
Ada 20 orang warga yang menghadiri acara di malam itu. Seluruh keluarga Darwis dan Lutfhi tidak termasuk orang yang di hitung dalam voting yang akan di lakukan. Mereka bukan warga kampung di rumah Firman. Hingga mereka tidak memiliki hak suara yang sama seperti warga lainnya.
Firman sendiri menjadi salah satu perwakilan yang akan memberikan suaranya di voting tersebut. Dia akan menentukan nasib dirinya di kampung tersebut. Jika dirinya merasa masih layak di kampung itu, Firman harus memilih bertahan. Namun jika Firman merasa sudah tidak layak berada di kampung itu, Firman harus memberikan suara untuk kepergian dirinya di kampung tersebut.
Suara Firman tentu sudah bulat, dia ingin bertahan di kampungnya sendiri. Di mana kampung itu menjadi tempat Firman tinggal bersama anak dan kedua istrinya kurang lebih selama 13 tahun. Ini akan meninggalkan sejarah yang cukup panjang, saat Firman memutuskan untuk pergi dari kampung tersebut. Dia tidak akan pergi dari kampung tersebut.
Lutfhi dan Tini begitu gatal untuk menyuap warga yang akan memberikan suara. Mungkin mereka yang sudah bulat mengusir Firman akan memberikan suara penolakan pada Firman. Tapi tidak dengan warga lain yang masih abu-abu. Sehingga Tini dan Lutfhi harus melakukan sesuatu agar Firman di usir dari kampungnya sendiri.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Tini di telinga kanan Lutfhi.
"Aku pun bingung saat ini. Rasanya aku ingin membayar setiap orang yang ada di sini untuk menolak Firman. Tapi bagaimana caranya." jawab Lutfhi dengan suara kecil.
Tini dan Lutfhi sudah tidak memiliki cara lain yang bisa di lakukan untuk membuat suara para warga berpaling pada Firman. Hingga keduanya bingung, apalagi banyak mata yang terus mengawasi Tini dan Lutfhi untuk tidak melakukan tindakan yang tidak baik di dalam voting yang akan segera di gelar tersebut.
Satu persatu warga di berikan kertas kecil. Nantinya mereka hanya tinggal menulis, iya atau tidak saja. Dengan tulisan itu, suara mereka sudah bisa terealisasi dalam penerimaan Firman sebagai salah seorang yang akan tinggal di kampung mereka.
__ADS_1
Satu persatu warga mulai menuliskan suara mereka. Suara yang tentunya akan menjadi penentu nasib dari Firman di kampungnya sendiri. Apakah mereka masih menginginkan Firman untuk tetap tinggal di kampung tersebut, atau bisa juga mereka menolak Firman untuk bisa tinggal berdampingan bersama dengan mereka. Ini benar-benar pilihan yang sulit bagi sebagian warga. Mengingat ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan yang akan mereka ambil.
Semua warga yang hadir pun sudah menulis pilihan mereka masing-masing. Kini mereka mengumpulkan semua suara mereka pada sebuah kotak yang berada di atas meja. Suara mereka ini yang akan menentukan nasib daripada Firman ke depannya.
Begitu pak RT meminta semua warga mengumpulkan suara itu. Para warga langsung datang untuk memberikan kertas kecil mereka. Ini yang akan jadi penentu bagi hidup Firman. Kertas kecil yang akan menentukan nasib Firman di masa yang akan datang.
Begitu sudah terkumpul semuanya. Kini perhitungan suara akan segera di lakukan. Tokoh agama sudah berada di dekat sebuah papan dengan dua kota panjang. Satu berisi iya, satunya lagi berisi tulisan tidak. Jika lebih banyak tulisan iya di papan tulis itu. Sudah pasti Firman akan bertahan di kampungnya. Namun jika Firman justru banyak memiliki tulisan tidak, sudah pasti Firman harus pergi meninggalkan kampungnya. Ini sudah keputusan yang bulat, tidak bisa di ganggu gugat lagi oleh pihak manapun. Baik Firman sendiri, maupun mereka yang menolak keberadaan dari Firman di kampung mereka.
Semua orang merasakan hal yang sama. Mereka merasa begitu tak sabar untuk tahu hasil apa yang akan di dapat oleh Firman. Mungkin saja hasilnya akan mengecewakan sebagian pihak, terutama Firman yang masih ingin tinggal di rumahnya sendiri. Maupun Tini yang ingin Firman di usir dari kampungnya sendiri.
