Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Pergi bersama sang Kakak.


__ADS_3

...Nafsu dan obsesi, jika kita menuruti keduanya, hasil yang akan kita tuai adalah penyesalan....


...----------------...


Vera sedang berbaring di atas pangkuan sang mama pada sofa di ruangan keluarga.


Mama Rina dengan penuh sayang mengelus kepala Vera, hingga langkah kaki seorang mengalihkan pandangan mama Rina.


Orang itu yang tak lain adalah Tn.Diwan dan Frans langsung bergabung bersama Vera dan mam Rina.


"Kamu sudah mau punya anak dek, jadi jangan manja lagi dengan Mama!" ledek Frans sambil menarik hidung Vera.


"Ih Kakak apaan sih, suka-suka aku dong, kakak iri ya, berbaring saja di atas pangkuan Daddy, kan Kakak anak cowok, jadi harus sama cowok!'' jawab Vera dengan ketus.


Tn.Diwan yang sedang meminum kopinya langsung tersedak mendengar penuturan sang putri, begitu pun dengan Frans.


"Jadi udah ada Mama, Daddy nggak di perlukan lagi ni!" ujar Tn.Diwan dengan mimik wajah sedih.


"Yang benar saja, masak anak lelaki maco dan cool ini masih manja di pangkuan Daddy!" batin Frans, membayangkan saja dia merasa malu.


"Bukan Dad, maksud Vera tuh biar adil!"


"Sudah, daripada berdebat gimana kalau kita jalan-jalan dek, mumpung suami posesif mu lagi tidak ada di sini!" celetuk Frans mengalihkan pembicaraan.


"Kak, dia tu suami Vera jadi jangan katain dia di depan Vera!" sungguh Vera tidak rela jika my husband nya di katain orang, justru karna kebucinan Davvien lah Vera jadi meleleh.


"Iya iya, tapi kamu mau nggak?" tanya Frans lagi. Dalam hati Frans menjerit.


"Bahkan adikku pun ikutan bucin!"


"Kemana kak?" tanya Vera yang sudah bangun dari pangkuan mama nya itu.


"Kita makan saja, kan kamu belum pernah pergi keluar makan dengan Kakak!"usul Frans.


Vera memikirkan sejenak, dan dia pun setuju.


"Boleh kak, tapi aku beritahu mas Davvien dulu ya!"

__ADS_1


"Heummm!!!" Frans bangun untuk bersiap-siap, sedangkan Vera langsung menghubungi Davvien.


"Halo sayang!" ucap Davvien di seberang saat panggilan nya terhubung.


"Halo, sayang aku mau minta izin!" ungkap Vera dengan ragu, takut Davvien tidak memberikan izin.


"Izin untuk apa sayang?" tanya Davvien.


"E Kakak mengajak ku untuk keluar sebentar, katanya ke restoran untuk makan, karna kami kan belum pernah pergi bersama!" jelas Vera.


Davvien diam, tidak menjawab ucapan Vera.


"Sayang! kenapa diam, apa aku tidak boleh pergi?" tanya Vera lagi.


"Pergilah, tapi jangan lama-lama, dua jam lagi aku akan pulang!"


"Beneran sayang, makasih ya! aku mencintaimu!" Vera langsung kegirangan saat Davvien mengizinkan dirinya untuk keluar bersama sang kakak.


"Aku kira akan susah membujuk nya!" gumam Vera sambil tersenyum, dia pun menghampiri sang kakak.


...----------------...


Setelah mendapatkan telpon dari sang istri, Davvien sebenarnya tidak tenang membiarkan Vera keluar, namun dia tidak ingin egois, lagian ada Frans bukan, dia pasti akan menjaga Vera. Pikir Davvien.


"Ikuti istriku dan Kakak nya, dan ingat! jangan sampai mereka tau, satu lagi, jangan sampai kalian lalai, jika ada sesuatu yang membahayakan keduanya kalian harus tepat waktu menolong istri dan anak ku, dan juga kakak ipar ku!" ujar Davvien memberi perintah.


Anak buah Irfan yang di perintahkan Davvien pun langsung mengangguk dan keluar dari markas memasuki mobil mereka.


Sedangkan Al terus memohon ampun kepada Davvien.


"Tuan, saya minta maaf!" pinta Al kepada Davvien.


Davvien menoleh ke asal suara setelah menyuruh anak buahnya untuk menjaga sang istri.


"Maaf, bahkan karna ulah mu, hampir membahayakan kedua bayiku!" hardik Davvien dengan mata menelisik tajam ke arah Al.


Dor...dor....

__ADS_1


"Ahhhkkkkk"


Dua peluru tembus di kedua kaki Al, Davvien tidak sampai membunuh lelaki yang sudah mempunyai anak tersebut, karna dia memikirkan bagaimana nasib anak-anak Al jika dia sudah tiada.


Davvien hanya memberikan pelajaran kecil untuk orang yang sudah berani macam-macam dengan dirinya.


Belajar dari sang istri untuk bisa memaafkan orang lain di saat mereka kadang punya kesalahan, menjadi kan kepribadian Davvien lebih baik lagi.


"Dengar Tuan Al, ini hanya peringatan untuk mu, jika kamu berani macam-macam lagi, maka peluru ini bukan menembus kaki mu, tapi!" Davvien langsung mengarahkan pistolnya ke kepala Al.


"Coba lah menjadi lelaki baik, bertanggung jawab dan setia kepada istri mu, ingat anak-anak mu yang juga membutuhkan kasih sayang dan waktu dari ayah nya!" ucapan Davvien bagaikan tamparan keras untuk Al, karna selama ini dia tidak pernah ada waktu bersama istri dan kedua anaknya.


"Bawa dia!" Saat menerima perintah, anak buah Irfan langsung membawa  Al keluar dari ruangan tersebut, dia pun langsung di tangani oleh seseorang yang memang sudah ahli bedah dan mengeluarkan peluru dari kaki Al.


...----------------...


Davvien menyerah kan semua nya kepada Irfan, sedangkan dirinya, tanpa merasa lelah dia terus pulang ke rumah mertuanya untuk menjemput sang istri.


Satu jam lebih, Davvien akhirnya sampai di rumah mertuanya.


Lelaki berkulit putih ini pun turun dari dalam mobil dan mendekati pintu.


Namun, belum juga tangan nya mengetuk daun pintu yang berwarna putih, salah satu mobil juga baru masuk ke halaman rumah mertuanya.


"Sayang!!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung.


__ADS_2