
Berbagai peralatan sudah di siapkan Lutfhi untuk memanggil genderuwo yang ada di dalam keris miliknya. Peralatan itu meliputi dupa, kembang 7 rupa dan pastinya beberapa jimat yang memang sudah di siapkan Lutfhi untuk melakukan santet pada seorang Agung.
Kini Lutfhi tinggal mengambil keris yang menjadi tempat bersemayam genderuwo berbadan besar tersebut. Lutfhi sudah tidak sabar untuk melakukan santet pada seorang Agung. Mengingat Agung telah melakukan hal yang menurut Lutfhi tidak beretika pada dirinya.
Di saat semua peralatan untuk menyantet Agung sudah tersedia. Lutfhi pun bersiap untuk melakukan santet yang pedih pada seorang Agung. Baginya ini akan jadi santet yang paling menyakitkan untuk Agung. Sama halnya ketika Lutfhi di santet oleh Agung. Lutfhi ingin Agung merasa apa yang Lutfhi rasakan saat itu.
Lutfhi mulai membaca beberapa jimat yang memang harus di baca olehnya. Jimat-jimat yang Lutfhi baca adalah jimat untuk memanggil genderuwo peliharaan miliknya. Dengan bertemu langsung dengan genderuwo seram tersebut. Lutfhi bisa meminta genderuwo tersebut untuk melakukan serangan pada tubuh seorang Agung. Hingga Agung akan merasakan sakit teramat dengan serangan santet yang di lakukan oleh Lutfhi pada dirinya tersebut.
Lutfhi mulai melakukan praktek yang dia sebut sebagai praktek pemanggilan genderuwo. Lutfhi memanggil genderuwo miliknya tersebut dengan sebuah ritual sederhana. Menabur kembang 7 rupa di atas keris sakti miliknya. Dengan segera, Lutfhi pun membaca beberapa jimat yang akan segera memanggil sosok genderuwo yang bersemayam di keris tersebut.
Lutfhi terlihat begitu santai saat genderuwo itu mulai muncul di hadapan wajahnya. Tidak seperti hari-hari yang lalu, di mana Lutfhi begitu ketakutan dengan kedatangan genderuwo tersebut. Kini Lutfhi sudah terlihat lebih santai akan kedatangan dari genderuwo seram tersebut.
Lutfhi yang telah di bukakan mata batinnya oleh dukun kancil. Dapat berkomunikasi baik dengan genderuwo seram tersebut. Sehingga dia tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan genderuwo itu. Termasuk juga saat Lutfhi memerintahkan genderuwo itu untuk menyerang Agung. Menyakiti bagian tubuh Agung yang di rasa bisa di sakiti oleh genderuwo seram itu.
Perlahan, genderuwo seram itu langsung pergi dari kediaman rumah Lutfhi. Dengan segera dia pergi menuju rumah Agung yang tak jauh dari rumah Lutfhi. Genderuwo itu siap memberikan rasa sakit yang teramat bagi Agung yang telah menyakiti tuannya tersebut. Sehingga sebuah santet kejam layak untuk mengganti rasa sakit hati seorang Lutfhi pada Agung.
Agung yang sedang terlelap tidur, tiba-tiba langsung merasakan sakit di bagian kepalanya. Genderuwo itu berada di kepala Agung, mengacak-acak isi kepala Agung. Hingga Agung benar-benar di buat pusing oleh genderuwo seram tersebut. Agung yang awalnya sedang terlelap tidur, seketika bangun dengan kedatangan genderuwo yang masuk kedalam kepalanya secara tiba-tiba tersebut.
Agung merasakan sakit yang teramat di bagian kepalanya. Hingga dia harus berteriak sekencang mungkin dengan rasa sakit yang harus di alami oleh dirinya di bagian kepala. Agung terlihat begitu kesakitan dengan apa yang terjadi di kepalanya tersebut.
__ADS_1
Mendengar teriakan Agung yang berteriak kesakitan, istri Agung langsung panik dengan kondisi Agung tersebut. Hingga istri Agung memanggil beberapa karyawannya untuk menolong Agung yang terus berteriak kesakitan.
