Jimat Warisan

Jimat Warisan
Teror Genderuwo Dalam Keris Lutfhi


__ADS_3

Lutfhi yang mulai sibuk dengan segala fasilitas kemewahan yang telah di dapat. Satu kewajiban yang seharusnya Lutfhi lakukan ketika memiliki keris sakti mandraguna tersebut. Lutfhi harus memandikan keris sakti itu dengan air yang suci. Air bunga 7 rupa, serta sebuah kepala kerbau. Ini harus rutin di lakukan oleh Lutfhi di setiap malam Jum'at.


Baik Lutfhi maupun Tini, tidak tahu jika keris itu masih harus di mandikan seperti yang biasa di lakukan oleh ayah Tini dulu. Lutfhi pun melewatkan hal penting tersebut. Hingga akhirnya sebuah malapetaka mulai menghampiri Tini dan Lutfhi yang melewatkan momen penting tersebut.


Malapetaka pertama harus di rasakan oleh kedua anak Tini. Kedua anaknya tersebut harus di teror oleh sesosok mahluk halus yang memiliki bentuk tubuh besar yang hitam. Wajahnya begitu seram, dengan kedua bola mata merah menyala. Hingga kedua anak Tini langsung keluar dari kamar mereka untuk menemui orangtuanya.


Tini dan Lutfhi yang sedang tidur pulas pun, akhirnya terbangun oleh gedoran pintu yang di lakukan oleh kedua anaknya. Tini yang membuka pintu kamarnya, langsung menegur kedua anaknya yang begitu berisik mengetuk pintu kamar Tini dan Lutfhi.


"Ada apa sih kalian, malam-malam gini teriak-teriak." Ucap Tini dengan begitu kesalnya.


"Tadi aku lihat penampakan Bu. Ada hantu di kamar aku dan adik." Ucap Fahmi.


"Iya Bu, Lia juga tadi lihat ada hantu yang begitu seram di kamar Bu. Hantunya berbadan besar, rambutnya panjang. Matanya merah. Lia takut Bu." Ucap anak bungsu Tini memeluk tubuh Tini.


Sosok yang di sebutkan oleh anak Tini itu hampir mirip dengan sosok genderuwo yang ada di keris milik Lutfhi. Sosok mahluk berbadan besar dengan tubuh yang menyeramkan. Mungkin sosok itu memang mahluk yang bersemayam di dalam keris milik Lutfhi. Tapi mengapa mahluk itu menyerang kedua anak Tini. Itu tentu menjadi pertanyaan besar bagi Tini itu sendiri.

__ADS_1


Untuk membuat kedua anaknya kembali tenang. Tini akhirnya menemani kedua anaknya untuk tidur di kamar. Sehingga anaknya tidak lagi ketakutan untuk tidur di kamar.


Baru masuk kedalam kamar anaknya, perasaan Tini sudah mulai tidak nyaman. Ada sedikit perasaan seram saat Tini menaiki ranjang kedua anaknya. Bulu kuduk seorang Tini juga, perlahan berdiri. Merasakan sesuatu yang menyeramkan yang mungkin di rasakan oleh Tini.


Namun Tini tidak boleh menunjukkan ketakutan dari dirinya pada anaknya tersebut. Dia harus bisa bersikap tenang, agar kedua anaknya tidak menjadi takut. Itu cara paling baik yang harus di lakukan oleh Tini. Mengingat kedua anaknya mungkin saja akan semakin takut, jika Tini sendiri ikut takut akan hantu yang berada di kamar kedua anaknya.


Perlahan kedua anak Tini mulai tertidur. Mereka begitu nyaman berada di pelukan seorang Tini. Apalagi kedua anak Tini tersebut, sangat dekat dengan Tini. Sehingga keduanya semakin nyaman dengan keberadaan Tini di kamar mereka berdua.


Begitu kedua anaknya telah terlelap tidur. Tini yang juga semakin mengantuk, hendak pergi kembali ke dalam kamarnya. Namun baru akan bangkit dari ranjang kedua anaknya. Tini langsung di kejutkan dengan kedatangan sesosok mahluk berbadan besar menyerupai genderuwo. Sosok yang sama seperti yang Tini lihat di rumah dukun kancil.


