Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Sakit jantung


__ADS_3

Intan dan Vera sama sama membeku, mereka terdiam berlarut dalam pikiran masing-masing.


"Ya sudah, kaka pulang dulu"


Ucap Fero tanpa menghiraukan tatapan Intan yang memperlihatkan keterkejutan nya.


Vera pun sadar, dia langsung menahan Fero.


"Eh kak, jangan pulang dulu, kami sudah masak banyak ayo makan dulu"


"Tapi...."


"Tidak ada bantahan ayo, Intan ayo kita masuk"


Dengan terpaksa Fero pun masuk ke dalam rumah.


"Kalian tunggu di sini aku akan panggil kan Tuan Davvien"


Vera pun melangkah meninggalkan Intan dan Fero, Fero pun pergi ke kamar yang dulu dia tempati.


Intan kembali merasa tegang, dia benar benar gugup


"Duhhh bagaimana ini, masak gw makan malam nya ada tuan sombong juga, kan gw gerogi walaupun dia nggak melihat gw"


Gumam Intan , dia hanya tinggal seorang diri di sana.


Tak berapa lama terdengar suara pijakan kaki menuruni tangga.


"Eh Tan, sorry ya gw lama, nyiapin keperluan tuh orang lagi"


"Cieeee jadi istri yang baik ni ya"


Goda Intan, dan Vera langsung cemberut, bagaimana tidak Davvien bahkan tidak pernah menghargainya.


"Udah yok, kita ke meja makan"


Saat mereka melangkah Fero pun turun dan di susul oleh Davvien.


Di meja makan tampak mereka menikmati makan malam mereka dengan keadaan hening, tidak ada yang memulai bicara, semua kalut dengan pemikiran masing masing, Vera bingung cara berterima kasih sedangkan Intan gerogi tanpa sebab, dia gerogi seolah Fero selalu melihat ke arah nya, padahal Fero melirik Intan pun tidak.


Makan malam pun selesai, Intan langsung berpamitan pada Vera untuk pulang.


"Kak, kak Fero anterin Intan ya, aku takut dia kenapa napa" pinta Vera pada Fero.


"Eh tidak Ver, aku bisa sendiri kok"


"Udah nggak usah nolak, kakak mau kan"


Fero hanya diam, dia sebenarnya keberatan cuman karna mengingat Vera yang keras kepala bila dia menolak tetap saja Vera akan memaksanya.


"Eh Ra nggak usah, aku beneran nggak apa apa, lagian kalau aku satu mobil dengan tuan ini yang takut nya ada apa apa"


Dengan menahan malu Intan berkata seperti itu, Fero membulatkan mata mendengar perkataan Intan.


"Apa apanya, memang aku akan apa" Batin Fero.


"Eh nggak Tan, loe kan punya mobil sendiri, gw tuh nyuruh kak Fero ngikut loe di belakang sampek loe beneran aman sampai di rumah"


Jelas Vera, dan Intan benar benar merasa malu, dia kelihatan seperti berharap akan satu mobil dengan Fero.


"Oeh.....Heheh, tapi nggak usah juga Ra nanti saya malah merepotkan Tuan Fero"


"Udah loe nurut aja, ya sudah pulang sana nanti Tante malah khawatir sama anak satu-satunya ini"


Goda Vera, Intan tersenyum dan Fero pun tetap diam.


"Heumm ya sudah, sampai jumpa besok Ra"


" Heumm oke by..."


Intan Dan Fero pun berlalu, Vera masuk dan menutup pintu, Dia kembali berfikir.


"Apa aku harus berterima kasih"


Gumamnya sambil berjalan menaiki tangga.


"Tapi rasanya sangat tidak sopan setelah orang baik pada kita dan kita tidak berterima kasih"


Dan Vera pun berencana berterimakasih pada Davvien, dia mengetuk pintu kamar Davvien.


Tok..tok..tok..


"Masuk"


Vera melangkah masuk saat mendengar izin dari pemilik kamar.


"Ada apa, apa kau merindukanku?


Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Davvien, dia sedang duduk di sofa mengotak-atik ponsel nya, tanpa melihat ke arah Vera.


"Eh itu tuan, saya hanya berterima kasih pada tuan karna telah membeli kan mobil dan mecari supir dan juga membelikan saya ponsel baru"


"Jangan ke GRan kamu, saya melakukan itu semua karna saya tidak ingin di sebut orang yang pelit"


"Iya kan saya cuman berterimakasih tuan, bukan berarti saya GR"


Mendengar jawaban Vera Davvien langsung mengalihkan pandangannya pada Vera berencana memarahi Vera, tapi Davvien tidak jadi memarahi Vera saat melihat senyuman manis di bibir Vera.


Rasa kesalnya langsung berubah menjadi gugup.

