Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Siang yang panas.


__ADS_3

Dug,,dug,,dug,,dug,,,


Irama jantung Intan, meski sakit mendengar kata kata dari Fero namun jantung Intan tetap heboh saat tatapan mereka bertemu, tak berselang lama dia langsung membuang wajah nya lagi.


Tidak ada pembicaraan lagi, keduanya sama sama larut dalam pikiran masing-masing.


Mobil pun sampai di kediaman Davvien, Fero melihat mobil yang dia kenali juga berada di sana.


"Mommy juga kesini" Gumam Fero yang langsung melangkah setelah keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Intan.


Fero masuk, benar dugaan nya kalau wanita yang sudah tidak muda lagi yang sudah dia anggap seperti Mommy nya sendiri berada disana, dia melihat kalau Ny.Andin sedang duduk di sofa bersama dengan menantu nya.


"Mommy, kapan tiba kenapa tidak menyuruh ku saja untuk menjemput Mommy" Fero langsung duduk di dekat Ny.Andin.


"Kalau masuk itu ucapin salam dulu, Mommy baru sampai, kan kamu jemput sahabatnya Vera" Tegur Ny.Andin pada Fero, sedangkan Fero hanya tercengir.


"Oh ya mana dia Kak?" Baru Vera bertanya Intan sudah nongol dari pintu.


"Assalamualaikum" Ucap lembut Intan, ketiga orang yang duduk di sana langsung melihat ke arah pintu.


"Waalaikum salam" Jawab Ny.Andin dan Vera, Fero hanya cuek.


"Ayo kesini nak" Intan pun melangkah dengan ragu, dia menyalami tangan Ny.Andin lalu duduk di samping Vera.


"Mom, dimana Davvien?"


"Dia sedang di ruang kerja"


"Baik lah aku ke sana dulu ya" Fero bangkit langsung menaiki tangga menuju ruangan kerja Davvien.


"Tan, mau minum apa biar aku buatin" Vera berbicara sopan di depan Ny.Andin, bukan nya sok baik tapi kan tidak sopan bicara lo gw di depan orang tua, apa lagi itu adalah mertua.


"Tidak usah Ra"


"Udah sih nggak papa, bi"


Vera langsung memanggil bi Aini.


"Ya elah kirain dia yang mau bikin minum" Batin Intan karna tadi Vera bilang kalau dia mau buat kan minum.


"Iya nak Vera"


"Tolong buatkan Intan minum ya bi"


"Baik nak Vera, tunggu sebentar ya" Ny.Andin tersenyum ke arah Intan terlihat alami namun begitu cantik dan manis sama seperti menantu nya yang tidak suka dandan tapi terlihat sangat cantik.


"Nak, kata Vera kamu juga pinter masak dan jago bikin kue ya?" Tanya Ny.Andin pada Intan, yang di tanya malah tersipu.


"Eh nggak kok Tante, lebih pandai Vera lagi"


"Nanti kita akan masak bersama ya, masakan Mommy juga sangat lezat loh Tan, loe harus coba" Puji Vera, Ny.Andin hanya tersenyum melihat ekspresi menantunya yang begitu antusias.


"Oh ya, aku mau coba ya Tante"


"Tentu saja sayang" Bi Aini membawa nampan berisi teh untuk Intan, dia meletakkan di depan Intan tak lupa juga membawa beberapa cemilan di sana.


"Terima kasih bi, maaf merepotkan" Ucap Intan.

__ADS_1


"Sama sama non, udah nggak usah sungkan itu memang tugas bibi"


"Nak Vera sama sahabat nya sama, sama sama baik dan sopan" Batin Bi Aini, diapun melangkah kembali ke dapur.


"Oh ya, Tante sejak kapan di sini?" Tanya Intan, dia mengira kalau mertua Vera menginap di sana.


"Tante baru juga sampai nak, minuman nya saja belum habis, Tante kesini udah kangen sama menantu Tante yang seperti nya sudah lupa sama Tante, dan pas Tante lihat mereka malah mesra-mesraan pantes tidak ingat untuk berkunjung ke rumah Tante" Ny.Andin tersenyum ke arah Vera, namun Vera sudah menundukkan kepala, wajah nya sudah merah bak kepiting rebus.


