
Melihat banyak temannya yang menggendong tas sekolah menuju sekolah Lukas. Tiwi terlihat ingin pergi ke sekolah yang sama dengan teman-temannya. Namun Tiwi masih ragu untuk pergi ke sana, sebab akan ada hukuman yang mungkin saja akan dia dapat dari ibunya.
Tika menghampiri Tiwi yang terlihat bersedih dengan larangan dari ibunya. Dia kembali menceritakan bagaimana aktivitas yang di lakukan mereka ketika bersekolah. Tidak hanya belajar saja. Namun ada aktivitas lain yang di lakukan oleh para siswa. Aktivitas itu pun menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk setiap siswa. Apalagi setiap pengajar bertindak dengan begitu baiknya. Hingga mereka merasa seperti berada di tempat yang paling aman di dunia.
Tiwi pun semakin penasaran dengan sekolah tersebut. Namun Tiwi masih cukup sadar untuk pergi ke sekolah. Mengingat Tini yang sudah mengancamnya dengan ancaman yang cukup serius. Hingga Tiwi pun tak berani pergi ke sekolah. Sekali pun Tiwi begitu penasaran dengan rutinitas yang ada di sekolah.
Tiwi terus bersedih saat Tika mulai pergi dari hadapannya. Dia merasakan sebuah perasaan kesepian yang begitu teramat. Tiwi tidak memiliki banyak teman. Sehingga ketika Tika pergi ke sekolah Lukas, sudah pasti Tiwi akan merasakan kesepian di rumahnya.
Tiwi melihat ke arah rumahnya, dia tidak melihat keberadaan Tini di rumahnya. Tiwi pun terpikir untuk pergi ke sekolah Lukas tanpa ketahuan Tini. Dia ingin melihat beberapa temannya yang pergi ke sekolah.
Tiwi berlari mengejar Tika yang telah jauh meninggalkan dirinya. Dia ingin belajar bersama dengan Tika di sekolah Lukas. Sehingga mereka bisa tetap bermain di sekolah Lukas dengan beberapa teman lainnya. Itu adalah sebuah tindakan yang luar biasa.
"Apa kamu tidak akan di marahi oleh ibumu?" tanya Tika pada Tiwi.
__ADS_1
"Itu sudah pasti, tapi ibuku tidak tahu aku pergi bersama dengan dirimu." jawab Tiwi dengan ngos-ngosan.
"Apa kamu tidak takut jika nantinya ibu kamu akan tahu Tiwi?" tanya Tika kembali.
"Aku tidak peduli. Terpenting aku bisa pergi ke sekolah bersama dengan kamu di hari ini." jawab Tiwi dengan santai.
Tika tidak lagi penasaran dengan keputusan Tiwi. Mungkin dia sudah tahu resiko yang mungkin akan dia dapat dari apa yang di lakukan olehnya. Dia akan terkena sebuah masalah saat ibunya tahu Tiwi pergi ke sekolah Lukas. Apalagi ibu Tiwi begitu membenci sekolah keponakannya tersebut. Hingga Tiwi berpotensi akan mendapatkan sebuah hukuman yang cukup besar dari ibunya sendiri.
Tiba di depan sekolah, Tiwi terlihat langsung bersemangat untuk masuk ke dalam sekolah. Namun Tiwi tidak tahu harus masuk ke ruang kelas yang mana. Sebab Tiwi bukan salah satu siswa di sekolah tersebut.
"Assalamualaikum. Adek nyari siapa?" tanya Nur.
Tiwi sempat ketakutan kala Nur menyapanya. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi Nur menyapa Tiwi layaknya seseorang yang sudah saling mengenal. Tiwi pun terlihat semakin takut kala Nur meminta dirinya untuk masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Kamu murid di sini, silakan masuk." ucap Nur dengan begitu lembutnya.
Tiwi tetap terdiam, dia tak tahu harus menjawab pertanyaan dari Nur. Sampai Lukas datang menghampiri Tiwi dan Nur.
"Ada apa Nur?" tanya Lukas.
"Ini Lukas, ada anak ini. Dia terlihat bingung." jawab Nur.
Saat Lukas melihat wajah Tiwi. Tentu itu bukan hal asing bagi Lukas. Tiwi adalah sepupunya sendiri. Sehingga Lukas menyambut baik kedatangan dari Tiwi di sekolahnya tersebut. Dia juga meminta Nur memasukkan Tiwi di kelasnya.
Nur dengan senang hati membawa Tiwi ke dalam kelasnya. Untuk buku dan alat tulis yang di butuhkan oleh Tiwi, itu menjadi urusan dari Lukas. Hingga Tiwi tidak harus memikirkan alat tulis dan sebagainya.
Tak hanya di berikan alat tulis saja, Tiwi juga mendapatkan sebuah kerudung cantik dari Lukas. Kerudung itu langsung membuat Tiwi terlihat semakin cantik. Dia pun begitu bahagia saat Lukas memasangkan kerudung di kepalanya. Itu jadi momen terbaik dalam hidup Tiwi, bagaimana dia bisa merasakan mengenakan kerudung yang selama ini tidak pernah di lakukan oleh dirinya.
__ADS_1
Tiwi semakin percaya diri untuk bisa belajar ilmu agama di kelas. Dia pun duduk di samping Tika yang berada di barisan pertama. Tiwi yang buta akan ilmu agama, hanya mengikuti teman-temannya membaca doa. Hingga ia hanya mengikuti setiap ucapan dari temannya.