Genderuwo itu sempat pergi dari bagian kepala Agung. Menyudahi aksinya di bagian kepala Agung tersebut. Hingga Agung merasakan sedikit rasa aman. Namun itu hanya sementara, sebelum genderuwo Lutfhi itu kembali menyerang Agung di bagian lainnya.
Kini genderuwo itu mulai menyerang bagian perut Agung. Sama seperti di bagian kepala, genderuwo seram tersebut melakukan hal yang sama. Dimana genderuwo itu membakar bagian perut seorang Agung. Hingga perutnya begitu terasa panas. Serasa ada api di bagian perut Agung tersebut. Agung pun langsung berlari ke kamar mandi untuk mendinginkan bagian perutnya yang terbakar.
Beberapa gayung air langsung di siram Agung di bagian perutnya. Mungkin itu bisa membuat perut Agung sedikit lebih dingin lagi dengan air yang di siramkan di perutnya. Namun genderuwo Lutfhi yang terus membakar perut Agung. Menciptakan rasa panas yang semakin terasa di bagian perut Agung, hingga Agung tidak bisa lagi menahan rasa panas tersebut. Agung pun langsung berlari ke arah kolam renang. Dimana mungkin di kolam renang itu, Agung bisa mendinginkan bagian perutnya yang masih terasa panas.
Istri Agung semakin panik melihat apa yang terjadi pada Agung. Begitu juga dengan anak-anak Agung yang terus menangis melihat Agung yang terlihat aneh. Tidak ada yang menyakiti Agung, tapi Agung terlihat seperti ada seseorang yang menyakiti dirinya.
Ketika rasa panas itu mulai hilang, Agung yang sudah basah kuyup usai menyemburkan diri ke dalam kolam renang. Kembali naik ke atas, sekedar untuk kembali mengeringkan badannya yang telah basah tersebut. Agung pun terlihat begitu lemas dengan berbagai serangan yang di lakukan oleh genderuwo milik Lutfhi. Sehingga Agung terlihat tidak berdaya saat berada di pinggir kolam renang miliknya.
Kedua anak dan istrinya langsung menghampiri Agung yang basah kuyup. Mereka menangisi keadaan Agung yang begitu lemah tersebut. Hingga ketiganya tidak mampu menyembunyikan kesedihan yang mereka rasakan atas kondisi dari seorang Agung.
Agung memang sudah bisa di ajak komunikasi. Dia sudah bisa menjelaskan rasa sakit yang dia rasakan. Sehingga istri Agung bisa mengobati rasa sakit dan panas yang membakar tubuhnya. Walaupun itu tidak terlalu membantu dari rasa sakit yang sebenarnya di rasakan oleh Agung. Santet Lutfhi yang kuat, tetap membuat Agung tidak berdaya. Sekali pun sudah coba di tangkal oleh istri Agung.
Baru beberapa saat genderuwo itu melepaskan gangguannya pada Lutfhi. Genderuwo itu kembali melakukan tindakan yang benar-benar membuat Agung terkejut.
Tiba-tiba genderuwo berbadan hitam besar itu menindih tubuh Agung yang sedang berbaring di atas kasur. Sontak seluruh badan Agung tidak dapat digerakkan. Hanya kedua bola mata Agung saja yang dapat di gerakkan. Sementara seluruh badan Agung terasa kaku, ditindih oleh genderuwo berbadan besar tersebut.
__ADS_1
Sebagai bentuk perlawanan terakhir yang di lakukan oleh Agung. Agung hanya bisa menangis meneteskan air mata. Agung yang sudah tidak pernah mengingat kembali Tuhan. Melupakan pertolongan Tuhan yang besar. Padahal sejatinya Tuhan yang dapat menolong Agung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tuhan yang akan membantu Agung sepenuhnya. Tapi Agung melupakan Tuhan yang maha berkuasa tersebut. Dia hanya menangis sebagai bentuk perlawanan terakhir pada santet yang di kirim oleh Lutfhi tersebut.