"Maaf kan Vera dan mas Davvien Mom, Kita belum sempat berkunjung, mas Davvien lagi banyak pekerjaan, Minggu depan Vera akan ajak mas Davvien buat nginap di sana" Ucap Vera dengan malu, Ny.Andin tersenyum senang, akhirnya hubungan anak dan menantunya bisa baik juga, Ny.Andin tidak tau aja sih kalau mereka tidak pulang bukan karena Davvien sibuk bekerja melainkan karna Vera yang tidak bisa berjalan karna ulah anak nya, Vera tidak menceritakan yang sebenarnya tau akan reaksi Mommy nya itu pasti akan memarahi suami tersayang nya.


"Iya sayang, Mommy paham kok"


...----------------...


"Kenapa tuh muka, udah jelek malah makin jelek" Ucap Davvien yang melihat ekspresi wajah Fero, dia juga melihat merah di tangan Fero yang masih sedikit membekas.


"Ini karna ulah istrimu, andai dia tidak menyuruh ku untuk menjemput wanita itu pasti aku tidak akan apes seperti ini" Jawab Fero yang langsung merebahkan dirinya di sofa ruang kerja Davvien.


"Kau menyalah kan istri ku hah kutu kupret sial*n" Davvien melempar kan pulpen di tangan nya, namun Fero tampak cuek, dia pasrah dengan apa yang di lakukan bos sinting nya itu.


Melihat itu Davvien jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabat sekaligus asisten nya.


"Hey kau kenapa?"


"Kau bisa lihat tangan ku merah merah, kau tau kenapa itu karna nyokap wanita itu memukul ku dengan sapu dia mengira kalau aku ini ingin menculik anak nya yang sama sekali tidak menarik itu, untuk apa coba aku menculik wanita itu jika aku perlu dengan sekali kedip para wanita langsung antri untuk bersama ku" Ucap Fero dengan kesal, mendengar itu bukan nya kasihan Davvien malah tertawa.


"Apa, kau di pukuli pakek sapu. ahahahah"


Davvien tertawa terpingkal-pingkal.


"Aku akan berterima kasih pada Nyokap sahabat Istriku".


"Apa kau merasa tidak senang Fero" Mendengar ucapan Davvien Fero langsung melihat Davvien yang sudah memasang wajah dingin.


"Hais, ada apa dengan mu ini kau begitu sensitif aku hanya bercanda" Jelas Fero dia pun tertawa, namun tidak di tanggapin oleh Davvien.


"Apa kau tidak menyukai wanita itu?" tanya Davvien yang sedari tadi ingin bertanya.


"Wanita mana?"


"Sahabat istriku yang kau jemput tadi"


"Kenapa kau bertanya seperti itu Vien" Mereka berbicara bukan sebagai atasan dan bawahan akan tetapi sebagai seorang sahabat, meski Davvien garang terhadap Fero namun dia sangat menyayangi Fero.


"Aku hanya ingin tau, apa hati mu yang keras itu sudah luluh"


"Apa maksud mu aku suka sama wanita itu. hahahah kau ada ada saja Vien, bahkan banyak wanita lain yang lebih menarik dari dia tapi aku sama sekali tidak meliriknya, apa lagi dia"


"Kau jangan terlalu asal bicara, nanti kau akan menjilat ludah mu sendiri"


"Seperti mu, yang kini menjadi bucin pada istri mu sendiri setelah dulu menyakiti nya"


"Bisa di katakan begitu, maka dari itu belajar lah dari pengalaman ku" Fero tidak menanggapi, dia sudah merasa nyaman dengan status jomblonya, meski dia harus telan ludahnya saat melihat kemesraan bos dan istri nya.


