
Tuti yang merupakan pembantu di rumah Lutfhi dan Tini. Terlihat begitu antusias saat membawa kabar akan kondisi ibu dari Baim. Dia bercerita saat dia akan merapikan piring-piring sisa makan keluarga Lutfhi. Tuti bercerita dengan begitu antusiasnya. Hingga Lutfhi dan Tini pun mendengarkan semua cerita dari Tuti dengan antusias juga.
"Bagaimana dengan kondisinya sekarang?" tanya Tini dengan sedikit tersenyum.
"Belum tahu lagi sih Bu. Menurut kabar burung yang saya dengar. Dia di bawa ke rumah sakit. Namun penyakit ibunya tersebut seperti penyakit non medis. Ada sedikit kejanggalan Bu." jawab Tuti dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Penyakit non medis seperti apa?" tanya Lutfhi pura-pura tak tahu.
"Jadi Pak. Kulit ibu Permata itu berubah jadi hitam lebam. Tubuhnya juga panas banget. Belum lagi bagian kepalanya yang salut sekali. Itu menjadi pertanyaan besar bagi semua orang. Mungkin saja ibu Permata di guna-guna oleh orang." jawab Tuti kembali.
"Itu bukan di guna-guna. Tapi itu Azab untuk Baim. Kamu pasti tahu kelakuan seorang Baim. Dia korupsi di proyek saya. Dia juga sebelumnya pernah di tuduh melakukan pencurian. Itu semua adalah jawaban atas apa yang di lakukan oleh Baim. Mungkin ibunya yang harus menanggung dosa anaknya tersebut. Hingga dia di azab." balas Tini.
__ADS_1
Lutfhi dan Tini pun begitu bahagia dengan apa yang terjadi pada ibu Baim. Mereka pun meminta kedua anaknya untuk tidak seperti Baim yang merupakan tukang bohong. Jika menjadi tukang bohong seperti Baim. Bukan tidak mungkin mereka pun akan mengalami hal yang sama seperti Baim. Hal yang akan membuat mereka mendapatkan balasan yang pedih. Itu yang Tini coba sampai pada kedua anaknya. Selalu ada pengajaran dalam setiap ujian. Tini dan Lutfhi selalu mengajarkan sebuah kebaikan, walaupun mereka tidak mengkombinasikan semuanya dengan agama. Namun keduanya selalu melakukan itu semua dengan alasan kemanusiaan semata.
Pagi ini pun menjadi pagi yang cerah bagi Lutfhi dan Tini. Ini seperti oasis di sebuah gurun yang panas. Mereka begitu menantikan hal itu terjadi. Mereka menunggu sebuah kabar akan ibu dari Baim yang mengalami hal yang buruk. Dan sebelum mereka menghabiskan makanan mereka berdua. Keduanya mendengar itu semua. Ini menjadi hal yang cukup bagus untuk Lutfhi dan Tini.
"Aku tidak menayangkan santet itu akan cepat tiba pada ibu si Baim tersebut." ujar Lutfhi.
__ADS_1
"Aku pun sama. Biasanya mungkin menunggu sehari. Baru akan tiba. Tapi hanya butuh sehari saja, santet itu akhirnya tiba pada perempuan itu. Ini akan menjadi babak baru untuk si Baim tersebut."
Lutfhi dan Tini siap menantikan bagaimana Baim akan meminta untuk kembali menjadi seorang mandor di proyek. Ini akan menjadi babak baru bagi seorang Lutfhi dan Tini. Menantikan seorang Baim akan meminta pekerjaan itu, untuk mendapatkan banyak uang dalam biaya pengobatan dari ibunya tersebut. Baim adalah sosok yang mencintai ibunya. Tak heran Baim akan melakukan apapun untuk bisa membuat ibunya kembali sembuh. Tentu menjilat ludah sendiri pun akan di lakukan oleh seorang Baim demi membuat sang ibu kembali sembuh.