
Untuk membuktikan semua ucapan dari seorang Baim adalah sebuah kebenaran. Lutfhi mencoba mendatangi proyek pembangunan perumahan yang sedang di garap oleh seorang Baim. Dia terlihat begitu penasaran dengan kinerja para pekerjanya. Mungkinkah mereka sesuai dengan apa yang di sebutkan oleh Baim. Di mana para pekerja itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat, serta bekerja tidak sesuai dengan ekspektasi.
Lutfhi bersiap mengejutkan para pekerja dengan kedatangan dari dirinya yang secara tiba-tiba. Ini akan jadi kedatangan dari Lutfhi yang sangat tidak di sangka. Lutfhi akan membuat semua pekerja di proyek itu terkejut dengan kedatangan dari dirinya. Ini harus menjadi sebuah kejutan yang akan membuat semua pekerja menjadi panik.
Tini sebenarnya ingin ikut mendampingi seorang Lutfhi untuk datang ke proyek. Tapi kali ini Lutfhi pikir Tini tidak harus ikut bersama dengan dirinya. Ini akan menjadi tugas seorang Lutfhi. Dia sendiri yang akan datang ke tempat itu, untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak seperti yang di ceritakan oleh seorang Baim akan para pekerja yang bekerja tidak sesuai dengan ekspektasi.
"Untuk apa kamu ikut ke sana?" tanya Lutfhi merapikan jaketnya di depan cermin.
"Aku ingin lihat saja. Sambil aku jalan-jalan saja." jawab Tini memainkan perhiasan di tangannya.
"Tidak usah, di sana panas. Emang kamu mau kulit kamu yang mulus itu jadi hitam. Tapi gak apa-apa juga kalau memang kamu mau ikut denganku." ujar Lutfhi.
Tini mulai berpikir, mungkin apa yang di sampaikan oleh seorang Lutfhi adalah sebuah kebenaran. Tidak seharusnya dia ikut bersama dengan Lutfhi. Ini menjadi satu hal yang seharusnya tidak di lakukan oleh Tini. Proyek itu penuh dengan material bahan bangunan yang membuat kulit rusak. Seharusnya Tini bisa mengantisipasi hal tersebut. Bukan justru malah ingin ikut ke sana. Tini pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk ikut bersama dengan Lutfhi menuju proyek.
Lutfhi kembali bertanya pada seorang Tini. Kali ini Tini dengan penuh keyakinan, mengatakan jika dia tidak bersedia untuk ikut bersama dengan Lutfhi menuju proyek. Tini takut kulitnya akan rusak oleh sinar matahari serta material bahan bangunan yang akan menghancurkan kulitnya.
__ADS_1
Lutfhi pun akhirnya pergi ke proyek itu sendiri saja. Tanpa di temani oleh seorang Tini yang biasanya terus membuntuti dirinya seperti anak ayam yang membuntuti induknya. Tini memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Tini pikir ini jauh lebih baik, daripada harus ikut bersama dengan seorang Lutfhi.
Lutfhi pun menggunakan sebuah motor besar keluaran dari pabrikan Amerika untuk pergi ke proyek. Padahal jarak proyek ke rumahnya tersebut tidak terlalu jauh. Namun Lutfhi sengaja menggunakan motor itu untuk pamer pada orang-orang di kampungnya. Lutfhi ingin memamerkan motor tersebut pada seluruh warga kampung. Dia memiliki motor baru yang bagus, itu akan membuat seluruh penduduk kampung semakin kagum akan kekayaan dari seorang Lutfhi.
Lutfhi pun mengendarai motor itu dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Dia membawa motor itu dengan laju yang tak terlalu cepat, sehingga ada banyak orang yang dia temui di jalanan. Mereka pun begitu kagum akan motor baru Lutfhi yang terlihat mempesona. Hitam bukan sembarang hitam, hitam ini penuh dengan kilapan. Sehingga bagi mereka yang memiliki motor itu, sudah pasti mereka akan terlihat berkilau di tengah kilapan hitam yang terpancar di motor tersebut.
Lutfhi pun terus melajukan motornya dengan kecepatan pelan. Dia benar-benar menikmati suasana jalanan yang penuh dengan warga. Sehingga tujuan dia untuk pamer motor baru benar-benar tercapai. Lutfhi pun begitu puas dengan apa yang di lakukan oleh dirinya. Di mana dia merasakan kebahagiaan tersendiri telah memamerkan motor barunya tersebut.
