
Tini dan Lutfhi tetap melakukan liburan mereka ke sebuah vila untuk merayakan kematian dari Baim. Semua persiapan telah di siapkan dengan baiknya oleh keduanya. Hingga keduanya siap bergegas menuju sebuah vila yang ada di selatan ibu kota itu.
Kedua anak mereka juga turut dalam liburan kali ini. Mereka berdua tak sabar untuk menikmati setiap sudut yang ada di vila tersebut. Apalagi mereka belum pernah berlibur di vila seperti saat ini. Jadi ada rasa penasaran yang cukup tinggi bagi kedua anak Tini dan Lutfhi tersebut.
Mereka berdua tersu bernyanyi sepanjang perjalanan menuju vila. Merayakan bagaimana begitu bahagianya mereka bisa berlibur ke sebuah vila mewah. Apalagi Tini menceritakan ada banyak tempat bermain yang ada di vila tersebut. Tentu itu akan menjadi kesan tersendiri bagi kedua anak Tini dan Lutfhi saat berlibur di vila tersebut.
Setibanya di vila itu, kedua anak Lutfhi dan Tini langsung masuk ke dalam vila. Keduanya begitu kagum dengan keindahan vila yang ada di sini. Mereka berdua melihat sebuah dekorasi vila yang indah dengan pemandangan yang sempurna. Belum lagi arena bermain yang cukup banyak di dalam vila tersebut. Hal itu semakin membuat semuanya menjadi terasa lebih luar biasa lagi.
Tini dan Lutfhi pun merasakan hal yang sama dengan kedua anak mereka. Keduanya menikmati suasana vila yang begitu indah. Ada hembusan angin terasa begitu menyejukkan. Itu yang membuat Lutfhi dan Tini merasa begitu nyaman berada di vila tersebut. Di tambah ruangan vila yang nampak kokoh serta memiliki bangunan yang unik. Menambah kesan indah yang ada di vila tersebut. Tempat yang luar biasa untuk merasakan keindahan yang ada di vila tersebut.
Lupakan angin serta bangunan vila yang kokoh. Ada juga panorama alam yang terlihat mempesona. Apalagi saat Lutfhi dan Tini bersandar pada sebuah sofa panjang yang lembut di balkon vila. Itu semakin membuat semuanya terasa begitu nikmat untuk di lihat. Mereka seolah bisa merasakan sedikit ketenangan dengan rutinitas yang telah mereka lakukan selama ini.
Ketenangan yang terjadi, perlahan berubah menjadi situasi mencekam. Saat tiba-tiba sebuah tebing yang ada di depan vila mulai longsor. Ada ketakutan dari dalam diri Tini, namun Lutfhi berhasil memenangkan istrinya tersebut. Hingga Tini pun mulai kembali merasa tenang dengan apa yang di berikan oleh Lutfhi.
Baru bisa tenang, Tini kembali di kejutkan oleh sebuah peristiwa yang cukup aneh. Tiba-tiba sebuah vas bunga kecil jatuh dari atas lemari. Itu mengejutkan Tini, hingga Tini penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Tini mengangkat vas bunga itu, meletakkan di tempat semula. Dia mulai melirik ke sekitar ruangan vila. Tidak ada hal yang mencurigakan bagi seorang Tini. Ruangan vila nampak hangat dengan berbagai peralatan yang ada di dalam vila tersebut. Tini melanjutkan perjalanan menuju dapur. Dia sudah tak sabar untuk mengambil minuman yang di minta oleh Lutfhi.
Di dapur, peristiwa aneh lainnya kembali terjadi. Gelas yang Tini isi dengan sebuah jus, tiba-tiba kembali kosong. Entah kemana perginya jus tersebut. Hingga Tini merasa heran dengan peristiwa itu.
Tini melihat gelas itu secara seksama, memperhatikan ada sedikit celah yang mungkin saja ada di gelas tersebut. Namun tidak ada celah sama sekali, gelas itu terlihat tetap kokoh. Sehingga ada hal janggal saat jus yang sudah Tini tuang ke dalam gelas itu tiba-tiba hilang.
