
Dengan kondisi kamar yang begitu berantakan, Fajar dan tiga orang temannya asyik bermain game dengan layar televisi yang besar. Mereka begitu menikmati setiap permainan yang di sungguhkan oleh game tersebut. Fajar berulang kali merayakan kemenangan dari dirinya. Sementara teman-temannya pun tak kalah berisik ketika mereka merayakan kemenangan saat memenangkan pertandingan di game tersebut.
Lutfhi yang masih kesal dengan seorang Baim. Tak tahan dengan suara berisik yang ada di kamar Fajar. Apalagi waktu semakin larut malam. Lutfhi pun meminta Fajar dan teman-temannya untuk segera tidur. Mungkin mereka harus bangun pagi untuk sekolah. Itu yang harus di lakukan oleh Fajar dan teman-temannya.
Fajar tak menghiraukan kedatangan Lutfhi yang begitu marah terhadap dirinya. Dia menanggapi santai amarah dari ayahnya tersebut. Tak ada rasa takut sedikit pun dari seorang Fajar terhadap Lutfhi. Padahal Lutfhi sudah akan memukul seorang Fajar. Namun Fajar tetap santai dengan sikap Lutfhi yang begitu marah tersebut.
Fajar tidak bermain game dengan suara yang semakin berisik. Dia benar-benar tidak peduli dengan peringatan yang telah di berikan oleh seorang Lutfhi. Fajar menghiraukan apa yang yang Lutfhi perintahkan. Padahal perintah seorang Lutfhi cukup tegas. Tapi tidak sama sekali membuat seorang Fajar takut. Dia justru malah semakin menjadi-jadi dengan apa yang di peringatkan oleh Lutfhi.
"Apa kamu tidak takut dengan ayah kamu?" tanya salah seorang teman Fajar.
"Takut? Untuk apa takut!" jawab Fajar dengan santai sambil memain stik PS.
"Gak takut di kutuk jadi batu haha." saut teman lainnya.
Semuanya langsung tertawa dengan sedikit candaan dari teman Fajar tersebut. Fajar benar-benar tak menghiraukan ucapan dari seorang Lutfhi yang cukup tegas. Dia tetap bermain PS bersama teman-temannya tersebut.
Lutfhi tak kehilangan akal untuk membuat Fajar jera. Mungkin dengan cara mematikan listriknya, kemungkinan besar Fajar tidak akan bisa bermain PS lagi. Lutfhi pun siap melakukan hal yang mungkin tidak akan di lakukan oleh Fajar.
__ADS_1
Lutfhi segera berjalan menuju kilometer listrik di rumahnya. Dia langsung mematikan kilometer listrik di rumahnya tersebut. Seketika rumah Lutfhi pun gelap gulita.
Tiga orang teman Fajar langsung merasa ketakutan dengan apa yang terjadi. Mereka saling mencari satu sama lain. Mengingat tidak ada sedikit pun sumber cahaya yang ada di rumah Fajar. Salah seorang teman Fajar bahkan sampai kencing di celana dengan kegelapan yang ada. Dia merasa begitu takut dengan suasana gelap tersebut.
Fajar yang sudah tahu ini adalah ulah dari ayahnya, mulai berjalan keluar dari kamarnya. Dia mungkin akan kembali menghidupkan listrik di rumahnya. Hingga dia bisa kembali bermain game di PS-nya tersebut.
Namun baru membuka pintu kamarnya. Fajar langsung di kejutkan dengan sosok mahluk menyeramkan yang ada di depan kamar Fajar. Mahluk itu terlihat begitu menyeramkan dengan rambut panjang yang tak beraturan. Wajahnya pun terlihat menyeramkan. Hingga Fajar langsung kembali membanting pintu kamarnya dengan sekuat tenaga.
Fajar benar-benar takut melihat sosok hantu tersebut. Dia tak menyangka akan bertemu dengan hantu itu. Apalagi hantu itu terlihat begitu seram dengan penampilannya yang tak beraturan.
