Wilmar.


Saat ini hanya tinggal Riki dan Rani, mereka sudah masuk ke dalam kamar yang sudah di hiasi persis kamar pengantin di dalam hotel milik Wilmar group.


Riki sudah tidak sabar melihat hadiah yang di berikan sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan, Davvien.


Saat ini keuda mempelai sudah selesai mandi, Sambil menunggu sang istri mengeringkan rambut, Riki membuka paper bag yang berada di atas meja dalam kamar nya.


Saat melihat nya pun, Riki berbinar setelah tau hadiah yang di berikan Davvien adalah satu mobil sport keluaran terbaru lengkap dengan surat-surat kepemilikan atas nama nya.


Tapi, ada sesuatu yang mengganjal yaitu dua botol kecil seperti ramuan herbal, dia terus meneliti benda tersebut.


Rani sudah selesai mengeringkan rambutnya, kemudian dia melangkah mendekati sang suami.


"Sayang! sudah selesai?" tanya Riki langsung menduduki tubuh sang istri di atas pangkuan nya.


"He eum! apa itu?" tanya Rani yang juga penasaran.


"Ntah lah, ini ada dalam paper bag yang di berikan, Davvien! dan kamu tau sayang, dia memberikan kita hadiah sebua mobil sport keluaran terbaru!" jawab Riki menjelaskan.


"Hem ... kita harus berterima kasih pada nya!" tukas Rani, Riki pun mengangguk.


"Ini apa?" tanya Rani lagi menunjuk satu paper bag lagi.


"Bukalah!" ujar Riki menyuruh sang istri untuk membuka nya.


Rani langsung membuka, merekapun begitu senang karna mereka mendapatkan hadiah berupa dua tiket hanymoon yang tertera nama Fero dan Intan di sana.


Tapi anehnya, dalam paper bag tersebut juga ada dua botol seperti jamu di yang sama persis seperti dalam paper bag yang diberikan Davvien dan Vera.


"Sayang, kenapa mereka mengirimkan ini?" tanya Rani yang tidak paham dengan benda di tangan nya saat ini.


"Aku juga tidak tau, sayang!" sahut Riki juga tampak bingung.


Saat sedang memikirkan hal demikian, tiba-tiba notifikasi masuk ke dalam ponsel Riki yang berada di sampaikan. Diapun membuka dan melihat isi pesan yang ternyata dari para sahabatnya.


Davvien ✉️: "Minum lah ramuan yang aku kasih, agar kalian tidak mudah capek. Dulu aku juga memberikan ramuan itu untuk Fero"

__ADS_1


Fero ✉️: "Habis kan ramuan itu, di jamin kalian akan menghabiskan malam panjang ini dengan sangat indah, dulu aku juga di berikan oleh Davvien, dan aku membuktikan nya"


Aldi ✉️: "Bagaimana bro, apa sudah mulai ritual nya"


Riki terkekeh membaca pesan dari para sahabatnya itu, diapun mengambil satu botol dalam paper bag yang di berikan Davvien.


"Ya sudah, kamu minum satu aku minum satau, ya! mungkin saja ini obat anti lelah untuk kita berdua!" lanjut Riki, diapun langsung meneguk ramuan tersebut.


Rani yang melihat nya sempat ragu, diapun mencium bau ramuan tersebut.


"Ayo sayang, kamu juga minum!" ujar Riki lagi menyuruh sang istri untuk ikut meminum.


Rani menurut, tangan nya sebelah menutup hidungnya dan sebelah lagi memegang botol kecil tersebut.


Baru lima menit mereka meminum nya, keduanya langsung merasakan gejolak dalam diri masing-masing sangat bergelora, hawa panas pun kini hinggap pada tubuh keduanya.


Padahal Riki ingin memulai dengan lembut dan perlahan, tapi karna rasa keduanya sudah tidak bisa tertahan kan, akhirnya Riki langsung pada intinya tanpa pemanasan.


Dan nasib Rani pun sama seperti Intan waktu hanymoon dulu, sama-sama harus memenuhi hasrat menjelang subuh.