Tak jauh dari proyeknya, Lutfhi mulai memantau pekerjaan dari setiap pekerja bangunan yang ada. Dia terus melihat bagaimana cara mereka bekerja. Apakah seperti yang Baim katakan, mereka bekerja secara malas-malasan. Atau itu hanya fitnah semata dari seorang Baim.
Pantauan Lutfhi kini mulai mengarah pada seorang Baim. Dia terus memperhatikan seorang Baim yang nampak terlihat asyik bermain handphone. Lutfhi mulai muak dengan apa yang di lakukan oleh seorang Baim. Hingga Lutfhi tahu, Baim justru yang bekerja tidak sesuai ekspektasi.
Lutfhi mengambil handphone dari jaket bajunya. Dia tak mulai merekam Lutfhi dari kejauhan. Ini penting di lakukan oleh seorang Lutfhi, sebab ini akan menjadi bukti kuat akan kebohongan dari seorang Baim.
Baru beberapa detik Lutfhi merekam apa yang di lakukan oleh seorang Baim. Dia melihat dua orang berpakaian kaos serta celana pendek mendatangi Baim. Mereka bertiga terlihat begitu akrab. Entah apa yang sedang di bicarakan oleh ketiganya. Namun mereka benar-benar terlihat begitu akrab. Hingga Lutfhi begitu penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh ketiganya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Baim masuk ke dalam saung. Dia mengeluarkan beberapa barang dari saung. Barang-barang itu merupakan barang-barang proyek yang terlihat masih dalam keadaan baik. Itu dapat di lihat dengan jelas oleh seorang Lutfhi.
Tak ingin Baim menjual barang-barangnya tersebut, Lutfhi pun langsung menghampiri Baim yang masih bersama dengan dua orang pria tadi. Baim begitu terkejut melihat kedatangan dari seorang Lutfhi. Wajahnya penuh ketakutan melihat Lutfhi yang sangat marah pada seorang Baim.
Baim berusaha tenang, tapi Lutfhi terlanjur tidak percaya lagi dengan seorang Baim. Lutfhi pun akhirnya tahu, selama ini Baim adalah orang yang mengambil barang-barang di proyek Lutfhi. Bukan pekerja lain, seperti yang di ucapkan oleh Baim.
"Saya tidak menyangka sama kamu Baim. Saya sudah berikan kamu amanah yang besar. Tapi kamu justru malah mengkhianati amanah itu. Kurang apa saya ke kamu Baim selama ini. Sehingga kamu tega menjual barang-barang yang ada di proyek saya." ucap Lutfhi dengan begitu marahnya.
Tidak ingin terbawa dalam masalah yang tengah di hadapi oleh seorang Baim. Dua orang pria yang hendak membeli barang-barang yang di jual oleh Baim. Akhirnya memutuskan untuk pergi dari hadapan Lutfhi dan Baim. Namun sebelum pergi, Lutfhi ingin tahu apa yang telah di jual oleh Baim pada kedua orang tersebut.
Awalnya kedua orang tersebut tidak mau mengakui. Namun saat Lutfhi mengatakan jika dirinya memiliki teman seorang polisi. Keduanya langsung ketakutan, hingga akhirnya mereka berdua mengatakan barang-barang yang telah di jual oleh Baim. Barang-barang itu tentu adalah bahan bangunan untuk proyek pembangunan perumahan tersebut.
Lutfhi semakin marah pada Baim. Kedua matanya nyaris keluar mendengar pengakuan dari kedua orang yang menjadi penadah barang curian dari Baim.
Lutfhi mendekat ke arah seorang Baim. Dia menatap wajah Baim dengan begitu marahnya. Tangan kanannya mulai dia kepal. Sebelum akhirnya satu pukulan langsung di layangkan oleh seorang Lutfhi tepat di perut seorang Baim yang akhirnya langsung tersungkur oleh pukulan yang di lakukan Lutfhi.
__ADS_1
Sejak saat itu juga, Baim resmi di pecat dari posisinya sebagai seorang mandor. Dia juga harus segera pergi dari proyek Lutfhi. Lutfhi benar-benar muak dengan Baim. Dia merasa Baim adalah orang yang tidak tahu diri, sehingga wajar bagi seorang Lutfhi memberikan hukuman tersebut.