__ADS_1


Dengan debaran jantung kembali tak karuan, Davvien berusaha bersikap biasa saja agar dia tidak terlihat gugup di depan Vera.


"Sudah kan, sekarang keluar dari kamar ku"


Ucap Davvien, dan Vera pun langsung keluar yang jelas dia sudah lega karena telah berhasil dengan tujuan nya, meski tidak di tanggapin dengan baik.


Sedangkan Davvien masih dalam mode menenangkan jantung nya yang masih berdetak kencang.


"Ada apa dengan ku"


Ucap Davvien memegang jantung nya.


"Seperti nya aku kelelahan, aku harus istirahat"


Lanjut nya lagi, masih memegang jantung nya.


"Ya benar aku harus istirahat untuk beberapa hari"


Dan dia pun merebahkan tubuhnya di ranjang king size nya berusaha terlelap ke dalam mimpinya.


...----------------...


Malam berlalu, memberi kesempatan mentari untuk menunjukkan sinarnya di pagi hari.


Seperti biasa, sekarang Vera telah melakukan semuanya dari memasak, mengurus keperluan Davvien, dan saat ini dia sedang menunggu Davvien di meja makan.


Sudah 20 menit Vera menunggu Davvien tapi yang di tunggu malah tak kunjung datang, dia pun beranjak pergi, toh biasanya juga begitu dia pergi lebih awal dari Davvien.


Vera langsung melangkah keluar dan memasuki mobil yang sudah di tunggu pak Toni.


"Ayok pak"


Mereka pun berangkat, membelah jalan raya bergabung dengan pengendara lainnya.


...----------------...


Sedangkan di rumah, Davvien yang berencana mengistirahatkan dirinya karna jantung nya selalu saja berdetak kencang akhir akhir ini, Davvien beranggapan kalau dia terlalu capek, diapun menelpon Fero.


"Fero, kau tidak usah menjemput ku dan kau urus urusan kantor untuk beberapa hari kau bisa kirim data data penting pada email ku"


"Memang nya kenapa, kenapa tiba tiba"


"Aku butuh istirahat jantung ku seperti nya bermasalah"


"Apa, aku panggil kan dokter aku akan kesana, kau dengan siapa disana"


Fero langsung panik.


"Tidak perlu aku hanya ingin istirahat ya aku sendiri lah"


Davvien langsung mematikan sambungan nya.


Saat tau Davvien memutuskan panggilan, Fero yang sudah panik pun mencari kontak seseorang.


"Ini gawat, tidak bisa di biarkan dia selalu begitu kalau sakit tidak pernah mau berurusan dengan dokter, kalau sakitnya biasa saja oke lah tapi ini sudah berhubungan dengan jantung"


Gerutu Fero sambil terus mencari kontak seseorang saat di dapat dia langsung menghubungi orang tersebut.


Sambungan nya pun tersambung.


"Halo Ra, kamu dimana?"


"Aku di jalan kak, mau ke kampus"


"Kamu pulang sekarang ya"


"Loh emang nya kenapa kak?"


"Pulang terus Vera, Davvien sakit jantung aku takut dia kenapa napa aku juga akan ke sana"


"Apa. dia sakit jantung, kita bawa ke rumah sakit saja kak"


Vera yang mendengar Davvien sakit jantung pun langsung panik.


"Dia tidak akan mau ke rumah sakit"


"Atau kakak panggil dokter saja untuk ke rumah"


"Tapi dia juga tidak mengizinkan aku memanggil dokter"


"Udah jangan dengarkan dia, kakak telpon dokter aku akan pulang sekarang"


"Baik"


Sambungan pun terputus, Vera begitu panik dia buru buru meminta pak Toni buat putar balik.


Dalam perjalan pulang Vera selalu berdoa supaya suaminya baik baik saja.


"Ya Allah hamba memang belum bisa mencintai suami hamba, tapi hamba juga belum siap menjadi janda" Batin Vera


Saat mobil sampai di halaman rumah, Vera langsung bergegas keluar dan masuk ke dalam rumah, dia langsung berlari pada arah tangga dan menaiki nya dengan cara berlari.


Saat sampai di dalam kamar Davvien Vera sempat kebingungan karna di lihat nya kamar itu kosong.


"Kemana dia, di kamar mandi juga tidak ada"


Vera pun teringat satu tempat, dia pun berlari menuju ke sana.


Brakkkkkk

__ADS_1


Dan benar saja, dia melihat Davvien sedang duduk di kursi yang ada meja persegi empat di depan nya,di mana lagi kalau bukan di ruangan kerja.


Sedangkan Davvien yang terkejut karna tiba tiba pintu ruangan terbuka pun sontak dia memegangi dadanya, dia sedang menunggu data yang belum masuk satupun pada email nya.


