
Firman yang mengira Tini sudah sekarat dengan santet yang di kirim oleh dirinya, merasa begitu menang dengan semuanya. Dia tersenyum dengan perasaan gembira. Bagaimana juga, ini adalah kemenangan terbesar bagi seorang Firman atas Lutfhi dan Tini.
Firman ingin segera tiba di rumah untuk menemui istrinya. Mengabarkan, jika mungkin diri dan istri akan segera mendapatkan telepon dari kelurga lainnya perihal kematian dari seorang Tini. Itu mungkin akan segera di di dapat oleh Firman, entah dari Darwis atau dari anggota keluarga lainnya.
Namun Firman justru mendapat kejutan yang tak terduga. Salah satu anak Firman bernama Imas lari ke arah Firman dengan menangis kuat. Dia mengatakan bahwa ibunya sudah tidak sadarkan diri di atas kasurnya. Mulutnya mengeluarkan darah yang begitu banyak. Rambutnya mengeluarkan bau sangit, bau seperti rambut terbakar.
__ADS_1
Firman berlari ke arah kamar istrinya. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi pada istrinya tersebut. Firman menangis dengan begitu kuatnya, saat istrinya sudah tidak bernyawa lagi. Firman mengecek denyut nadi istrinya. Sudah tidak ada denyut nadi yang timbul, istri Firman itu sudah di pastikan meninggal. Dia meninggal dunia, di santet oleh seseorang.
Firman cukup bersedih dengan kepergian dari istrinya tersebut. Dia terus menangis bersama dua anaknya. Mereka tak kuasa membendung kesedihan atas apa yang terjadi pada istri Firman tersebut. Firman tak menyangka, justru istrinya yang harus tewas dengan santet yang di kirim oleh Firman. Tidak dengan Tini, apalagi Lutfhi. Justru santet itu bersarang ke tubuh istrinya sendiri.
Firman membawa mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Wajahnya masih menunjukkan kesedihan yang mendalam atas kepergian dari istrinya tersebut. Dia tidak menyangka santet itu justru akan berbalik pada istrinya sendiri. Padahal Firman sudah meminta dukun itu untuk mengirim santet itu pada Tini. Tapi justru istrinya sendiri yang menjadi korban dari santet yang di kirim oleh Firman.
__ADS_1
Tiba di rumah dukun itu, Firman langsung membawa jenazah istrinya masuk ke dalam rumah dukun tersebut. Firman memanggil dukun tersebut. Tapi teriakan dari Firman, tidak di sauti oleh dukun tersebut. Hingga Firman langsung masuk ke dalam ruang praktek dukun tersebut.
Alangkah terkejutnya seorang Firman saat melihat tubuh dukun yang penuh dengan luka cakaran. Dari hidungnya pun keluar sedikit darah. Saat Firman mengecek denyut nadi, dukun itu pun sudah tidak bernyawa. Sontak Firman semakin sedih dengan semuanya. Firman kehilangan istri dan dukun yang selama ini membantu Firman dalam mendapatkan kekayaan yang selama ini di dambakan olehnya.
Firman tidak tahu lagi akan seperti apa dirinya. Mungkin Firman tidak akan memiliki tujuan yang pasti dengan semua yang ada. Pesugihan yang selama ini di lakukan oleh Firman, akan terasa sia-sia. Tidak ada istri Firman yang akan senang dengan pencapaian Firman tersebut. Tidak seperti dahulu, ketika istrinya masih ada. Mungkin pesugihan itu bisa di nikmati Firman bersama dengan istrinya.
__ADS_1