
Puluhan truk melintas jalanan di depan rumah Lutfhi. Truk-truk tersebut membawa berbagai bahan bangunan yang akan di gunakan oleh Lukas untuk membangun sekolah miliknya. Masih ada beberapa bagian yang harus di perbaiki lagi. Sehingga bangunan sekolah itu akan menjadi bangunan sekolah yang kokoh dan tahan lama.
Banyaknya debu yang di hasilkan oleh truk-truk itu, sedikit mengganggu Lutfhi yang sedang asyik berada di dalam rumahnya. Lutfhi pun begitu kesal saat debu-debu itu masuk ke dalam rumah. Hingga Lutfhi mencoba menghentikan salah satu truk yang membawa material bahan bangunan tersebut.
"Kamu kalau bawa truk pelan-pelan dong. Lihat debunya masuk ke rumah saya." Gerutu Lutfhi dengan tegasnya.
"Maaf Pak. Nanti saya koordinasi sama teman saya yang lainnya." balas sopir truk tersebut.
"Memang semua bahan bangunan ini punya siapa?" tanya Lutfhi.
"Ini semua punya Pak Darwis pak. Dia lagi membangun sekolah di ujung kampung itu." jawab sopir tersebut.
__ADS_1
Lutfhi terhentak dengan Darwis yang bisa membeli material bahan bangunan sebanyak itu. Dia curiga Darwis mendapatkan uang dari mana untuk mendapatkan semua material bahan bangunan tersebut. Semua tanah dia tentu tidak akan cukup untuk membangun kembali bangunannya.
Dari sana Lutfhi mulai penasaran dengan apa yang di miliki oleh seorang Darwis. Dari mana Lukas dan Darwis mendapatkan uang sebanyak itu. Lutfhi harus tahu sumber uang dari seorang Darwis. Sehingga dia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Darwis. Mungkinkah Darwis menjual semua aset dari Firman untuk membangun bangunan sekolah yang telah hancur tersebut. Ini menjadi pertanyaan besar bagi seorang Lutfhi.
Lutfhi kembali masuk ke dalam rumahnya. Mungkin Tini tahu Darwis mendapatkan sumber uang dari mana. Mengingat Tini adalah adik ipar dari Darwis. Jadi sudah pasti Tini akan tahu Darwis mendapatkan uang.
Lutfhi menghampiri Tini yang terlihat asyik melihat beberapa baju di handphone di atas sofa. Tini pun mulai memasukkan satu persatu baju pilihannya ke dalam keranjang di toko online shopnya tersebut. Hingga ada ratusan baju di keranjang Tini tersebut. Ratusan baju yang setiap waktu akan di beli oleh Tini, saat dia memang menginginkan baju tersebut.
"Ada apa?" tanya Tini mengubah posisinya.
"Aku hanya ingin tanya sesuatu sama kamu." jawab Lutfhi.
__ADS_1
"Tanya apa?"
"Tadi aku lihat banyak truk yang membawa material bangunan ke sekolah yang akan di dirikan oleh Lukas. Kira-kira mereka dapat uang dari mana yah?" tanya Lutfhi dengan begitu penasaran.
Tini yang sama sekali tidak mengetahui sumber uang yang di miliki oleh Lukas dan Darwis. Justru terkejut saat Lutfhi melempar pertanyaan tersebut. Tini sama sekali tidak tahu akan sumber uang yang di peroleh Darwis. Hingga Tini pun hanya bisa terdiam saat Lutfhi bertanya hal tersebut.
"Uang? Aku sama sekali tidak tahu mereka dapat uang dari mana." ujar Tini dengan wajah bingung.
"Apa mungkin mereka menjual semua aset dari Firman. Sehingga mereka bisa membeli material bahan bangunan sebanyak itu. Mungkin itu di lakukan oleh Darwis dan Lukas aku rasa." ucap Lutfhi.
Tini yang sama sekali tidak tahu. Hanya mengiyakan apa yang di ucapkan oleh seorang Lutfhi. Mungkin benar apa yang Lutfhi sampaikan, Darwis mendapatkan uang itu hasil dari penjualan aset dari Firman. Mengingat Firman memiliki aset yang cukup banyak. Hingga bisa membuat Darwis dan Lukas mendapatkan uang dari penjualan aset yang ada.
__ADS_1