Tini tidak ingi berpikiran jauh, dia kembali menuang jus itu ke dalam gelas. Namun kali ini Tini menuang ke dalam dua gelas. Mengingat tak hanya Lutfhi saja yang sedang di landa kehausan. Namun dirinya pun merasakan hal yang sama.
Tidak ada peristiwa yang seperti sebelumnya. Jus itu tetap ada di dalam gelas, tidak hilang sama sekali. Hingga ada sedikit rasa heran yang mulai membayangi Tini.
Tini berjalan dengan penuh kehati-hatian. Dia tidak ingin hal buruk akan kembali terjadi pada dirinya. Peristiwa misterius yang menggangu dirinya. Peristiwa yang membuat Tini merasa heran dengan apa yang ada.
Tini pun memberikan segelas jus itu pada Lutfhi. Sementara segelas lainnya, langsung Tini minum dengan begitu lahapnya. Tini juga kembali duduk di samping Lutfhi. Dia ingin menceritakan apa yang telah dia temui di ruang tamu serta dapur vila tersebut.
"Aku barusan menemukan hal yang aneh di vila ini." ucap Tini.
__ADS_1
"Hal aneh apa?" tanya Lutfhi.
"Tiba-tiba vas bunga kecil yang ada di lemari vila ini jatuh. Belum lagi saat aku di dapur. Ada peristiwa aneh lainnya. Jus yang aku tuang ke gelas, tiba-tiba hilang begitu saja. Padahal aku telah tuang ke gelas tersebut." jawab Tini dengan wajah sedikit ketakutan.
"Itu perasaan kamu saja kali. Mungkin kamu belum menuangnya, sehingga gelas itu masih kosong." ujar Lutfhi dengan santainya.
"Tidak Sayang, aku yakin sudah menuang jus tersebut. Jadi tidak mungkin aku lupa." Tini meyakinkan Lutfhi.
Lutfhi menatap wajah Tini dengan tatapan yang begitu tajam. Namun tiba-tiba Lutfhi tertawa dengan begitu lepasnya. Lutfhi pun mengatakan jika dirinya masih tidak percaya dengan omongan dari seorang Tini. Hingga Lutfhi.erada Tini sedang berhalusinasi dengan semua itu.
"Tidak mungkin Genderuwo itu mengikuti kita lagi. Jadi tidak akan ada lagi peristiwa mistis di vila ini. Kita sudah memberikan dia tumbal. Juga sudah melakukan ritual mingguan. Jadi tidak akan ada lagi gangguan dari Genderuwo itu." ucap Lutfhi dengan santainya.
Tini yang tetap masih merasa ada kejanggalan yang terjadi di vila ini. Masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ada sedikit keanehan di vila ini. Hingga Tini khawatir ini akan menjadi boomerang bagi keluarganya.
Namun Lutfhi yang masih tidak percaya dengan ucapan dari Tini. Tetap bersikap santai dengan apa yang ada. Tidak ada rasa takut seperti yang di rasakan oleh Tini. Hingga Lutfhi menganggap apa yang ada adalah hal yang biasa saja. Itu peristiwa yang biasa, tidak harus di jadikan rasa takut yang berlebih oleh Tini.
__ADS_1
Lutfhi pun meminta pada Tini untuk bisa lebih rileks lagi dengan apa yang ada. Tidak harus takut dengan beberapa hal aneh yang terjadi. Sebab sejatinya mereka adalah salah satu bagian dari pemuja setan yang memang kerap menganggu manusia yang memiliki keimanan yang tebal. Sementara Lutfhi dan Tini yang tak memiliki iman setebal orang-orang, sudah sepatutnya tidak takut dengan gangguan setan itu sendiri. Sebab mereka juga bagian dari setan yang angkuh dengan apa yang ada. Tini harus membiasakan itu semua dalam hidupnya. Sehingga Tini tidak harus takut dengan apapun itu. Apalagi peristiwa kecil yang mungkin saja menganggu dirinya.