Jimat Warisan

Jimat Warisan
Perundingan


__ADS_3

Ima terus memeluk dua anak Firman yang nampak masih cukup ketakutan dengan kedatangan dari warga. Dia mencoba menenangkan Sandra dan Sandi. Sehingga keduanya bisa lebih tenang dengan situasi yang ada. Ima meyakinkan Sandra dan Sandi untuk tidak takut dengan apapun. Semuanya akan baik-baik saja.


Pak RT memulai perundingan itu dengan meminta alasan logis dari para warga yang ingin meminta kedua anak Firman untuk pergi dari kampung. Pak RT akan mengabulkan semua permintaan warga, jika semuanya membuat alasan yang logis untuk dirinya.


Beberapa warga mulai bersaksi di hadapan pak RT dan pak Kiayi. Mereka semalam melihat sosok kuntilanak yang benar-benar meneror mereka. Tak hanya itu, para warga juga mulai di serang oleh kuntilanak yang mereka yakini berasal dari Firman..


Kesaksian itu semakin di pertegas oleh Tini dan Lutfhi. Dia sebagai saudara dari Firman mengatakan jika memang kakaknya tersebut melakukan pesugihan terhadap kuntilanak. Itu bisa di buktikan dengan beberapa benda yang ada di rumah Firman yang berhubungan dengan kuntilanak. Tini dan Lutfhi pun jelas-jelas ingin membuat kedua anak Firman itu segera di usir dari kampung tersebut.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari para warga serta Tini dan Lutfhi. Pak RT mulai berdiskusi dengan pak Kiyai di salah satu sudut ruangan RT. Mungkin dengan diskusi itu, pak RT bisa menemukan solusi yang tepat untuk kedua anak Firman. Solusi yang akan di ambil oleh pak RT dalam menentukan nasib Sandra dan Sandi.


"Saya pikir kita harus mendengarkan aspirasi para warga. Mungkin kita harus mendengarkan mereka kali ini." ujar pak RT.


Pak Kiayi terlihat begitu berat untuk mengambil keputusan yang hendak di ambil oleh dirinya. Dia masih berat untuk memberikan sebuah keputusan bagi kedua anak Firman. Sehingga dia terlihat masih ragu untuk mengambil keputusan penting tersebut.


"Saya pun ingin mengambil keputusan itu. Tapi saya masih sedikit ragu. Apa saya bisa memutuskan ini secara tepat dan adil." Pak Kiayi dengan wajah lemasnya.

__ADS_1


Pak Kiayi mencoba memanggil Darwis dan Lukas sebagai perwakilan dua anak Firman tersebut. Dia ingin berbicara sedikit dengan keduanya. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan oleh pak Kiayi mengenai keputusan dari dirinya.


Lukas dan Darwis langsung menghampiri pak Kiyai terlihat begitu ragu. Dia ingin segera menyampaikan apa yang akan menjadi keputusan dari dirinya. Ini akan berat, tapi ini harus segera di putuskan.


"Apakah kalian ikhlas jika kedua anak Firman akan pergi dari rumah kalian?" tanya pak Kiayi.


"Tentu tidak pak Kiyai. Saya sudah menganggap keduanya seperti anak saya sendiri. Jadi akan sangat sulit untuk saya menerima kepergian mereka dari rumah saya." jawab Darwis dengan tegasnya.

__ADS_1


"Tapi para warga tentu tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus berusaha untuk mengusir kedua anak Firman dari rumah kamu. Jadi tidak ada pilihan lain, selain melepaskan kedua anak Firman untuk pergi dari rumah kamu." ujar pak Kiayi.


Darwis terdiam. Dia terlihat begitu sedih dengan apa yang ada. Bagi Darwis, rasanya cukup sedih bila harus melepaskan kedua anak Firman untuk pergi dari rumahnya. Dia masih begitu mencintai kedua anak Firman tersebut seperti dia mencintai anaknya sendiri. Sehingga akan sangat berat untuk mengusir keduanya. Apalagi keduanya sudah tidak memiliki wali sama sekali.


__ADS_2