Vera melihat Davvien memegang dada pikiran buruk kembali berputar di otak nya.


"Benar, dia sakit jantung bukti nya dia memegangi dadanya, tapi kenapa dia di ruangan kerja?"


Batin Vera. dia mendekati Davvien, langsung di raihnya tangan Davvien.


"Apa sakit nya parah, ayo kekamar kenapa kau malah disini apa kau tidak perduli dengan dirimu sendiri sehingga meski sudah sakit kau tetap bekerja, aku tidak ingin menjadi janda secepat ini karna kau tidak memikirkan kesehatan mu"


Omel Vera pada Davvien panjang lebar, sambil terus menarik tangan Davvien masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Davvien yang melihat tingkah Vera dan mendengar ucapan Vera mengernyitkan dahi, dia bingung kenapa Vera bicara seperti itu, dan Vera membawa nya ke dalam kamar.


"Heh, gadis gila ada apa dengan kau ini hah, kenapa kau bawakan aku ke dalam kamar, dan berani beraninya kau memegang tangan ku"


Saat sampai di dalam kamar Davvien baru sempat protes.


"Shuuuuuttt udah diam, kenapa setiap sakit kau selalu banyak bicara tuan"


"Hey siapa yang sakit hah?"


"Udah udah, tenang ya dokter sedang menuju kemari"


Ucap Vera yang tak menghiraukan Davvien, Vera sudah hafal dengan sikap Davvien dia akan bersikap arogan kalau sudah sakit pikir Vera.


Tanpa merasa takut Vera malah mendudukkan Davvien di tempat tidur dan langsung membaringkan tubuh Davvien.


Davvien hendak bangun dan melawan


"Hey apa apaan kau gadis gila, siapa yang sakit hah kau tak lihat aku sehat"


Bentak Davvien, dan Vera seperti suah tuli, dia tidak perduli dengan amarah Davvien yang terpenting Davvien bisa sembuh pikirnya.


"Udah tuan tenang saja dulu, saya tau tuan takut menghadapi ini semua tapi kita harus tau penyakit yang anda alami, walaupun nanti hasilnya akan menyakitkan tapi setidaknya kita bisa berusaha untuk sembuh, memang nya Tuan mau merasakan sakit seperti ini setiap saat?"


Tanya Vera yang membuat Davvien tambah bingung, saat hendak berdiri lagi, tiba tiba pintu kamar di ketuk.


"Masuk saja, tidak di kunci"


Teriak Vera yang lagi susah menahan Davvien agar tidak bangun.


Saat pintu terbuka terlihat masuk dua orang laki laki yang satu memakai pakaian dinas berwarna putih dengan tas di tangannya yang sudah pasti itu adalah dokter.


Sedangkan satu lagi kalian bisa tebak sendiri siapa, ya dia adalah Fero.


"Dokter, syukur lah anda sudah datang, tolong periksa suami saya dok"


Ucap Vera yang masih kesusahan menahan Davvien.


Dokter yang melihat Davvien pun nampak berfikir, dia pun mendekati Davvien.


"Ada keluhan apa Tuan"


Tanya Dokter pada Davvien yang terus saja berusaha bangun.


"Hendri, jangan menyentuh ku, atau aku tendang kau tidak hanya di sini aku juga akan menendang mu dari rumah sakit"


Ancam Davvien, Dokter Hendri menjadi takut mendengar ancaman Davvien.


"Dokter jangan dengarkan dia, dia memang suka ngawur kalau lagi sakit"


Ucap Vera lagi, dia terus berusaha menahan Davvien, Fero yang melihat Vera kesusahan pun ikut membantu Vera.


"Apa yang anda rasakan tuan?"


Tanya dokter Hendri lagi,,,,


"Kan sudah aku katakan tadi dia sakit jantung, obati saja dia"


Bentak Fero, dan itu sukses membuat Davvien terdiam dan membulatkan matanya.


Davvien baru sadar, perkataan saat mengatakan jantung nye bermasalah pada Fero ternyata di anggap serius.


"Apa kau bilang Fero aku sakit jantung kau menyumpahiku" bentak Davvien


"Ta tapi.."


Belum sempat Fero mengatakan Davvien sudah memotong nya.


"Aku tidak sakit apa kau tau hah, sekarang lepaskan aku." teriak Davvien lagi.


Suara Davvien menggema di dalam ruangan, keadaan terasa mencekam saat melihat raut wajah Davvien yang berubah bagikan singa sedang kelaparan.


~Bersambung


Jangan lupa ya tinggalkan jejak.


Maaf juga kalau masih banyak teypo yang salah.


LIKE


KOMEN


VOTE


😘😘

__ADS_1


__ADS_2