Fajar menceritakan kejadian itu kepada tiga temannya. Salah satu teman Fajar yang penakut, langsung ketakutan dengan cerita dari Fajar. Sementara dua lagi, merasa apa yang di ceritakan oleh Fajar adalah sebuah kebohongan. Mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang Fajar katakan. Mereka mengira Fajar hanya ingin menakuti mereka saja.
"Buat apa aku bohong. Aku tadi benar-benar bertemu dengan hantu di depan pintu kamarku sendiri." jawab Fajar yang semakin ketakutan.
Teman Fajar itu pun langsung berjalan menuju pintu kamar Fajar. Dia ingin membuktikan jika omongan Fajar tidak benar sama sekali. Tidak ada hantu seperti yang Fajar ucapkan.
Dia berjalan dengan penuh percaya diri. Perlahan membuka pintu kamar Fajar yang sebelumnya Fajar tutup dengan begitu rapatnya. Dia merasa apa yang di ceritakan oleh Fajar adalah kebohongan semata. Sehingga dia penasaran dengan sosok hantu menyeramkan yang Fajar katakan.
__ADS_1
Bukannya bertemu dengan hantu. Teman Fajar itu justru bertemu dengan Lutfhi yang menyorot wajahnya dengan sorot senter berwarna putih terang. Sontak teman Fajar itu langsung terkejut. Namun saat mendengar suara tawa dari Lutfhi. Teman Fajar itu tak takut sama sekali. Dia merasakan hal yang sama seperti sediakala.
"Makanya buruan tidur. Udah malam, masih saja main PS. Jadi mati lampu kayak ginikan." ujar Lutfhi dengan tegasnya.
Fajar yang awalnya menentang keras Lutfhi. Terlihat tak berdaya dengan apa yang ada saat ini. Dia merasa bersalah telah membantah omongan dari ayahnya sendiri. Padahal Lutfhi adalah ayahnya sendiri. Tapi Fajar justru mengatakan hal yang buruk terhadap Lutfhi. Dia pun langsung memeluk Lutfhi untuk meminta maaf pada dirinya.
"Maafkan Fajar, Ayah." ujar Fajar dengan rasa bersalah.
"Ayah harap, kamu tidak akan seperti itu lagi. Ayah hanya minta kamu nurut sama Ayah. Hanya itu saja pinta Ayah sama kamu." balas Lutfhi mengelus rambut Fajar.
Fajar yang benar-benar ketakutan dengan sosok hantu yang di lihatnya. benar-benar Taka berani untuk melihat keluar pintu. Fajar terlihat ketakutan dengan apa yang tadi di lihatnya. Hingga Fajar tak henti memeluk erat seorang Lutfhi.
Lutfhi meminta Fajar untuk tidak takut lagi. Sebentar lagi Lutfhi akan menyalakan kembali listrik di rumahnya. Namun Lutfhi meminta Fajar dan ketiga temannya untuk tidur. Mereka jangan lagi bermain PS seperti sebelumnya. Itu bisa membuat hantu-hantu berdatangan untuk mengganggu mereka. Jadi Lutfhi meminta Fajar harus segera tidur.
Namun Fajar tidak ingin tidur berempat saja. Dia meminta Lutfhi untuk menemani dirinya tidur bersama dengan teman-temannya. Sehingga tidak ada lagi rasa takut yang akan menyerang seorang Fajar. Rasa takut yang hampir membunuh seorang Fajar.
Lutfhi tentu menolak permintaan dari Fajar tersebut. Bagi Lutfhi apa yang di minta Fajar tentu tidak logis. Kasur Fajar tidak terlalu luas, sementara ada tiga temannya yang menginap di kamar Fajar. Jika Lutfhi bergabung di sana, sudah pasti kasur itu akan semakin sempit lagi. Lutfhi pun meminta Fajar untuk tidur bersama teman-temannya saja. Tidak harus tidur di temani oleh Lutfhi.
__ADS_1
Fajar sempat bersikeras untuk meminta Lutfhi tidur bersama dengan dirinya. Namun setelah di nasehati oleh seorang Lutfhi. Akhirnya Fajar pun mau menerima apa yang Lutfhi sampaikan. Dia mau tidur tanpa di dampingi oleh seorang Lutfhi di kasurnya.