
Kinasih begitu bahagia saat Baim memberikan dirinya sebuah kalung perhiasan bertuliskan inisial namanya. Dia terus tersenyum bahagia saat Baim mengenakan kalung itu di lehernya. Kinasih benar-benar bahagia dengan apa yang kejutan yang di berikan oleh Baim pada dirinya.
Kinasih langsung mencium kedua pipi Baim saat Baim telah memasangkan kalung itu di lehernya. Kinasih benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk membalas cinta seorang Baim. Dia bahagia dengan apa yang di lakukan oleh Baim pada dirinya. Mungkin ini menjadi sebuah cinta suci dari seorang Baim pada seorang Kinasih.
Kinasih merasa perhiasan yang di miliki oleh dirinya harus di lihat banyak orang. Perhiasan emas ini memiliki berat yang cukup besar. Sehingga mungkin saja ini akan menjadi perhiasan emas yang akan membuat seorang Kinasih menjadi pusat perhatian warga.
Dia meminta izin pada seorang Baim untuk pergi ke warung. Sebenarnya tidak ada bahan atau bumbu dapur yang hendak dia beli. Mungkin saja dengan Kinasih pergi ke warung, dia akan bertemu dengan banyak orang. Sehingga kalung emas dari Kinasih akan di lihat banyak orang. Kinasih sudah memprediksi hal tersebut. Sehingga dia tak sabar untuk melihat respon setiap orang yang akan dia temui.
Baim yang tak tahu Kinasih akan pamer pada warga. Mengizinkan Kinasih untuk pergi ke warung. Baik juga meminta Kinasih untuk membeli beberapa cemilan yang bisa di makan oleh Baim. Dengan tangan di angkat di bagian samping kanan jidatnya, Baim mengatakan Kinasih siap membeli cemilan yang di butuhkan oleh Baim.
Kinasih yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan banyak orang. Langsung bergegas dengan begitu cepatnya menuju warung. Kinasih benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan para warga. Sehingga Kinasih berjalan dengan begitu cepatnya menuju warung yang biasanya di jadikan tempat gosip oleh ibu-ibu di kampung.
Sebelum memamerkan pada ibu-ibu di kampung, Kinasih lebih dulu memamerkan kalung emasnya tersebut pada beberapa orang yang dia temui. Kinasih sengaja singgah di beberapa rumah warga, hanya untuk memamerkan kalung perhiasan yang dia miliki. Dia belum akan pergi, sebelum warga yang rumahnya di singgahi oleh Kinasih menanyakan kalung emas yang di kenakan oleh Kinasih. Itu menjadi syarat mutlak untuk para warga mengusir Kinasih di rumah mereka. Dia tidak akan pergi, sebelum warga itu melihat Kinasih dengan kalung emasnya.
Kinasih benar-benar sombong di hari ini. Dia menjadi seorang tukang pamer yang sangat haus akan pengakuan. Sampai Kinasih langsung di nasehati oleh Bu ustadzah. Dia yang datang ke rumah salah seorang anak bu Ustadzah, langsung mendapat pencerahan yang hebat saat memamerkan kalung emas yang di milikinya tersebut.
Bu ustadzah berpesan pada seorang Kinasih untuk tidak terlalu pamer dengan semua harta benda yang di miliki oleh dirinya. Ini hanya titipan sementara, sehingga mungkin saja itu akan segera pergi dengan sendirinya. Sehingga Kinasih di harapkan untuk tidak menyombongkan apa yang di miliki olehnya saat ini. Itu sangat tidak baik untuk seorang yang beriman.
Kinasih tak memperdulikan ucapan dari bu Ustadzah. Dia berkata, kesombongan itu hal yang wajar. Sebab dia memiliki uang untuk sombong. Dia memiliki semuanya. Jadi tidak salah bagi seorang Kinasih untuk sombong. Kesalahan justru ada di pihak bu Ustadzah yang terlalu mencampuri urusan dari seorang Kinasih. Seharusnya bu Ustadzah tidak mencampuri urusan dari Kinasih, sebab Kinasih punya kehidupan tersendiri. Tidak harus di nasehati seperti itu.
