
Kabar kematian dari Fajar dan Tiwi langsung terdengar ke seluruh penjuru kampung. Lutfhi mengabarkan jika kedua anaknya meninggal akibat jatuh saat bermain di atas balkon. Tini dan Lutfhi yang tidak ingin warga lainnya tahu akan pesugihan yang di jalani oleh mereka berdua. Tetap menutupi semua kebusukan dari keduanya.
Para warga tentu percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Tini dan Lutfhi. Sebab Tini dan Lutfhi selama ini di anggap sebagai sosok yang baik. Walaupun terkadang Tini dan Lutfhi kerap memaksa orang-orang untuk menjual tanahnya. Namun mereka adalah sosok yang dermawan. Sehingga banyak di pandang warga sebagai pasangan suami istri yang sholeh dan sholehah.
Ima juga percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Lutfhi dan Tini. Dia pun bersedih atas peristiwa yang terjadi pada kedua anak Lutfhi dan Tini tersebut. Ima pun langsung mengajak seluruh anggota keluarganya untuk datang ke rumah Tini dan Lutfhi dalam rangka melayat ke rumah duka.
__ADS_1
Lukas menjadi salah satu rombongan yang ikut dalam perjalanan menuju rumah Tini dan Lutfhi. Dia terus mendoakan banyak hal baik pada kedua sepupunya tersebut. Lukas tidak menyangka keduanya akan meninggal di waktu yang bersamaan.
Suasana di rumah Lutfhi dan Tini pun terlihat begitu ramai. Banyak orang yang melayat ke rumah Lutfhi dan Tini. Para warga itu terlihat memberikan ucapan belasungkawa pada Lutfhi dan Tini atas peristiwa yang di alami oleh mereka berdua.
Tini dan Lutfhi pun tidak bergeming saat para warga mulai mengucapkan kalimat belasungkawa pada mereka berdua. Hingga keduanya hanya bisa terdiam dengan apa yang ada. Mereka terlihat begitu bersedih dengan peristiwa yang mereka alami tersebut.
__ADS_1
Semua orang tentu terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Tini dan Lutfhi. Mengingat Ima adalah kakak kandung dari Tini, sehingga akan sangat heran bagi orang-orang dalam merespon sikap Tini pada Ima. Dia terlihat membenci kakak kandungnya tersebut. Padahal Ima dan keluarga besarnya hanya datang untuk melayat saja.
Tini sudah tidak peduli lagi dengan status Ima seperti apa. Terpenting dia bisa mengusir Ima dan keluarganya dari hadapan Tini dan Lutfhi. Keduanya benar-benar tidak mau rumah mereka di masuki oleh keluarga Ima. Apalagi Lukas yang telah menggagalkan rencana dari Tini dalam menjadikan Sandra sebagai tumbal pada Genderuwo miliknya. Itu adalah bagian yang paling menyakitkan bagi Tini. Sehingga tumbal itu berganti menjadi kedua anak Tini dan Lutfhi.
Ima menangis dengan sikap yang di tunjukkan oleh Tini. Ima merasa tidak memiliki kesalahan yang besar. Namun sikap dari Tini pada Ima begitu kasar. Tini dan Lutfhi seperti tidak ingin bertemu dengan Ima, padahal Ima adalah sosok yang selalu mendoakan Tini. Dia tidak pernah berhenti berdoa untuk Tini. Namun Tini justru malah bersikap kurang ajar pada Ima. Dia tidak peduli dengan apa yang di lakukan oleh Ima selama ini. Padahal Ima sudah melakukan yang terbaik dalam memberikan perlindungan terhadap Lutfhi dan Tini. Namun keduanya tidak menganggap itu sebagai bagian dari kasih sayang yang di tunjukkan oleh Ima pada Lutfhi dan Tini.
__ADS_1
Tidak ingin terjadi keributan di depan jenazah Fajar dan Tiwi. Lukas pun mengajak Ima dan keluarganya untuk pergi dari rumah Lutfhi dan Tini. Dia merasa ini akan berat, jika mereka masih berada di dalam rumah yang sama. Sehingga mereka harus segera pergi untuk membuat Lutfhi dan Tini lebih tenang lagi. Sehingga keduanya akan bisa lebih fokus untuk menguburkan jenazah dari Fajar dan Tiwi.
Ima pun mengalah, dia mengurungkan niat untuk melihat jenazah dari Fajar dan Tiwi. Mereka sudah tidak