Jimat Warisan

Jimat Warisan
Meminta Tumbal


__ADS_3

Kamis malam adalah waktu bagi Lutfhi dan Tini untuk kembali memandikan keris miliknya tersebut. Keris itu pun akan menjadi semakin kuat dengan ritual pemandian yang akan di lakukan oleh Lutfhi dan Tini. Mereka berdua pun sudah mempersiapkan beberapa hal yang akan di gunakan selama ritual tersebut. Salah satunya adalah dua ekor ayam hidup yang nantinya akan di gorok oleh Lutfhi untuk di hisap darahnya oleh Genderuwo tersebut.


Ada juga beberapa butir telur ayam kampung yang sudah di beli oleh Lutfhi. Telur itu nantinya akan Lutfhi persembahkan sebagai persembahan terakhir untuk Genderuwonya.


Begitu juga dengan beberapa dupa yang di bakar oleh Lutfhi. Dupa itu langsung menciptakan asap pekat yang membuat seisi ruangan di penuhi dengan asap. Suasana mistis di tempat itu semakin berasa. Suasana yang semakin membuat Lutfhi dan Tini begitu tegang.


Lutfhi mulai membaca beberapa ajian yang di persembahkan untuk Genderuwonya. Mungkin ini akan menjadi ajian yang cukup baik untuk Lutfhi. Sehingga dia begitu khusyuk dalam membaca ajian untuk Genderuwo tersebut.


Tini yang berada di samping seorang Lutfhi, tak kalah khusyuk dalam membaca ajian tersebut. Dia sudah mulai terbiasa dengan ritual yang di lakukan oleh Lutfhi. Sehingga tidak ada rasa canggung seperti pertama kali saat Tini melakukan ritual tersebut.


Usai membaca ajian tersebut, Lutfhi langsung memandikan keris tersebut dengan satu ember penuh air yang berisi kembang tujuh rupa. Lutfhi dan Tini menikmati momen yang cukup sakral bagi keduanya tersebut. Hingga mereka berdua sangat senang dengan apa yang mereka lakukan.


Usia keris itu di mandikan dengan kembang tujuh rupa. Lutfhi pun mulai menggorok leher dari dua ayam kampung yang di ada. Darah dari kedua ayam itu di tampung dalam sebuah plastik hitam. Nantinya darah itu akan di bungkus untuk di kubur di belakang rumah Tini. Darah itu akan di persembahkan untuk Genderuwo.


Semua ritual hampir selesai di lakukan oleh Tini dan Lutfhi. Keduanya kembali membereskan ruangan yang memang khusus di gunakan untuk melakukan ritual. Ruangan itu benar-benar di manfaatkan oleh Lutfhi dan Tini untuk melakukan ritual.

__ADS_1


Mereka berdua segera bergegas dari ruangan tersebut. Mereka pun siap melakukan aktivitas normal mereka kembali. Aktivitas yang akan membuat Tini dan Lutfhi terlihat seperti pasangan suami istri yang biasa saja. Tidak pesugihan yang ada, hanya ada pemandangan sebuah keluarga yang memiliki banyak usaha.


Namun saat semua peralatan ritual telah di rapikan oleh Tini dan Lutfhi. Mereka berdua kembali kedatangan sosok Genderuwo dengan penampakan yang cukup menyeramkan. Genderuwo itu begitu mengejutkan seorang Lutfhi. Dia tak menyangka Genderuwo itu akan datang tepat di hadapannya. Hingga Lutfhi pun begitu terkejut dengan kedatangan dari Genderuwo tersebut.


Apalagi Tini yang begitu ketakutan dengan sosok Genderuwo yang menyeramkan tersebut. Tini hanya bisa mengumpat di Bali tubuh seorang Lutfhi. Dia tak berani melihat wajah Genderuwo yang terlihat begitu menyeramkan tersebut. Tini pun hanya bisa melirik saja. Tidak berani menatap lama wajah Genderuwo yang nampak hitam lebam tersebut.