Lutfhi yang terbangun oleh teriakan dari Tini. Sudah berada di depan kamarnya, dia siap menyambut kedatangan Tini yang di penuhi ketakutan. Lutfhi langsung memeluk Tini yang sangat ketakutan dengan kedatangan mahluk halus yang berada di keris milik Lutfhi tersebut.


"Kamu kenapa?" Tanya Lutfhi mencoba menenangkan Tini.


"Ada genderuwo sayang, ada genderuwo sayang." Jawab Tini penuh ketakutan.

__ADS_1


Kedua anak Tini yang turut berada dalam pelukan Lutfhi, kembali melihat sosok genderuwo yang meneror keluarga mereka. Bahkan kedua anaknya langsung pingsan saat dia sosok genderuwo itu mencoba menyentuh tubuh anak bungsu Tini tersebut. Kepanikan dari Tini dan Lutfhi semakin menjadi melihat salah satu anaknya yang pingsan tersebut.


Lutfhi yang juga turut ketakutan dengan sosok genderuwo yang mulai meneror dirinya. Tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa memohon pada genderuwo tersebut untuk tidak meneror keluarga kecilnya. Lutfhi pun bersimpuh sambil memohon pada genderuwo tersebut. Dia meminta pada genderuwo itu untuk tidak meneror keluarga kecilnya lagi. Lutfhi memohon.


Namun genderuwo itu tetap melakukan teror yang mengerikan di rumah kontrakan Lutfhi tersebut. Beberapa photo di dinding kontrakan Lutfhi terjatuh, photo-photo tersebut mulai berjatuhan dengan sendirinya. Hingga menciptakan ketakutan yang semakin menjadi pada Lutfhi dan seluruh keluarga kecilnya.


Teror itu akhirnya berakhir, ketika seorang tetangga di samping kontrakan Lutfhi mengaji. Lantunan ayat suci Alquran yang di bacakan oleh salah seorang tetangga dari Lutfhi itu, berhasil membuat sosok genderuwo yang meneror keluarga Lutfhi akhirnya pergi. Kini Lutfhi dan keluarganya pun mulai sedikit tenang dengan sosok genderuwo yang mulai pergi tersebut.


Baik Tini dan Lutfhi, masih cukup penasaran dengan sosok genderuwo yang mulai meneror keluarga mereka. Pasalnya, tumbal yang telah Lutfhi dan Tini berikan di rasa sudah cukup dengan apa yang Tini dan Lutfhi dapatkan di hari ini. Tidak lebih, atau pun kurang. Semuanya sesuai porsinya. Tapi mengapa, genderuwo itu masih meneror keluarga dari Lutfhi. Itu menjadi pertanyaan tersendiri bagi Lutfhi dan Tini.


Lutfhi menggendong anak bungsunya yang jatuh pingsan. Sementara anak sulung Tini dan Lutfhi yang masih ketakutan dengan sosok genderuwo yang meneror keluarganya, tidak ingin jauh-jauh dari Lutfhi dan Tini.


Akhirnya Lutfhi tidur bersama kedua anaknya. Sementara Tini tidur di kamarnya sendiri. Lutfhi meminta Tini untuk tidak takut akan teror yang mungkin akan kembali datang pada dirinya. Sebab teror tersebut, akan segera hilang dengan sendirinya. Tidak akan ada lagi teror yang harus di takuti oleh Tini. Hingga Lutfhi meminta Tini untuk bisa lebih tenang lagi.


Tini pun akhirnya bisa lebih tenang, walaupun masih ada ketakutan dalam hatinya. Namun Tini tetap berusaha bersikap tenang, agar kedua anaknya tidak semakin ketakutan dengan apa yang terjadi di hari ini.

__ADS_1


Tini berharap tidak ada lagi teror dari genderuwo yang mungkin datang kembali ke rumahnya. Teror yang mengharuskan Tini dan Lutfhi bersiaga setiap saat.


__ADS_2