
Dengan menumpang sebuah bus, Lukas datang ke rumah Firman yang berada di kota. Dia bersama dengan kedua anak Firman ingin melihat kondisi Firman. Mungkin saja Firman sudah mulai membaik kondisinya kini. Hingga Lukas pun berharap Firman tidak mengalami hal buruk.
Sudah dua hari Firman tidak berkunjung ke rumah Lukas. Firman juga begitu sulit untuk di hubungi. Sehingga ada sedikit kekhawatiran tersendiri dari seorang Lukas akan kondisi dari Firman. Oleh sebab itu, Lukas memutuskan untuk datang ke rumah Firman.
Tiba di rumah Firman, Lukas begitu terkejut dengan kondisi halaman rumah Firman yang begitu kotor. Daun-daun bertebaran di seluruh area halaman rumah Firman. Hingga banyak sampah lainnya yang terlihat mengotori rumah Firman tersebut. Lukas pun begitu iba melihat kondisi rumah Firman yang tak terawat dengan begitu baik.
Kedua anak Firman langsung begitu bahagia saat mereka bisa kembali ke rumah mereka. Kedua juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Firman. Sudah dua hari menahan rindu, rasanya berat untuk tidak di lampiaskan oleh kedua anak Firman tersebut.
Namun saat akan membuka pintu rumahnya. Pintu rumahnya terkunci dengan begitu rapatnya, hingga kedua anak Firman harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk membuka pintu rumahnya yang terkunci dengan begitu rapatnya.
"Paman, apa Paman bisa membuka pintu rumah ini?" tanya salah satu anak Firman.
"Pintunya terkunci, coba kamu panggil ayah kamu." Pinta Lukas.
__ADS_1
Kedua anak Firman langsung memanggil Firman dengan begitu kerasnya. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Tidak terdengar suara Firman yang menyahut dari dalam rumah. Sehingga Lukas begitu khawatir akan kondisi Firman di dalam rumahnya. Mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada Firman. Sehingga dia tidak menyahut ketika kedua anaknya memanggil Firman.
Pilihan terakhir pun di pilih oleh Lukas. Dengan sekuat tenaga, Lukas langsung mendobrak pintu rumah Firman. Satu kali dorongan menggunakan tubuhnya, seketika pintu rumah Firman pun terbuka. Kedua anak Firman langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan dari seorang Firman.
Kedua anak Firman terus memanggil nama seorang Firman. Tapi Firman tak kunjung membalas panggilan kedua anaknya tersebut. Entah Firman berada di mana. Tapi dia tak kunjung terlihat. Hingga kedua anak Firman itu semakin keras memanggil nama ayahnya.
Lukas pun mencari keberadaan Firman di beberapa tempat. Hingga akhirnya Lukas menemukan Firman yang sedang berada di bawah shower di dalam kamar mandi. Lukas yang terkejut, langsung meminta Firman untuk segera pergi dari shower itu. Namun Firman menolaknya, dia menodongkan sebuah sikat WC pada Lukas. Dia pun siap memukul Lukas dengan sikat WC tersebut.
Lukas pun harus menahan sakit dari sikat WC yang terus di pukulkan pada seorang Firman pada dirinya. Firman dengan tenaganya yang kuat, terus memukuli Lukas sekuat tenaga. Hingga Lukas harus bisa menahan rasa sakit yang teramat oleh pukulan yang di layangkan oleh seorang Firman.
Melihat keanehan dari ayahnya, kedua anak Firman hanya bisa menangis. Mereka tak kuasa melihat Firman yang terlihat seperti orang stres. Wajah Firman pun terlihat begitu pucat. Mungkin Firman sudah beberapa jam berada di bawah shower tersebut.
Sekali pun Firman sudah berada di dalam kamar, dia tetap berusaha pergi untuk kembali ke kamar mandi. Dia merasa di dalam kamar mandi jauh lebih nyaman. Sehingga Firman begitu menikmati suasana kamar mandi yang tenang. Apalagi berada di bawah shower. Itu menjadi satu titik paling menyenangkan bagi seorang Firman.
__ADS_1
Tak kuasa lagi dengan segala upaya yang di lakukan oleh Firman. Akhirnya Lukas pun membiarkan Firman berada di bawah shower di kamar mandi. Mungkin itu sudah menjadi sebuah keinginan dari seorang Firman. Hingga Lukas tidak mampu menahan Firman untuk tidak kembali ke kamar mandi.
Lukas pun terlihat begitu sedih melihat kondisi dari seorang Firman. Mungkin Firman depresi dengan semua tekanan hidupnya. Di tinggalkan oleh istrinya, hingga harus bisa keluar dari lembah hitam pesugihan yang telah di jalani oleh dirinya. Semuanya menjadi begitu bias bagi seorang Firman. Hingga akhirnya Firman pun menjadi depresi seperti saat ini. Itu yang membuat Firman harus kehilangan arah hidupnya.
Lukas meminta saran pada guru ngajinya. Mungkin guru ngajinya itu bisa memberikan saran terbaik untuk Lukas, sehingga Lukas bisa mengambil langkah yang tepat bagi pamannya tersebut.
Tidak ada saran lain, selain Lukas yang harus membawa Firman ke rumah sakit jiwa. Apalagi gejala Firman nampak seperti seseorang yang terkena gangguan jiwa. Hingga Lukas wajib membawa Firman ke rumah sakit jiwa. Hingga Firman bisa mendapatkan penanganan yang terbaik di sana. Dengan penanganan yang baik, Firman di harapkan akan menjadi lebih baik lagi. Dia akan sembuh kembali seperti sediakala.
Lukas menelpon seorang Darwis, dia meminta bantuan Darwis untuk membawa seorang Firman ke rumah sakit jiwa. Sebab jika Lukas seorang diri membawa Firman ke rumah sakit, Lukas tentu akan kesulitan. Apalagi Firman begitu agresif menyerang seorang Lukas.
Darwis pun terkejut dengan apa yang terjadi pada Firman. Dia tak menyangka iparnya tersebut akan mengalami hal buruk seperti itu. Bahkan untuk membayangkan Firman depresi saja Darwis tidak yakin. Apalagi harus melihat Firman secara langsung depresi. Di hadapannya, Firman mengalami depresi yang berat. Mungkin ini akan menjadi sebuah mimpi buruk bagi seorang Darwis yang begitu mengenal sosok Firman yang di kenal sebagai orang yang dermawan.
Darwis pun segera berangkat menuju rumah Firman. Dia siap membantu Lukas untuk membawa Firman ke rumah sakit jiwa. Dengan begitu Lukas dan Darwis akan segera membawa Firman menuju rumah sakit jiwa.
__ADS_1