"Kalian mau kemana?" tanya Genderuwo tersebut.


"Kami mau pergi ke kamar." jawab Lutfhi yang sedikit ketakutan.


"Aku..... Ingin tumbal lagi." ujar Genderuwo tersebut.


Tentu apa yang di sampaikan oleh Lutfhi langsung membuat Genderuwo itu marah. Tangan Genderuwo yang di penuhi oleh cakar, langsung mencekik leher Lutfhi. Dia merasa Lutfhi telah membantah ucapannya. Sehingga Genderuwo itu begitu marah dengan apa yang di katakan oleh Lutfhi.


Melihat Lutfhi yaah begitu kesakitan di buat oleh Genderuwo tersebut. Tini pun meminta Genderuwo itu untuk melepaskan cekikan di leher Lutfhi. Ini akan menjadi cekikan yang akan membunuh Lutfhi. Tini pun mengatakan jika dirinya sudah siap memberikan tumbal baru untuk Genderuwo tersebut.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Tini. Genderuwo itu melepaskan cekikan dari leher seorang Lutfhi. Dia siap menunggu Lutfhi dan Tini memberikan tumbal baru untuk dirinya. Tumbal yang akan membuat Genderuwo itu semakin kencang.


Genderuwo itu pun siap menunggu tumbal baru yang akan di berikan oleh Tini dan Lutfhi. Mungkin dalam seminggu kedepan, Tini dan Lutfhi akan memberikan tumbal itu pada Genderuwo. Janji itu pun segera di tunggu oleh Genderuwo tersebut. Janji yang harus di tepati oleh Lutfhi dan Tini.


Genderuwo itu segera pergi dari ruangan itu. Sementara Tini langsung menolong Lutfhi yang masih kesulitan bernapas. Lutfhi benar-benar di buat tak berdaya oleh Genderuwo tersebut. Hingga Lutfhi butuh sedikit waktu untuk bernapas secara kuat.


Tini membantu Lutfhi dengan sebuah tabung oksigen. Dengan tabung itu, Lutfhi pun mulai kembali bernapas dengan normal. Dia begitu kesal dengan Genderuwo itu yang haus akan tumbal. Hingga Lutfhi sedikit mengumpat Genderuwo tersebut.


Tini meminta Lutfhi untuk tidak mengumpat pada Genderuwo tersebut. Itu akan menjadi boomerang bagi seorang Lutfhi, jika ucapan dari dirinya di dengar oleh Genderuwo itu. Tini meminta Lutfhi untuk mengatakan hal yang baik saja. Tidak harus mengatakan hal yang buruk, atau apapun.


"Lantas siapa yang akan kamu tumbalkan?" tanya Lutfhi dengan wajah penasaran.


"Aku pikir Baim, dia bisa kita tumbalkan pada Genderuwo itu. Mungkin ini juga sebagai pembalasan atas apa yang telah dia perbuat pada proyek kita." jawab Tini dengan wajah sangar.


Lutfhi tersenyum dengan begitu lebarnya. Lutfhi tidak percaya istrinya tersebut akan berpikir pad seorang Baim. Padahal benar, ini adalah pembalasan yang cukup untuk seorang Baim yang telah korupsi. Tidak harus menggunakan fisik, hanya perlu dengan sedikit sentuhan saja. Lutfhi pun bisaa membalas semua dendamnya pada seorang Baim.

__ADS_1


Lutfhi sudah tidak sabar untuk melihat Baim menjadi tumbal bagi Genderuwonya tersebut. Di mana Baim akan menjadi korban berikutnya dari keganasan Genderuwo tersebut.


Lutfhi pun sudah tidak sabar untuk melihat Baim menanggung akibat, atas apa yang di perbuat. Ini benar-benar menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri bagi seorang Lutfhi. Dia pun siap menyusun rencana agar Baim bisa menjadi tumbal dari Genderuwo tersebut.


__ADS_2