
Apa yang di takutkan oleh Tini dan Lutfhi benar-benar terjadi. Genderuwo itu mengamuk hebat di dalam kamar Lutfhi dan Tini. Dia menjatuhkan semua barang-barang yang ada di kamar Tini dan Lutfhi. Genderuwo itu tanpa ampun membuat kamar Tini dan Lutfhi berantakan. Semua benda yang ada di kamar itu di buat berserakan oleh Genderuwo yang haus akan tumbal tersebut.
Angin yang berhembus dengan kencang semakin membuat suasana kamar mencekam. Lutfhi dan Tini yang berada di dalam kamar, terlihat semakin tidak berdaya dengan serangan yang di lakukan oleh Genderuwo tersebut. Apalagi saat Genderuwo itu mulai menjatuhkan benda-benda besar yang ada di kamar mereka. Itu cukup membuat Lutfhi dan Tini hampir celaka.
Sebuah lemari hias hampir saja menimpa tubuh Tini. Begitu juga lampu yang tiba-tiba jatuh dari atas yang hampir menimpa kepala Lutfhi. Beruntung keduanya masih bisa selamat dengan apa yang ada. Sehingga keduanya aman dari serangan yang di lakukan oleh Genderuwo tersebut. Namun keduanya tetap tidak bisa tenang. Sebab Genderuwo yang mengamuk itu, terus mengincar keduanya. Benda-benda yang berterbangan itu terus mengincar kepala dari Lutfhi dan Tini. Hingga mereka berdua harus berhati-hati dengan apa yang di lakukan oleh Genderuwo tersebut.
Tidak kuat dengan serangan yang di lakukan oleh Genderuwo tersebut. Tini dan Lutfhi berusaha pergi dalam kamar. Mereka tidak kuat bila harus terus berada di dalam kamar. Apalagi serangan dari Genderuwo itu semakin masif menyerang mereka. Itu cukup membuat mereka kerepotan dengan apa yang ada. Mereka pun harus segera pergi dari dalam kamar. Sebelum mereka benar-benar babak belur di buat oleh Genderuwo tersebut.
Namun apalah daya, begitu mereka ingin membuka pintu kamar. Kunci pintu kamar tersebut tiba-tiba hilang. Hingga mereka tentu tidak bisa keluar dari kamar tersebut. Mereka pun harus terkurung di kamar tersebut dengan Genderuwo yang semakin tidak terkendali.
Tentu Lutfhi dan Tini melakukan cara terakhir untuk membuat Genderuwo itu bisa jauh lebih baik lagi. Dia bersimpuh untuk memohon pada Genderuwo agar tidak melakukan tindakan yang lebih agresif lagi. Apalagi Genderuwo itu semakin tidak terkendali. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri untuk Lutfhi dan Tini. Mereka harus bisa benar-benar membuat Genderuwo itu tidak melakukan tindakan yang lebih agresif lagi.
__ADS_1
Bersimpuh sepertinya solusi yang baik. Genderuwo itu menghentikan aksinya. Namun Genderuwo itu langsung mencekik Lutfhi dengan begitu kuatnya. Hingga Lutfhi tidak mampu bernapas dengan baik. Dia pun seperti akan meninggal dengan cekikan kuat yang di lakukan oleh Genderuwo tersebut. Apalagi kuku-kuku dari Genderuwo itu mulai menusuk leher Lutfhi. Itu membuat Lutfhi semakin tidak berdaya dengan apa yang di lakukan oleh Genderuwo tersebut.
Tini yang melihat suaminya tidak berdaya di buat oleh Genderuwo tersebut. Hanya bisa menangis dengan apa yang di lakukan oleh Genderuwo itu pada Lutfhi. Apalagi Genderuwo itu melakukan semuanya dengan dasar amarah pada Lutfhi yang besar. Dia begitu kecewa pada Lutfhi yang gagal memberikan dirinya tumbal yang di harapkan oleh Genderuwo. Tumbal yang seharusnya bisa menjadi tumbal yang manis untuk Genderuwo. Bukan seorang tumbal yang tentu tidak baik untuk Genderuwo.
