
Kepergian dari Tiwi yang secara diam-diam, telah membuat Tini khawatir. Dia tak menemukan anaknya itu di sekitar rumah. Padahal Tini mengira Tiwi sedang bermain di halaman rumahnya. Namun saat Tini datang untuk melihat ke halaman rumahnya. Tini tidak menemukan Tiwi di halaman rumahnya. Dia hanya menemukan mainan yang di gunakan oleh Tiwi.
Tini mulai berpikir tempat yang mungkin saja di kunjungi oleh Tiwi. Tempat di mana menjadi tempat yang favorit bagi Tiwi untuk bermain-main. Biasanya taman yang menjadi tempat yang paling sering di kunjungi oleh Tiwi. Hingga Tini pun berasumsi Tiwi sedang bermain di taman bersama dengan teman-temannya.
Tini memanggil Fajar untuk menjemput Tiwi di taman. Ini sudah waktu makan siang bagi Tiwi, sehingga dia harus segera pulang. Sebenarnya Fajar menolak untuk menjemput Tiwi di taman. Namun saat melihat tatapan wajah marah dari Tini. Seketika rasa malas dari Fajar hilang begitu saja. Dia langsung pergi menjemput Tiwi di taman.
Sampai di taman, Fajar tidak menemukan keberadaan dari Tiwi. Dia hanya melihat segerombolan anak muda yang sedang berpacaran. Tidak ada riuh anak bermain di sana. Hingga Fajar segera kembali ke rumahnya untuk mengatakan jika Tiwi tidak ada di taman seperti yang di duga oleh Tini sebelumnya.
Tini terkejut saat Fajar mengatakan jika Tiwi tidak ada di taman. Sebab taman adalah tempat yang menjadi lokasi yang sering di jadikan tempat bermain Tiwi. Jika dia tidak ada di sana, maka Tiwi pergi ke mana lagi. Tidak mungkin Tiwi pergi ke tempat lain di luar taman. Itu tidak mungkin bagi Tini.
Tini terus berpikir mencari lokasi yang mungkin saja menjadi tempat Tiwi bermain. Sampai akhirnya Tini menemukan satu tempat yang mungkin saja menjadi tempat Tiwi bermain. Tempat itu tentu saja adalah rumah Tika. Mungkin Tiwi berada di rumah Tika saat ini. Mengingat Tiwi dan Tika begitu dekat. Tapi apa mungkin Tika masih mau bermain dengan Tiwi, mengingat sikap kasar Tini pada dirinya di tempo hari lalu. Tentu itu akan jadi pertimbangan bagi Tika untuk masih bertahan dengan Tiwi untuk bermain bersama.
Namun Tini tidak peduli, dia tetap meminta Fajar melihat Tiwi di rumah Tika. Mungkin saja Tiwi ada di rumah Tika saat ini. Mengingat keduanya adalah teman baik yang cukup akrab. Bukan tidak mungkin Tiwi ada di sana untuk bermain bersama dengan Tika.
Fajar yang merasa sudah capek, kembali menolak permintaan dari Tini. Namun lagi-lagi Fajar tidak kuasa untuk menahan amarah dari Tini akan perintahnya yang di tentang oleh Fajar. Dia tidak suka Fajar menentang dirinya. Hingga Tini meminta Fajar untuk segera pergi ke rumah Tika sekarang juga. Apalagi dia tidak sabar untuk tahu apakah Tiwi ada di sana atau tidak.
Fajar dengan berat hati berjalan pergi menuju rumah Tika. Dia berlari untuk menghemat waktu, mengingat masih ada babak permainan yang belum di selesaikan oleh Fajar. Dia masih harus menyelesaikan permainan terlebih dahulu. Itu yang harus segera Fajar lakukan.
Fajar pun memanggil Tiwi di depan gerbang rumah Tika. Beberapa kali Fajar lakukan, namun tidak ada satu pun yang menyahut ucapan dari Fajar tersebut. Sampai akhirnya Fajar memukul keras gerbang rumah Tika. Saking kerasnya pukulan yang di lakukan oleh Fajar, suara itu terdengar juga hingga ke dalam rumah Tika. Ibu Tika yang sedang ada di dalam rumah, tentu mendengar bunyi keras dari luar rumahnya. Dia pun langsung keluar dari dalam rumahnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar rumahnya tersebut.
__ADS_1
Saat dia melihat Fajar di dalam rumah, ibu Tika langsung menatap tajam Fajar dengan mata bulat nan besar. Dia tak terima Fajar memukul gerbang rumahnya dengan begitu keras. Itu gerbang rumah yang mahal, sehingga Fajar harus hati-hati saat memukul gerbang rumah milik orangtua Tika tersebut.
"Ada apa kamu mukul gerbang rumah saya?" tanya ibu Tika dengan tegasnya.
"Anu Bu, saya ingin tanya." jawab Fajar ketakutan.
"Tanya apa?" Bentak ibu Tika dengan tatapan semakin tajam.
"Apakah adik saya bermain di sini?" tanya Fajar masih ketakutan.
"Dengar yah Fajar, saya tidak akan membiarkan anak saya main dengan adik kamu. Ibu kamu itu pemuja setan, masa anaknya tidak boleh ikut pengajian. Aneh banget. Jadi saya tidak akan membiarkan anak saya bermain dengan adik kamu. Takut jadi setan seperti keluarga kamu." jawab ibu Tika dengan ketusnya.
Fajar menangis mendengar ucapan kasar dari ibu Tika tersebut. Dia merasa apa yang di katakan oleh ibu Tika adalah perkataan yang tidak seharusnya di ucapkan pada Fajar. Apalagi Fajar sama sekali tidak tahu menahu akan hal tersebut.