Riki mengutuki kebodohan nya, karna dengan mudah nya percaya dengan apa yang di katakan ke dua sahabat licik nya itu, hingga gara-gara itu dia membuat istri tercintanya itu kelelahan.


Bukan nya merasa bersalah, keduanya malah membalas dengan kata selamat.


...----------------...


Satu Minggu berlalu sejak pernikahan Riki dan Rani, saat ini ke duanya masih menikmati masa hanymoon mereka.


Di sebuah rumah, Intan dan Fero sedang berdiri di tengah ruangan yang tampak begitu indah dan mewah.


Rumah yang begitu elegan, dengan corak warna gold di setiap ruangan, dipadukan dengan warna putih begitu terlihat indah.


"Bagaimana, kamu suka dengan rumahnya, Fero?" tanya Davvien yang kini sudah berdiri di belakang Fero dan Intan, tentu saja Vera juga ikut.


"Sangat! rumah ini terlalu indah dan besar untuk kami tempati!" jawab Feri dengan rasa kekaguman nya.


Begitupun, Intan. Dia menatap takjub setiap ruangan dalam rumah baru mereka yang di berikan oleh Davvien dan Vera.

__ADS_1


"Kamu tidak harus melakukan ini, Vien! aku sanggup membelikan rumah untuk istri ku, walaupun tidak akan sebagus ini!" tukas Fero, dia tentu merasa tidak enak di berikan rumah dengan harga yang sangat fantastis.


"Aku tau kamu sekarang memang sudah mempunyai banyak uang, tapi ini hadiah dari kami berdua, karna kalian kekeh ingin pindah dari mansion kami, jadi aku sengaja membelikan rumah ini yang dekat dengan rumah kita!" timpal Davvien, tangan nya tidak pernah lepas dari pinggang sang istri.


"Iya, Vien! bukan aku tidak menghargai permintaan mu untuk tinggal di rumah mu, hanya saja kami ingin cari pengalaman, dan ingin membangun keluarga kecil!" imbuh Fero merasa tidak enak.


Karna beberapa hari lalu Feri bersikeras meminta untuk pindah dari rumah Davvien, bukan tidak betah, hanya saja dia juga ingin membentuk keluarga kecil bersama sang istri dan anak nya kelak.


"Tidak masalah! aku juga mengerti, jadi kami harap, kalian mau menerima hadiah ini!" sergah Davvien, wajah nya tentu saja masih sangat datar.


"Iya, Kak! lagian Kakak kan juga harus mempersiapkan kelahiran anak kalian!" timpal Vera juga ikut membantu.


"Hem ... baiklah! Sekali lagi terimakasih!" ucap Fero.


"Terimakasih, Tuan, Vera. Kalian terlalu baik!" imbuh Intan, dia langsung memeluk sahabatnya itu.


Vera mengangguk sembari tersenyum "Semoga kalian betah ya, dan jangan sungkan untuk datang ke rumah!" celetuk Vera, keduanya pun melepaskan pelukan nya.


"Kalau begitu kami pulang, sayang ayo! bukan kah masa puasa ku sudah habis. Sekarang kamu harus mengganti nya dengan memberikan hak dua kali lipat dari biasanya!" tukas Davvien begitu cempreng di depan Intan dan Fero.


Refleks Vera langsung memukul punggung nya "Apa kamu sudah tidak punya malu lagi, hah!" hardik Vera merasa kesal, wajah nya sudah memerah karna Fero dan Intan menertawakan dirinya.


"Ha ha ha ... tidak apa-apa, Ra! kami paham kok!" ledek Intan yang semakin membuat Vera malu.


Alhasil, Vera langsung menarik tangan Davvien keluar dari rumah Ingan dan Fero.


Dan seperti yang di katakan Davvien, mereka bertarung di atas ranjang dengan berbagai macam gaya, tidak menunggu malam, juga tidak di ganggu oleh si kembar, Davvien sungguh menuntaskan apa yang selama ini dia tahan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2