Namun di suara kedua dan ketiga, Firman justru mendapat tulisan tidak. Di momen ini, Tini dan Lutfhi begitu bahagia. Mereka merayakan penolakan dari warga pada seorang Firman. Hingga mereka langsung bersorak-sorai saat ada dua warga yang menolak keberadaan dari Firman di kampungnya sendiri.
Lukas dan Darwis mencoba menenangkan Firman. Mereka menghibur Firman untuk tetap optimis serta memperbanyak berdoa. Sebab kekuatan Allah begitu nyata akan hal ini. Sehingga Firman di harapkan harus memperbanyak berdoa untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Di suara ketiga hingga ke tujuh, Firman mendapatkan iya. Itu artinya sudah 5 warga tetap mempercayai Firman untuk tetap tinggal di kampung mereka. Sementara masih ada dua suara penolakan yang Firman dapatkan.
__ADS_1
Suara ke delapan hingga sepuluh mutlak untuk tidak. Sehingga kini posisinya menjadi seimbang. Mereka yang menolak Firman ada di lima suara, begitu juga mereka yang menerima Firman. Juga memiliki 5 suara yang sama. Ini menjadi semakin seru, mengingat para warga masih cukup alot dalam memberikan suara mereka pada sosok Firman.
Di suara ke 11 hingga 14, suara penolakan lebih banyak. Dengan posisi 3 tidak, berbanding dengan 1 yang iya. Ini semakin menjepit suara iya pada Firman. Kini ada 8 suara penolakan pada Firman. Berbanding dengan 6 suara penerima akan Firman.
Di suara ke 15 dan 18 ini, semuanya menulis iya. Hingga kini suara penerimaan lebih banyak, daripada suara penolakan akan Firman. Ini benar-benar dilema yang cukup sulit bagi Firman untuk menerima semuanya. Firman kembali tersenyum, sebab masih ada harapan bagi dirinya untuk tetap berada di rumah miliknya sendiri. Tidak harus pergi ke rumah lain untuk melanjutkan kehidupan yang akan di jalani.
Di suara ke 19 hingga ke 21 sudah mutlak menjadi milik Firman. Di mana warga masih percaya Firman untuk tetap tinggal di kampungnya sendiri. Sehingga penolakan terhadap Firman di kampungnya adalah cacat secara hukum yang berlaku. Firman pun di persilakan untuk kembali tinggal di rumahnya. Tidak ada satu pihak yang boleh melarang Firman untuk pergi dari rumahnya sendiri. Itu akan jadi hal yang buruk untuk warga yang akan mengusir Firman dari kampung tersebut.
Firman dan seluruh keluarga Darwis merayakan kemenangan mereka. Semuanya langsung mengucap syukur atas apa yang telah terjadi. Bahkan Firman langsung melakukan sujud syukur, sebab dia akhirnya tetap bisaa tinggal di rumahnya sendiri. Di mana rumah yang akan Firman tinggali bersama dengan kedua anaknya.
Lutfhi dan Tini yang kecewa dengan keputusan yang ada. Merasa persidangan ini cukup cacat, sehingga mereka berpikir apa yang terjadi adalah sebuah kesalahan. Firman tidak seharusnya di berikan kesempatan yang sama. Dia harus pergi dari kampung itu segera. Sebab Firman sudah tidak layak mendapatkan kesempatan kedua. Firman harus pergi dari kampung itu. Namun keputusan voting menunjukkan Firman harus bertahan. Hingga Lutfhi dan Tini tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengusir Firman dari kampungnya.
Keduanya pergi dari ruang pertemuan dengan raut wajah kecewa berat. Apalagi Tini yang masih cukup menyimpan dendam pada Firman. Langsung menyenggol Firman dengan sengaja saat akan keluar. Itu sebuah isyarat dari Tini akan Firman dalam permusuhan mereka yang akan masih berlanjut dalam waktu yang cukup lama. Firman masih harus berusaha lebih lagi, dalam mendapatkan maaf dari Tini dan Lutfhi.
Darwis pun meminta Firman untuk tidak memusingkan akan sikap yang di tunjukkan oleh Lutfhi dan Tini. Keduanya penuh dengan kebencian pada Firman. Hingga Darwis berharap Firman tidak memusingkan akan sikap dari Tini dan Lutfhi tersebut. Darwis meminta Firman untuk terus fokus dalam membuat kebahagiaan bagi kedua anaknya yang tumbuh semakin dewasa. Firman harus memastikan keduanya menjadi sosok yang jauh lebih baik lagi di masa yang akan datang.
__ADS_1