Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Terluka.


__ADS_3

"Brakkkkkkk"


"Aaaaaaaa"


"Vera......"


Di tempat terjadinya kecelakaan, terlihat sudah sangat ramai, darah bersimbah di jalanan, orang hanya melihat tanpa niat membantu.


Davvien langsung memangku kepala sang istri yang mengeluarkan darah.


"Sayang, bangun lah, kamu harus bertahan"


Ucap Davvien seraya menepuk-nepuk pipi sang istri, Vera sayup-sayup mendengar suara Davvien yang sedang memanggil nya.


Vera membuka matanya, lalu dengan tangan yang penuh darah yang keluar dari kepala nya, Vera memegang pipi Davvien.


"Sa-sayang, maaf kan aku"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Vera langsung memejamkan mata Davvien menggeleng kepala sambil terus memanggil nama istrinya, Davvien menangis tanpa rasa malu di hadapan semua orang.


Davvien langsung mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam mobil, dia membawa Vera menuju ke rumah sakit, Frans yang melihat itu pun ikut meneteskan air mata, dia sungguh tidak tega melihat sang adik yang terluka seperti itu, tanpa berpikir panjang, Frans langsung mengikuti mobil Davvien, menyusul nya ke rumah sakit.


Sedangkan Fero dan beberapa anak buah mereka langsung mengangkat tubuh pak Toni yang sudah tidak berbentuk lagi.


Dan sebagian anak buah Davvien langsung mengejar mobil yang menabrak pak Toni.


Sebelum kejadian.....


Davvien merasa dirinya semakin tidak tenang, rasa khawatirnya sudah membuat nya gusar, sebisa mungkin menepis rasa kekhawatiran nya terhadap Vera, namun perasaan nya tetap tidak tenang, Davvien bangun, dia langsung melangkah.


"Fero ayo kiya ke tempat istriku, aku merasa tidak tenang"


Tanpa membantah, Fero langsung mengikuti Davvien, saat di luar kantor, Davvien masuk ke dalam mobil lalu mereka berlalu meninggalkan kantor untuk bisa sampai pada sang istri, bersamaan dengan Frans yang juga sudah sampai di kantor Davvien, tapi saat dia hendak turun, Frans melihat Davvien dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil.


Akhirnya Frans memutuskan untuk mengikuti Davvien.


Davvien berhenti di sebuah Cafe, bertepatan dengan mobil yang menabrak pak Toni.


Saat pak Toni melihat mobil sudah dekat dengan mereka, dan sudah tidak ada cara untuk mengelak dari mobil tersebut, tanpa berfikir Pak Toni langsung mendorong tubuh Vera, hingga kepala Vera terbentur pembatas jalan dengan sangat keras, sedangkan pak Toni tertabrak oleh mobil hitam tersebut.


Para pengawal berlari juga ingin menyelamatkan Vera, namun mereka terlambat, karna mobil yang melaju begitu kencang datang dengan tiba-tiba tanpa diduga.


Vera luka di bagian kepala, sedangkan keadaan pak Toni yang terkena tabrakan sudah tidak berbentuk, wajah dan badan nya sudah di penuhi darah.


Dug,,,dug,,,dug,,,dug,,,

__ADS_1


Davvien yang melihat sang istri terpental di aspal begitu syok, debaran jantung nya berdetak tidak karuan, untuk sesaat Davvien terdiam, hati nya sakit bagai di iris, badan nya terasa memelah, lutut dan kakinya serasa tidak mampu menopang tubuh nya.


"Vera...."


Davvien langsung berlari pada Vera, dia langsung memangku sang istri.


Frans yang mengikuti mobil Davvien juga tidak percaya dengan apa yang dilihat nya, baru tadi dia merasa bahagia karna keluarga nya kembali utuh, tapi sekarang dia malah melihat adik yang sedang mengandung mengalami kecelakaan.


Dia juga ingin berlari menghampiri Vera, namun Davvien terlebih dahulu membopong tubuh Vera masuk ke dalam mobil.


Davvien sudah sampai pada rumah sakit, dia menggendong Vera sambil berteriak memanggil suster ataupun dokter agar istrinya bisa segera di tangani.


