Jimat Warisan

Jimat Warisan
Pengusiran Paksa Yang Gagal


__ADS_3

Pak RT yang tak kunjung mengusir kedua anak Firman dari rumah seorang Darwis. Pada akhirnya membuat warga berinisiatif untuk mengusir kedua anak Darwis itu secara langsung. Mungkin dengan paksaan banyak warga, kedua anak Darwis itu akan segera pergi dari kampung. Sehingga mereka bisa aman dari serangan kuntilanak yang mungkin akan menyerang mereka.


Beberapa orang telah berkumpul untuk menyusun rencana. Warga lainnya pun turut dalam rombongan untuk mengusir dua anak Firman yang di anggap akan menjadi petaka bagi warga kampung. Mereka harus segera melakukan hal tersebut, jika tidak. Bukan tidak mungkin teror Kuntilanak itu akan terus menyerang warga kampung.


Ketakutan para warga yang sudah memuncak, membuat mereka hilang akal. Semuanya hanya mengedepankan emosi semata, tanpa memikirkan apa yang mungkin terjadi pada mereka juga. Hati nurani mereka telah hilang. Berganti dengan amarah yang berbalut dengan rasa takut yang besar akan teror yang mungkin datang pada mereka semua.


Di pimpin oleh seorang ibu rumah tangga bernama Wati. Rombongan yang di dominasi oleh kaum perempuan itu, mulai mendatangi rumah Darwis yang berada di ujung kampung. Mereka tak sabar untuk segera mengusir dua anak Firman yang di anggap membawa kesialan bagi kampung mereka.


Usir..


Usir...


Usir...


Suara yang menggema dari mulut setiap warga. Mereka sudah tidak sabar untuk mengusir dua anak Firman yang berada di rumah Darwis. Sehingga mereka harus segera melakukan hal tersebut agar kampung mereka aman.

__ADS_1


Wati yang memimpin barisan itu, terus membakar amarah setiap orang yang hadir. Sehingga mereka pun langsung terpancing emosi untuk terus meneriaki kata-kata yang tidak pantas pada seorang Firman.


Wati sendiri di bayar langsung oleh Lutfhi dan Tini untuk melakukan provokasi pada warga. Dengan provokasi yang di lakukan oleh Wati, para warga pun langsung terbakar emosi. Mereka ingin segera mengusir kedua anak Firman dari rumah Darwis dan Ima.


Tiba di rumah Darwis dan Ima, para warga langsung berbuat anarkis. Mereka melempari rumah Darwis dengan sampah yang ada di depan rumah Darwis. Tak ketinggalan mereka juga terus melakukan cemooh pada kedua anak Firman serta keluarga Darwis yang di anggap terlalu melindungi kedua anak Firman tersebut.


Mendengar keributan yang terjadi di luar rumah. Kedua anak Firman yang sedang bermain di dalam rumah Darwis, ketakutan hebat. Apalagi mereka mendengar nama mereka di panggil dengan nada penuh kemarahan. Keduanya begitu ketakutan dengan apa yang di lakukan oleh para warga.


Darwis dan Lukas menghampiri gerombolan warga yang mencoba berbuat anarkis di rumah mereka. Keduanya berusaha menenangkan para warga yang terlihat semakin terbakar oleh provokasi yang di lakukan oleh Wati. Hingga Darwis dan Lukas harus segera meredam amarah setiap warga yang terus memuncak dengan provokasi yang di lakukan oleh Wati.


"Kami ingin Pak Darwis mengusir dua anak Firman dari kampung ini. Kami takut, kuntilanak itu akan terus meneror kampung kami." jawab Wati dengan menggebu-gebu.


"Tidak akan, saya dan ayah saya tidak akan mengusir mereka. Untuk apa kamu mengusir mereka. Tidak ada kuntilanak seperti yang kamu pikirkan. Itu hanya omong kosong saja." balas Lukas dengan tegasnya.


Mendengar ucapan dari Lukas, Wati semakin bernafsu untuk melakukan pengusiran secara paksa terhadap dua anak Firman tersebut. Wati pun langsung mengajak semua warga untuk menggeruduk rumah Darwis. Sehingga mereka bisa menemukan kedua anak Firman yang akan mereka usir tersebut.

__ADS_1


Baru akan memasuki teras rumah Darwis, pak Kiayi dan Nur datang untuk melerai. Keduanya mencoba menenangkan amarah dari puluhan warga pada kedua anak Firman. Mungkin dengan sedikit nasehat dari pak Kiayi, mereka bisa lebih tenang.


Pak Kiayi mencoba mengambil alih kendali. Dia berusaha membuat keadaan sebaik mungkin, tidak ada keributan yang kembali terjadi di rumah Darwis. Sehingga tidak ada lagi anarkisme yang mungkin akan terjadi.


Pak Kiayi pun langsung menyampaikan apa yang seharusnya di lakukan oleh para warga. Mereka tidak seharusnya berpikiran kotor seperti itu, mereka hanya telah terhasut oleh omongan setan semata. Tidak ada kuntilanak yang akan meneror mereka. Jika pun ada sosok kuntilanak yang mereka takutkan, mereka bisa mengusir kuntilanak itu dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Bukan dengan mengusir dua anak Firman yang tidak berdosa tersebut.


Ucapan dari pak kiyai sedikit membuat warga bisa lebih tenang. Padahal Wati terus melakukan provokasi yang terus memojokkan kedua anak Firman. Ini menjadi tamparan yang cukup keras bagi Wati. Sebab dia tidak bisa membuat warga itu kembali marah pada kedua anak Firman yang ada.


Wati terlihat semakin terpojokan, saat pak Kiayi mengatakan jika dia meminta bukti apa yang dia ucapkan. Dia yang tak memiliki bukti sama sekali, hanya terdiam dengan wajah bingung. Wati pun akhirnya mengakhiri aksi provokasinya dengan kabur. Tanpa ada kata lanjutan, Wati pergi begitu saja. Padahal sejak awal Wati begitu vokal menyuarakan akan anak Firman yang akan menjadi tumbal kuntilanak. Namun bukti yang tidak ada, pada akhirnya membuat Wati Mali sendiri. Dia pun akhirnya kabur dari kerumunan orang itu.


Sudah tidak ada lagi yang membuat para warga terpancing emosi. Ini menjadi semakin mudah bagi pak Kiayi untuk bisa mengendalikan para warga. Dengan sedikit nasehat yang di berikan oleh pak Kiayi, para warga di minta untuk tidak sekali lagi berkata kasar atau melakukan fitnah. Sebab tidak ada bukti yang seharusnya mereka bawa untuk di jadikan asumsi. Mereka hanya terpancing fitnah oleh seorang Tini dan Wati saja. Sehingga mereka menjadi ketakutan seperti saat ini.


Para warga hanya bisa terdiam saat pak Kiayi mulai memberikan nasehatnya tersebut. Dia mengatakan jika kejadian seperti ini, seharusnya tidak kembali terulang. Itu yang harus di pikirkan matang-matang oleh setiap warga. Sehingga warga tidak akan lagi terpancing emosi dengan setiap fitnah yang coba di arahkan pada kedua anak Firman tersebut. Setiap warga harus bisa memiliki bukti dan asumsi yang kuat ketika menuntut sesuatu. Jangan hanya omong kosong belaka saja, sebab ada pihak yang di rugikan oleh apa yang di lakukan para warga tersebut. Ada keluarga Darwis yang di rugikan.


Para warga benar-benar mendengarkan ucapan dari pak Kiayi. Dia

__ADS_1


__ADS_2