
Tangis Iin terdengar hingga keluar rumah. Dia tak menyangka kedua anak kembarnya akan meninggalkan dirinya dengan begitu cepat. Pergi dari pangkuan Iin, untuk berada di surga Tuhan. Dena dan Deni di rasa Iin pergi begitu cepatnya meninggalkan Iin dan Irawan.
Beberapa sanak keluarga Iin mencoba menenangkan perempuan berusia 35 tahun tersebut. Mereka meminta Iin untuk ikhlas dengan apa yang terjadi pada Dena dan Deni. Sebab apa yang terjadi pada Dena dan Deni adalah kehendak dari yang maha kuasa.
Lukas berada di jajaran paling depan ketika memandikan kedua sepupunya tersebut. Dia melihat kejanggalan yang cukup aneh yang terjadi pada kedua sepupu kembarnya tersebut. Tubuh keduanya terbakar, tapi tidak ada api yang nampak membakar kedua sepupunya itu. Hingga Lukas mulai menaruh kecurigaan dengan kematian Dati Dena da Deni.
Tapi tak berselang lama, Lukas kembali pada keyakinannya untuk tidak berpikir negatif. Lukas tidak boleh memiliki pemikiran buruk akan kematian dari dua sepupunya tersebut. Lukas harus tetap percaya akan kematian dari kedua sepupunya adalah takdir dari Allah SWT semata. Bukan di sebabkan oleh seseorang, seperti guna-guna dan sebagainya. Lukas pun lebih fokus lagi memandikan jenazah kedua sepupunya tersebut.
__ADS_1
Lutfhi dan Tini tak ketinggalan untuk melayat ke rumah Irawan. Keduanya dengan mata berkaca-kaca datang untuk memberikan ucapan bela sungkawa atas kematian kedua keponakan mereka. Tini dan Lutfhi terlihat begitu natural dalam berakting, hingga tidak ada yang tahu jika keduanya adalah pelaku di balik kematian dari Dena dan Deni.
Apalagi Tini yang berpura-pura mencoba menguatkan Iin. Mengutip sebuah ayat suci, Tini meminta Iin untuk lebih ikhlas lagi dalam menerima takdir. Tini pun terus menenangkan Iin yang masih terus bersedih di dalam kamarnya.
Irawan yang juga terpukul atas kematian kedua anak kembarnya. Masih belum bisa menerima sepenuhnya kepergian dari Dena dan Deni. Jika Iin melampiaskan kesedihannya dengan menangis, Irawan justru mencoba menahan air matanya untuk tidak menangis. Mungkin dengan cara itu, Irawan bisa terlihat lebih tegar lagi dalam menerima takdir dari yang maha kuasa.
Akting Tini dan Lutfhi yang begitu mengalir seperti seorang aktris dan aktor. Pada akhirnya membuat Irawan dan Iin tidak menaruh curiga pada keduanya. Padahal sebelum kematian dari Dena dan Deni. Lutfhi dan Tini berkunjung ke rumah Irawan untuk memberikan brownies yang lahap di santap oleh Dena dan Deni. Tapi berkat kepandaian dari keduanya, akhirnya Irawan dan Tini tidak menaruh curiga pada sosok Lutfhi dan Tini yang jelas-jelas telah melakukan sebuah ritual untuk menjadikan Dena dan Deni tumbal mereka berdua.
__ADS_1
Untuk semakin membuat Irawan dan Iin tidak curiga pada Tini dan Lutfhi. Keduanya pun memberikan sumbangan dana yang bisa di gunakan oleh Irawan dan Iin untuk biaya pemakaman dari Dena dan Deni. Uang itu pun di terima dengan baik Irawan sebagai perwakilan.
Namun uang itu langsung jadi polemik besar, saat Firman yang datang untuk melayat ke rumah Irawan. Firman mengatakan jika uang yang di berikan oleh Lutfhi adalah uang panas. Uang hasil pesugihan dari Lutfhi dan Tini. Sehingga Irawan harus lebih hati-hati dengan uang tersebut.
Dari ucapan Firman itulah, Irawan mulai menaruh curiga pada Lutfhi dan Tini. Walaupun di bantah oleh Lutfhi dengan begitu serius. Dia bahkan menyebut nama Tuhan untuk semakin membuat orang-orang percaya, jika apa yang di lakukan oleh Lutfhi adalah tindakan yang benar. Tindakan yang tidak menyalahi aturan. Lutfhi mendapatkan uang itu secara halal, tidak hasil pesugihan seperti yang di ucapkan oleh Firman.
Lukas pun mencoba menengahi keributan yang terjadi antara Lutfhi dan Firman. Lukas meminta Firman untuk tidak menuduh Lutfhi, jika tanpa adanya bukti. Sebab ucapan dari Firman bisa saja menjadi sebuah fitnah. Selain bisa mendapatkan dosa, Firman juga bisa di jerat hukum dengan ucapannya tersebut. Sehingga Lukas meminta Firman untuk lebih berhati-hati lagi dalam berucap.
__ADS_1