"Dokter, cepat obati istri ku"


Seisi rumah sakit langsung merasa tegang melihat pemilik saham terbesar rumah sakit tersebut begitu menyedihkan.


Dr.Hendri datang dengan membawa Brangkal, Davvien meletakkan tubuh Vera di sana, langsung saja mereka mendorong Brangkal tersebut.


"Sayang, kamu wanita yang kuat, kamu harus bertahan ingat anak kita, jangan tinggalkan aku, kamu sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku, aku mohon"


Davvien terus mencium tangan Vera meski di penuhi darah, dia benar-benar takut jika sang istri meninggal kan dirinya.


Para suster yang ikut mendorong Vera terperangah melihat Davvien menangis dan memohon pada istrinya, mereka merasa jika yang mereka lihat itu bukan Davvien Wilmar anti perempuan.


Vera langsung di masukkan ke dalam ruang operasi.


Ucap Dokter Hendri mencegah Davvien masuk.


"Kenapa kau melarang ku masuk hah, dia istri ku dia memerlukan aku"


Teriak Davvien langsung memegang kerah baju Dokter Hendri.


"Maaf tuan, memang begini aturan nya, anda tunggu di luar tuan, biarkan kami yang menangani nona"


Jawab Dokter Hendri pasrah menerima perlakuan Davvien, tanpa perlawanan.


"Kamu harus selamat kan dia dan juga anak ku Hendri, bangun kan dia"


"Baik, berdoa lah atas keselamatan anak dan juga istri mu"


Setelah Davvien melepaskan kerah bajunya, Dokter Hendri langsung masuk, dia pun mulai menjalan kan tugas nya sebagai Dokter.


Sedangkan Frans yang juga sudah sampai, dia melangkah dengan cepat mencari ruangan adiknya.


Tiba-tiba ponsel milik Frans berdering.

__ADS_1


"Nak kamu di mana, apa benar yang di katakan asisten mu kalau Vera..."


"Benar pa... Vera kecelakaan, sekarang dia sedang berada di rumah sakit kemala"


"Astaghfirullah, Papa segera kesana nak"


"Iya pa"


Suara Frans terdengar begitu lirih, dia sudah tidak punya tenaga saat mengingat kejadian menimpa sang adik tepat di hadapan nya, dan dia tidak bisa melakukan apapun.


Saat berusaha melangkah, tiba-tiba ponsel milik Frans kembali berdering.


"Ya Halo ma"


Dengan bersusah payah Frans membuat suaranya agar tidak terdengar serak.


"Kamu di mana nak, sudah sampai sama adik mu, coba perlihatkan dia nak, mama sudah sangat rindu pada adik mu itu, Mama juga memiliki firasat yang buruk, tadi foto adik mu waktu kecil terjatuh dan bingkai nya hancur"


"E e Frans belum bertemu sama adek ma, Frans tidak langsung menemui nya, sbentar lagi mungkin ma"


Sebisa mungkin Frans mencoba menutupi suara nya yang bergetar, Frans tidak ingin Mama nya sampai syok mendengar kabar darinya.


Namun naluri seorang ibu tidak bisa di bohongi, dia merasa jika anak lelakinya sedang berbohong.


"Frans, katakan pada Mama apa yang terjadi, di mana adek mu itu, kau tidak bisa membohongi mama nak"


"Hiks,,,,hiks,,,hiks,,, Kia Ma, Kia kecelakaan, dan Frans tidak sempat menolong nya"


Tangisan Frans akhirnya pecah, karna dia memang tidak pandai berbohong, terutama pada ibu nya.


"Apa,,,?"


Brakkkkkk


Suara handphone Rani yang terjatuh dari seberang sana mendengar pengakuan sang putra.


Air mata langsung menetes, tubuh nya bergetar, Rani begitu syok mendengar jika anak bungsu nya mengalami kecelakaan, apa lagi dia sedang berbadan dua.


~Bersambung


Maaf ya segini dulu, udah nggak sanggup untuk melek, tetap dukung cerita nya kakak ya.


Like, komentar, dan juga Vote di tinggal di aini ya kakak.


Oh ya, aku mau promoin novel yang sangat menarik untuk kalian baca, sambil menunggu novel ku up lagi.

__ADS_1



__ADS_2