
Beberapa anggota keluarga Tini mulai mendatangi kediaman rumah Tini yang besar tersebut. Mereka ingin ikut acara syukuran dari rumah Tini yang di sarankan oleh ibunya. Dengan pakaian yang sudah rapi, mereka membawa makanan yang sebenarnya di rumah Tini pun sudah terdapat cukup banyak makanan.
Beberapa tetangga Tini yang di undang dalam acara itu. Juga datang ke rumah Tini untuk memberikan selamat atas rumah baru Tini itu. Mereka terlihat mengagumi rumah Tini yang begitu besarnya. Apalagi saat Tini menunjukkan beberapa koleksi barang mewahnya pada para tetangganya. Mereka terlihat begitu kagum dengan kekayaan dari Tini.
Kakak Tini yang bernama Irma mengingatkan Tini untuk tidak terlalu menyombongkan dengan apa yang di miliki oleh Tini saat ini. Sebab kesombongan dari Tini, bukan tidak mungkin akan membuat Tini mendapatkan hal yang buruk.
Tapi Tini yang sudah tidak peduli dengan setiap nasehat dari keluarganya. Tidak memperdulikan semua kesombongan yang dia pamerkan. Baginya ini adalah bentuk dari kesuksesan seorang Lutfhi yang telah membawa perubahan berarti dalam hidup Tini. Semua kekayaan yang Tini miliki saat ini, layak untuk Tini pamerkan pada semua orang. Termasuk tetangganya sendiri.
Melihat Tini dan Ira berselisih paham, ibunya meminta kedua anaknya itu untuk kembali berdamai. Dia tidak ingin ada perselisihan yang cukup pelik antara anak-anaknya. Hingga keduanya di minta untuk lekas berdamai dengan apa yang terjadi.
Acara syukuran itu pun langsung di mulai. Terlebih seorang tokoh agama yang biasa memimpin acara syukuran sudah datang ke rumah Lutfhi. Semuanya pun sudah siap membacakan doa-doa baik bagi rumah Lutfhi.
Belum membaca doa, sebuah insiden terjadi. Dimana sebuah lukisan besar bergambar wajah harimau yang berada di dinding rumah Lutfhi. Terjatuh secara tiba-tiba. Lebih parahnya lagi, lukisan besar itu menimpa seorang warga yang ada di bawahnya. Sontak salah seorang warga itu pun jatuh pingsan tertimpa lukisan besar tersebut.
__ADS_1
Tak hanya lukisan yang mulai jatuh dari atas dinding saja. Tapi ada beberapa gelas yang berada di atas karpet dan meja, juga secara perlahan mulai berjatuhan. Semuanya merupakan ulah dari genderuwo yang tidak senang dengan syukuran yang di adakan oleh Lutfhi dan Tini.
Beberapa tetangga Lutfhi yang mulai ketakutan dengan peristiwa aneh yang terjadi di rumah Lutfhi. Perlahan membuat mereka memilih untuk kabur. Apalagi suasana sedikit mencekam terjadi ketika lampu di rumah Lutfhi tiba-tiba padam secara keseluruhan. Sontak semua warga berhamburan keluar dari rumah Tini dan Lutfhi.
Tini dan Lutfhi yang menyadari itu adalah ulah dari genderuwo. Khawatir akan banyak warga yang tahu akan pesugihan yang telah di lakukan oleh dirinya. Hingga berharap para warga tidak akan mengetahui semua yang terjadi.
Tak sampai di situ saja, Ira yang ketakutan dengan suasana mencekam di rumah baru Lutfhi. Tiba-tiba kesurupan oleh ulah dari genderuwo tersebut. Mata Ira tiba-tiba memerah, sebelum Ira mengacak-acak semua makanan yang ada di hadapannya.
Tokoh agama yang sebenarnya akan memimpin doa untuk syukuran di rumah Tini dan Lutfhi. Langsung menjadi orang pertama yang di serang oleh Ira. Ira dengan tenaga yang di bantu oleh genderuwo seram milik Lutfhi. Langsung melayangkan satu pukulan keras ke arah wajah tokoh agama tersebut. Sontak tokoh agama yang mendapatkan pukulan keras dari Ira, langsung tergeletak jatuh. Dia tidak dapat berdiri, saat Ira langsung memukuli tubuh dari tokoh agama itu secara membabi buta. Belum lagi teriakan yang Ira keluarkan. Semakin menambah suasana mencekam yang ada di rumah Lutfhi.
Lutfhi yang tidak ingin semakin banyak korban dari ulah genderuwo. Berlari secepat mungkin ke ruangan tempat dirinya biasa melakukan ritual. Seketika genderuwo berbadan besar itu muncul. Lalu langsung mencekik Lutfhi dengan begitu kerasnya.
Kedua mata genderuwo itu menatap tajam wajah Lutfhi. Mengistirahatkan kemarahan yang begitu besar dari dirinya. Sebelum genderuwo itu benar-benar mengucapkan penyebab dirinya yang marah pada Lutfhi.
__ADS_1
"Untuk apa kamu membuat syukuran. Kamu itu seharusnya menyiapkan tumbal untukku. Bukan buat syukuran seperti itu." ucap genderuwo dengan nada marah.
Dengan leher yang di cekik kuat oleh genderuwo miliknya sendiri. Lutfhi berusaha mengucapkan kata-kata yang bisa membuat dirinya bisa bebas dari cengkraman genderuwo miliknya sendiri. Lutfhi pun mengucapkan janji pada genderuwo itu untuk membubarkan acara syukuran yang di adakan di rumah barunya tersebut. Lutfhi siap menumbalkan seekor kerbau besar untuk genderuwo tersebut.
Perlahan cekikan genderuwo di leher Lutfhi itu langsung di lepaskan. Dengan napas yang terengah-engah, Lutfhi kembali ke tempat syukuran di rumahnya. Dia ingin segera mengakhiri acara syukuran yang di tentang oleh genderuwo miliknya sendiri.
Lutfhi dengan penuh amarah, mengusir setiap orang yang masih ada di rumahnya. Termasuk mertuanya, juga Ira yang di minta untuk di bawa pulang oleh mertuanya tersebut. Dia tidak ingin genderuwo peliharaannya marah dengan kehadiran orang-orang tersebut.
Seketika orang-orang yang masih tersisa di rumah Lutfhi, pergi secara bergerombol. Mereka ketakutan dengan Lutfhi yang semakin marah. Apalagi amarah Lutfhi terlihat begitu membara saat masih melihat orang-orang yang ada di rumahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Tini pada Lutfhi.
"Genderuwo itu marah. Dia tidak suka kita buat syukuran seperti itu." jawab Lutfhi dengan wajah sangarnya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku pun sudah menduga dia akan marah. Aku hanya tidak enak saja dengan ibu. Maafkan aku." ujar Tini.
Lutfhi tidak marah dengan semua itu. Tapi Lutfhi harus segera mencari seekor kerbau besar yang akan di tumbalkan pada genderuwo besar miliknya. Permintaan dari genderuwo itu tidak boleh di tolak oleh Lutfhi.