Tini memohon pada Genderuwo itu untuk melepaskan suaminya. Tini meminta waktu pada Genderuwo. Hingga Tini akan menumbalkan seseorang dari anggota keluarganya pada Genderuwo tersebut. Tini berjanji akan segera menemukan tumbal yang sesuai dengan harapan dari Genderuwo tersebut. Tumbal yang akan membuat Genderuwo itu puas. Tentu tumbal yang nyata, bukan seorang yang di lindungi oleh Lukas. Sehingga tumbal itu sulit untuk di dapatkan oleh Genderuwo tersebut.
Genderuwo itu akhirnya memberikan Tini dan Lutfhi waktu kembali. Namun kali ini dengan sebuah jaminan. Dia tidak ingin kembali di bohongi oleh Lutfhi dan Tini. Genderuwo itu merasa Tini dan Luthfi sudah cukup sering membohonginya. Sehingga sudah saatnya Tini dan Lutfhi tidak bermain-main lagi dengan Genderuwo tersebut. Jika masih bermain dengan Genderuwo itu, Tini dan Lutfhi akan benar-benar kehilangan satu dari dua anaknya. Itu ancaman yang cukup serius dari Genderuwo tersebut.
Suasana yang mencekam itu perlahan mulai kembali kondusif. Tidak ada barang yang melayang seperti sebelumnya. Begitu juga dengan kunci yang sempat hilang. Tiba-tiba kunci tersebut sudah ada di tempat semula. Semuanya berjalan normal seperti sediakala, tidak ada suasana yang menakutkan yang membuat kondisi di kamar Lutfhi dan Tini terlihat seperti neraka. Semuanya sudah berjalan normal dan sudah sangat baik.
Lutfhi dan Tini merasa lega dengan apa yang ada. Namun mereka juga harus segera memikirkan tumbal yang akan mereka persembahkan pada Genderuwo tersebut. Jika tidak segera menemukan tumbal tersebut. Bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan salah satu anak dari mereka itu sendiri. Ini menjadi tantangan yang cukup sulit bagi semuanya. Apalagi Lutfhi dan Tini sudah berjanji untuk tidak berbohong lagi pada Genderuwo tersebut.
__ADS_1
"Siapa yang akan kita korbankan pada Genderuwo tersebut?" tanya Lutfhi dengan wajah bingung.
"Tidak tahu. Aku hanya ingin membuat Genderuwo itu diam saja. Mungkin dengan begitu Genderuwo itu akan berhenti mencekik kamu." jawab Tini dengan wajah pasrah.
"Terus kamu tahu apa yang mungkin akan terjadi pada anak kita. Mungkin anak kita akan dalam bahaya besar Tini. Seharusnya kamu tahu hal itu, sehingga kamu tidak akan melakukan tindakan yang konyol tersebut." ucap Lutfhi penuh ketakutan.
"Konyol. Kamu bilang ini konyol, kamu hampir mati di cekik oleh Genderuwo itu. Aku hanya tidak ingin kita mati secepat itu oleh Genderuwo tersebut. Kita harus memusnahkan Genderuwo itu." ucap Tini.
"Caranya?" tanya Lutfhi dengan wajah penuh harap.
"Kita bakar keris itu. Aku pikir semuanya akan berakhir saat keris itu sudah tidak ada lagi. Ini semua karena keris itu. Kita harus bakar keris itu secepatnya." jawab Tini dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Ide dari Tini itu di setujui oleh Lutfhi. Dia pun siap membakar keris yang di selama ini menjadi tempat mereka melakukan pemujaan. Keris yang menghancurkan hidup mereka dengan Tuhan. Tentu keris kematian yang akan membunuh satu persatu anggota keluarganya.