Kinasih dengan perasaan yang begitu kesal pada bu Ustadzah, langsung pergi tanpa mengucapkan salam. Wajahnya cemberut hebat, dia juga terlihat begitu sakit hati dengan ucapan seorang bu Ustadzah. Bagi dia tidak seharusnya bu Ustadzah mengatakan hal tersebut pada dirinya.
Kinasih melanjutkan perjalanan menuju warung. Namun Kinasih kembali menyempatkan singgah di salah satu rumah warga. Apalagi di rumah itu ada beberapa orang yang sedang asyik mengobrol. Ini kesempatan emas bagi seorang Kinasih untuk memamerkan perhiasan yang di milikinya tersebut.
__ADS_1
Kinasih duduk di antara ibu-ibu yang sedang menikmati sewadah rujak bengkuang. Dengan alasan tertarik dengan tunai yang ada, Kinasih pun mengaku begitu tergoda dengan rujak bengkuang yang tengah di makan oleh ibu-ibu tersebut.
Namun demi membuat orang-orang tertarik pada kalung emas yang di miliki oleh dirinya. Kinasih terus memegangi kalungnya tersebut dengan tangannya. Sesekali Kinasih menggunakan tangannya untuk mengipasi lehernya yang berisi kalung tersebut. Sehingga warga itu bisa melihat jika sekarang Kinasih telah memiliki sebuah kalung emas baru yang mahal.
Akhirnya ada yang sadar juga dengan keberadaan dari kalung emas Kinasih. Seorang warga melihat kalung itu begitu cantik. Sehingga ibu-ibu itu pun langsung memuji kalung emas yang ada di leher seorang Kinasih.
Kinasih merendah, namun sedikit meninggi. Dia mengatakan jika dirinya begitu bahagia memiliki kalung emas itu. Bahkan Kinasih menyebutkan harga kalung emas itu dua kali lipat dari harga aslinya. Itu yang membuat ibu-ibu yang ada di sana langsung takjub dengan kalung emas yang ada di leher seorang Kinasih. Mereka pun mengaku salut pada seorang Kinasih yang memiliki kalung emas yang mahal.
Lagi-lagi Kinasih merendah, namun tetap sombong. Dia mengatakan jika semua orang bisa memiliki kalung itu. Cuman caranya yang berbeda. Kinasih yang saat ini memiliki banyak uang mungkin memiliki kalung itu dengan cara yang halal. Dia membeli kalung itu, mungkin orang lain bisa saja mendapatkan kalung itu dengan mencuri atau tindakan yang menyimpang lainnya.
Sontak apa yang di ucapkan oleh Kinasih membuat ibu-ibu yang ada di sana marah. Beatrice mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak di katakan oleh dirinya. Dia seolah menghina orang lain. Itu sifat yang tentunya tidak baik di lakukan oleh seorang Kinasih. Tindakan Kinasih langsung mendapat amarah dari ibu-ibu yang ada di sana. Mereka mengaku kecewa dengan apa yang di sampaikan oleh Kinasih pada dirinya.
Kinasih pun langsung di usir oleh ibu-ibu tersebut. Mereka mengaku tidak butuh sosok Kinasih yang sombong. Mungkin Kinasih harus bisa mencari tempat lain untuk sombong, di sini bukan tempat bagi Kinasih untuk sombong. Itu yang harus di sadari oleh seorang Kinasih. Kinasih harus paham akan hal tersebut.
Tiba di warung, Kinasih harus di buat kecewa. Tidak ada orang di warung tersebut. Hanya ada penjaga warung yang sedang asyik mendengarkan gosip dari salah satu channel video di handphone miliknya. Dia terlihat begitu asyik menonton video yang berisi gosip artis tersebut. Keduanya matanya begitu fokus pada apa yang di sajikan oleh video tersebut.