"Aku begini sekarang juga karna belajar dari pengalaman mu, dulu kau menyuruh ku untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun, dan sekarang kau malah menyuruh ku untuk mendekati wanita itu"


"Bukan begitu, dulu aku memang egois karna telah menahan perasaan mu, tapi aku yakin kalau dia akan tulus mencintai mu karna dia tidak jauh beda dengan istriku"

__ADS_1


"Sudah Vien, tolong kali ini jangan bersikap egois lagi, aku terima selalu keputusan mu tapi untuk kali ini aku tidak bisa" Fero merasa kesal bagaimana pun Davvien terlalu plin plan dan terlalu mengurus urusan pribadi nya.


"Heummm baik lah, aku kan cuman memberi saran dan memberi tahu mu bahwa aku sudah mencabut kata kata ku dulu, semuanya terserah pada mu kenapa kau jadi sangat sensitif" Davvien sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Sekarang kau kerjakan ini semua" suami dari Vera ini langsung bangkit dan berjalan keluar.


"Kau mau kemana?"


"Mau menemui istri ku"


"Cih, dasar bucin" Fero berdecak kesal karna dia harus menyelesaikan pekerjaannya, padahal kan hari ini hari libur pikir Fero.


...----------------...


Para ibu, gadis dan wanita itu sudah selesai dengan kegiatan memasak nya, mereka masak banyak, semuanya sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Vien, kebetulan kamu sudah di sini, Fero mana ayo kita makan siang dulu" Tanya Mommy saat melihat Davvien sudah ada di sana.


"Di atas Mom, istri Davvien mana?" Davvien mengedarkan pandangannya mencari istri tercinta nya itu.


"Baru juga sebentar Mommy pinjam udah di cariin" Yang di cari pun nongol dengan membawa mangkuk berisi sup yang masih panas.


"Sayang, kenapa kau membawa air panas itu kalau tumpah terus kena tangan dan kaki mu bagaimana?" Davvien langsung merebut mangkuk yang di pegang Vera dan meletakkan di atas meja, dia pun langsung mengambil tangan Vera dan mencium nya.


Ny.Andin menggeleng kepala melihat tingkat kebucinan anak nya itu, Vera merasa malu karna Davvien tanpa segan mencium seluruh wajah nya di depan mertua, Intan dan juga pelayan di sana.


"Kita ke kamar sebentar ya" Bisik Davvien pada Vera, Davvien langsung menarik tangan Vera.


"Mom, aku bawa istri ku sebentar ya"


"Eh mau ngapain, sudah waktunya makan siang Vien"


"Sebentar saja Mom"


Teriak Davvien dari atas tangga.


"Suamiku kenapa kit ke kamar"


Tanpa aba aba Davvien langsung ******* bibi mungil istrinya saat mereka sudah sampai di dalam kamar.


Vera yang mendapat serangan mendadak begitu kaget, dia belum siap nafas nya pun sudah habis meski mereka baru berciuman sebentar. Vera memukul-mukul dada Davvien.


"Aku kangen kamu sayang, aku menginginkan mu" Ucap Davvien dengan suara yang sudah parau menhan sesuatu.


"Tapi kita di tunggu yang lain untuk makan siang, lagi pula kita baru berapa saat tidak bertemu"


"Sebentar saja, saru ronde ya aku janji janji, semalam aku juga tidak dapat jatah karna tendangan maut mu" Pinta Davvien dengan wajah memalas, Vera jadi tidak tega, dia pun mengiya kan permintaan suaminya.


"Tapi hanya satu ronde ya, tidak lebih" Davvien mengangguk senang bagaikan sedang memenangkan lotre.


Dia langsung mencium bibir Vera, lalu mengangkat tubuh istrinya tanpa melepaskan ciuman mereka.


Setelah pemanasan baru dia melakukan aksinnya, dan siang itu menjadi siang yang panas bagi mereka berdua.


Davvien dan Vera menikmati surga dunia tanpa menghiraukan orang lain yang sedang menunggu mereka untuk makan siang, terutama Mommy nya.


~Bersambung

__ADS_1


Para Reader aku udah up doble, panjang lagi mohon dukungan nya ya😁.


__ADS_2