Jimat Warisan

Jimat Warisan
Berita Yang Mengubah Pemikiran Lutfhi


__ADS_3

Lutfhi terlihat terus tersenyum saat berjalan pulang menuju rumahnya. setiap warga yang menyapa Lutfhi, langsung di balas oleh Lutfhi dengan senyuman manisnya. Di tambah surat tanah yang ada di tangan kanannya. Semakin membuat senyum dari seorang Lutfhi itu kian merona. Lutfhi pun tak henti memberikan senyum terbaiknya pada semua orang yang di temui oleh Lutfhi.


Salah seorang teman Lutfhi memanggil dirinya di sebuah pos ronda. Sejak Lutfhi menjadi seorang developer tanah, Lutfhi sudah sangat jarang kumpul di pos ronda. Bahkan untuk ronda sendiri, Lutfhi meminta bantuan salah seorang warga. Walaupun bantuan itu tidak gratis, dengan arti lain. Lutfhi membayar jasa seorang warga untuk menggantikan dirinya ronda malam.


Teman Lutfhi bernam Iqbal Maulana itu, terlihat penasaran dengan surat yang di bawa oleh Lutfhi. Hingga Iqbal meminta Lutfhi menunjukkan surat itu pada dirinya.


"Surat apa itu?"


"Biasa bos, ini surat tanah." jawab Lutfhi dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Ajak-ajak dong kalau mau bisnis. Siapa tahu saya bisa sukses seperti kamu." ujar Iqbal.


Lutfhi tertawa, sebelum matanya mulai fokus pada sebuah berita di televisi. Berita itu memuat akan bisnis properti yang sedang dalam masa peningkatan. Banyak yang pada akhirnya, dari bisnis properti tersebut. Menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Lutfhi pun tergiur untuk melakukan bisnis yang sama. Menjadi seorang pebisnis properti yang terkenal.


"Bagaimana menurut kamu bisnis properti tahun ini?" tanya Lutfhi pada Iqbal.


"Kamu bisa lihat sendiri, lagi dalam fase kenaikan. Bahkan itu akan berlangsung dalam beberapa tahun mendatang." jawab Iqbal.


Mungkin itu akan jadi keputusan yang paling logis yang harus di ambil oleh Lutfhi. Keputusan yang akan membuat Lutfhi semakin kaya raya lagi. Lutfhi pun langsung berpamitan pada seorang Iqbal. Dia ingin membicarakan mengenai bisnis properti yang akan di buat oleh dirinya pada seorang Tini. Mungkin dengan berdiskusi dengan Tini, Lutfhi bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Jalan menuju Roma yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Tiba di rumah, Lutfhi langsung masuk sambil memanggil nama seorang Tini. Tini yang sedang melakukan perawatan pada kukunya, terlihat begitu kurang nyaman saat Lutfhi berteriak memanggil namanya. Hingga Tini harus menunjukkan ekspresi wajah kesal pada seorang Lutfhi.


"Ada apa kamu memanggil aku seperti itu?" tanya Tini dengan begitu kesalnya.


"Aku ada kabar gembira, aku sudah dapat tanah si Kosim itu. Tapi...." jawab Lutfhi dengan antusias.


"Tapi apa?" tanya Tini.


"Tapi aku tidak akan menjual lahan itu pada developer. Aku pikir, membangun sendiri perumahan itu bisa membuat kita untung lebih banyak lagi. Jadi tidak ada yang salah aku pikir." jawab Lutfhi.

__ADS_1


"Maksud bagaimana?" tanya Tini mulai penasaran.


Lutfhi menceritakan kejadian yang membuat dirinya begitu ingin menjadi seorang pebisnis properti. Di mana dia melihat trend bisnis properti yang sedang naik-naiknya. Sehingga Lutfhi pun ingin terjun ke dunia properti. bukan tidak mungkin Lutfhi akan mendapatkan sebuah keuntungan besar dengan menjadi seorang pebisnis properti. Itu yang Lutfhi coba ambil.


__ADS_2