Kinasih menegur penjaga warung itu. Dia langsung terkejut dengan kedatangan dari seorang Kinasih yang datang secara tiba-tiba tersebut. Bahkan kedatangan Kinasih sempat di kira setan oleh penjaga warung tersebut.
"Kamu mau beli apa?" tanya penjaga warung.
Kinasih terdiam, dia yang datang hanya untuk pamer. Tentu tidak memiliki tujuan untuk membeli sesuatu. Walaupun Baim sempat mengatakan jika dirinya menitip beberapa cemilan.
"Kenapa warung kamu sepi, biasanya orang-orang berkumpul di jam segini?" tanya Kinasih.
__ADS_1
"Jadi kedatangan kamu ke sini cuman untuk bergosip dengan orang-orang itu. Apa untungnya bergosip sih. Gak penting." jawab penjaga warung yang semakin terlihat asyik menonton video gosip tersebut.
"Kamu sendiri sedang apa, kamu melihat video gosip para artis. Itu sama saja bergosip juga." ujar Kinasih.
Penjaga warung itu terlihat malu-malu dengan ucapan dari seorang Kinasih. Tak salah apa yang di katakan oleh dia. Di mana gosip tidak memiliki manfaat, tapi penjaga warung sendiri malah menonton video gosip para artis. Hal yang bertentangan dengan apa yang dia ucapkan.
Kinasih yang tak menemukan kumpulan ibu-ibu di warung itu, merasa begitu kecewa. Padahal dia berharap akan bertemu dengan ibu-ibu untuk pamer dengan kalung emasnya tersebut. Namun dia tidak menemukan ibu-ibu yang seharusnya dia jadikan tempat pamer.
Namun saat Kinasih akan pergi dari warung itu. Dia bertemu dengan seorang Tini yang hendak belanja di warung. Kinasih yang ingin pamer pada Tini, langsung mengajak adik iparnya tersebut mengobrol sejenak.
"Kamu mau kemana Tin?" tanya Kinasih merapikan kalung emasnya.
Tini langsung terfokus pada kalung emas yang melingkar di leher seorang Kinasih. Dia begitu tertarik dengan kalung emas tersebut. Apalagi sinar matahari yang menyorot kalung itu memancarkan sinar yang begitu indah. Sehingga Tini langsung terfokus pada kalung tersebut.
"Aku ingin membeli gula. Kebetulan aku belum belanja bulanan." jawab Tini dengan begitu singkatnya.
Kinasih terus memainkan kalung emas yang di kenakan oleh dirinya. Dia berharap Tini akan bertanya pada dirinya perihal kalung emas tersebut. Sehingga dia bisa memamerkan kalung emas itu pada seorang Tini.
Tini sendiri merasa Kinasih hendak pamer pada dirinya. Padahal Tini sendiri seperti toko emas berjalan. Di tubuhnya di penuhi dengan perhiasan emas yang mengkilap. Ada anting, cincin, gelang hingga kalung yang terlihat begitu indah. Namun Kinasih yang baru memiliki kalung emas yang begitu indah, ingin menyombongkan pada seorang Tini.
Tini sengaja tidak bertanya perihal kalung emas itu. Dia pikir akan sangat panjang bagi Kinasih untuk menjelaskan kalung emas itu. Hingga mungkin Kinasih akan menyombongkan kalung emas itu pada dirinya. Itu yang harus di hindari oleh seorang Tini. Dia harus segera pergi dari hadapan seorang Kinasih.
Tini pun melanjutkan perjalanan menuju warung. Sementara Kinasih terlihat begitu kesal, sebab Tini tidak menanyakan kalung emas yang di miliki oleh dirinya. Kinasih pun gagal pamer pada seorang Tini.
__ADS_1