Anak dan istrinya yang tidak pernah di didik dengan nilai-nilai keagamaan, juga tidak terpikir untuk membaca ayat-ayat suci untuk sedikit menenangkan Agung. Semuanya hanya menangis, menangis dan menangis saja. Tidak terpikir untuk sedikit membaca doa baik yang bisa membuat Agung lebih baik lagi.
Agung semakin tidak berdaya, saat tangan besar genderuwo itu mulai mengarah pada lehernya. Agung hanya bisa berpasrah dengan apa yang hendak di lakukan oleh genderuwo tersebut. Sebab seluruh tubuhnya tidak dapat di gerakkan. Mulutnya sudah tidak bisa mengucap sepatah kata pun. Agung hanya menatap takut wajah genderuwo seram tersebut. Tanpa bisa melakukan perlawanan apapun pada sang genderuwo.
Ketika leher Agung dicekik kuat oleh genderuwo tersebut. Agung hanya bisa berpasrah diri. Dia tidak tidak bisa melakukan apapun lagi. Sehingga genderuwo itu dengan mudah mencekik leher Agung sekuat mungkin.
Cekikan kuat yang di lakukan oleh genderuwo pada Agung. Seketika membuat bagian wajah Agung berubah menjadi hitam. Tapi bagian badan Agung tidak mengalami hal yang sama. Badannya tetap terlihat putih bersih, hanya wajah dan leher Agung saja yang menghitam dengan cekikan yang di lakukan oleh genderuwo berbadan besar tersebut.
Kuatnya cekikan genderuwo pada leher Agung. Perlahan membuat Agung tidak berdaya. Hingga akhirnya Agung pun seketika meninggal dengan cekikan yang di lakukan oleh genderuwo pada lehernya.
Tangis keluarga kecil Agung itu pun pecah. Mereka menangisi kepergian Agung yang mendadak tersebut. Mereka tidak menyangka Agung akan meninggal dengan cara naas. Dimana hanya bagian kepala Agung yang hitam seperti terbakar. Sementara bagian badan Agung nampak terlihat baik-baik saja. Itu yang membuat istri Agung nampak curiga.
Beberapa karyawan di rumah Agung, mengira kematian dari seorang Agung tidaklah normal. Pasalnya Agung meninggal dengan cara yang tidak wajar. Sehingga mereka mengira Agung meninggal akibat guna-guna seseorang yang kurang menyukai Agung. Hingga santet di pilih untuk membuat Agung meninggal dunia.
Kematian Agung yang mendadak, langsung di umumkan oleh marbut masjid menggunakan speaker di masjid. Sehingga berita kematian Agung, langsung terdengar ke telinga setiap orang di kampung. Termasuk Tini yang sedang berada di teras rumahnya. Mendengar kabar Agung yang sudah meninggal dunia. Tini langsung memberitahukan pada Lutfhi akan kematian dari Agung tersebut.
Lutfhi begitu senang mendengar kabar kematian Dati seorang Agung. Bagi Lutfhi, ini adalah kabar yang menggembirakan. Sebab dendam Lutfhi pada Agung akhirnya terbalaskan dengan sempurna. Sehingga Lutfhi sudah merasa puas dengan kematian dari seorang Agung.
__ADS_1
Lutfhi siap membantai siapa saja yang berani menantang dirinya. Tidak dengan adu fisik yang akan melukai fisik itu sendiri. Tapi dengan bantuan mahluk tidak kasat mata. Sehingga musuh Lutfhi tidak akan menyadari setiap kejahatan yang di lakukan Lutfhi pada mereka.
Lutfhi merasa sekarang dirinya adalah manusia yang kuat. Tidak mungkin ada orang yang akan berani pada dirinya lagi. Sebab jika ada seseorang yang menyenggol dirinya. Bukan tidak mungkin Lutfhi akan langsung mengirimkan santet untuk mereka. Sehingga setiap orang wajib berhati-hati pada seorang Lutfhi.