Fajar pergi dari hadapan ibu Tika dengan derai air mata. Bagaimana juga Fajar sakit hati di sebut keluarga setan. Perkataan kasar yang tentunya menghancurkan mental Fajar secara berkeping-keping. Itu cukup membuat mental Fajar hancur di buat oleh ibu Tika.
Fajar menceritakan apa yang dia dengar dari ibu Tika. Bagaimana Fajar harus menerima hinaan yang teramat besar dalam hidupnya. Ibu Tika menghina dirinya sebagai anak dari keluarga setan. Padahal Fajar bukan bagian dari keluarga setan, keluarganya sama sekali tidak mengabdi pada setan seperti apa yang di sampaikan oleh ibu Tika. Keluarga Fajar bukan keluarga setan. Dia masih keluarga normal seperti biasanya, tidak mengabdi setan.
Mendengar cerita dari Fajar, Tini tentu tidak terima dengan apa yang di ucapkan oleh ibu Tika pada dirinya. Dia pun siap melabrak ibu Tika yang telah mengatakan hal yang buruk pada keluarganya. Keluarga setan adalah sebuah penghinaan bagi Tini, walaupun itu kenyataan yang sebenarnya di sadari oleh Tini. Namun tetap saja Tini merasa itu hal yang buruk bagi dirinya. Jadi dia merasa itu adalah perlakuan yang paling menyakitkan untuk dirinya dari orang lain.
__ADS_1
Namun saat Tini akan pergi ke rumah ibu Tika, dia bertemu dengan Tiwi yang baru pulang dari sekolah Lukas dengan beberapa temannya. Di situ juga ada Tika yang menenteng sebuah tas kecil berisi buku untuk belajar di sekolah Lukas.
Melihat Tiwi yang baru pulang belajar, Tini langsung memarahi Tiwi dengan perkataan yang kasar. Belum lagi kekerasan fisik yang di lakukan oleh Tini pada Tiwi. Sontak hal itu membuat beberapa teman dari Tiwi ketakutan akan apa yang di lakukan oleh Tini. Mereka lantas berhamburan berlari untuk menghindari amukan dari Tini yang terlihat seperti seorang setan.
Tiwi menangis dengan pukulan yang di berikan oleh Tini di tubuhnya. Dia merasakan sakit, namun paling sakit tentu hatinya. Sebab Tini tidak hanya memukul saja, namun juga mengatakan beberapa perkataan yang cukup kasar pada Tiwi. Itu yang membuat Tiwi begitu merasakan sakit yang teramat di buat oleh Tini.
Suara tangis Tiwi yang kencang, terdengar juga oleh Lutfhi yang sedang berada di dalam rumah. Lutfhi langsung keluar untuk tahu penyebab Tiwi menangis dengan begitu kerasnya. Mungkin sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada Tiwi. Hingga Tiwi menangis dengan begitu kerasnya.
Saat Lutfhi melihat Tiwi yang di pukuli oleh Tini, Lutfhi langsung meminta Tini untuk segera menghentikan aksi tak terpujinya tersebut. Lutfhi merasa apa yang Tini lakukan adalah bagian dari kekerasan yang bisa mendatangkan pidana bagi Tini itu sendiri. Lutfhi meminta Tini untuk tidak gegabah dalam melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
Lutfhi menarik tangan Tiwi dari amukan seorang Tini. Namun Tini yang kadung kecewa pada Tiwi, terus berusaha memukul Tiwi. Sebab bagi Tini, Tiwi adalah sosok pembangkang. Dia tidak mau menuruti permintaan dari Tini yang melarang dirinya untuk ikut sekolah di sekolah milik Lukas. Itu adalah permintaan sederhana dari Tini, tapi Tiwi tetap langgar hal tersebut. Tini yang geram pada Tiwi, tentu tidak salah melakukan tindakan seperti itu.
Luthfi membenarkan tindakan dari Tini yang melakukan hukuman pada Tiwi, tapi dia tidak setuju jika Tini melakukan tindakan kekerasan pada anaknya tersebut. Mungkin Tini bisa menggunakan metode lain dalam memberikan pelajaran penting pada sosok Tiwi. Mungkin di kurung atau tindakan lainnya yang lebih baik lagi. Sebab di pukul adalah tindakan yang akan membuat luka batin di dalam hati Tiwi. Seharusnya Tini merasakan hal yang sama dengan yang lainnya. Ada luka batin yang harus bisa di rasakan oleh Tini akan Tiwi. Perasaan sakit yang mungkin saja akan selamanya di rasakan oleh Tiwi dalam hidupnya. Itu akan sulit di hilangkan oleh Tiwi dalam hidupnya untuk beberapa tahun ke depannya.
Tini mungkin tidak akan merasakan hal itu, tapi Tiwi akan membawa luka itu sampai dia dewasa nantinya. Itu yang di takutkan oleh Lutfhi. Sehingga Tini tidak seharusnya melakukan kekerasan fisik pada Tiwi. Takutnya akan merusak mental dari Tiwi di masa mendatang.
Namun emosi dari Tini tidak hanya bersumber dari Tiwi yang ingin sekolah saja. Namun dia emosi juga di buat oleh ibu Tika yang mengatakan keluarga mereka adalah keluarga setan. Tentu kata-kata yang di ucapkan oleh ibu dari Tika itu menyakiti hati Tini. Bagaimana juga dia bukan bagian dari setan. Sehingga perkataan itu adalah penghinaan bagi Tini sebagai istri dari Lutfhi.
Untuk kali ini, Lutfhi tidak menggunakan emosi seperti Tini. Dia meminta Tini untuk tidak memikirkan ucapan orang lain. Sebab itu tidak akan pernah usai. Sehingga Tini harus lebih legowo dalam menerima kritikan dari siapa saja. Tidak peduli akan orang tersebut.
__ADS_1