
Tak butuh waktu lama bagi seorang Lutfhi dan Tini untuk mendengar kabar kematian dari ibunya. Suara speaker dari masjid berbunyi, menyebut jelas nama ibu Tini yang sudah berpulang. Lutfhi terlihat begitu senang, sebab tumbal yang dia telah korbankan berhasil. Sehingga genderuwo peliharaannya akan semakin menuruti permintaan dari seorang Lutfhi. Menurut dalam hal kekayaan yang akan di minta oleh Lutfhi.
Tini yang merupakan anak kesayangan dari ibunya, sempat merasakan sedikit rasa sedih di hatinya. Mendengar kabar ibunya telah berpulang rasanya terasa menyesakan dada seorang Tini. Apalagi yang membuat ibunya meninggal adalah Tini sendiri. Hal yang tak bisa Tini bayangkan sebelumnya.
"Kamu tidak senang dengan tumbal yang kita persembahkan?" tanya Lutfhi pada Tini.
"Apa kamu akan senang mendengar kabar kematian ibu kamu sendiri. Aku rasa setiap orang akan sedih saat orangtua mereka meninggal dunia." jawab Tini sedikit berderai air mata.
"Kalau Ibu dan Bapak aku masih hidup. Mungkin aku akan mengorbankan mereka juga. Sayang saja mereka telah meninggal duluan. Ini komitmen kita pada genderuwo itu. Jadi kita harus siap dengan segala konsekuensi yang ada. Termasuk kehilangan anggota keluarga kita." balas Lutfhi dengan tegasnya.
Lutfhi pun meminta Tini untuk bersiap-siap. Sebab Lutfhi akan mengajak Tini untuk melayat ke rumah ibu Tini tersebut. Tini pun di minta untuk tetap mempertahankan kesedihannya tersebut. Sehingga tidak akan ada orang yang curiga, jika ibunya telah menjadi korban tumbal dari Lutfhi.
__ADS_1
Tiba di kediaman ibunya. Di pimpin oleh seorang Lukas, pembacaan sebuah surat Al-Qur'an di lakukan. Lutfhi yang tidak nyaman dengan suara Al-Qur'an yang terdengar oleh telinga. Mulai merasakan suasana panas dalam tubuhnya. Hingga Lutfhi terlihat begitu gerah dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an tersebut.
Lutfhi akhirnya memilih menjauh dari tempat ibu mertuanya itu. Dia memilih duduk di luar bersama dengan para tetangga lainnya. Dengan begitu, Lutfhi tidak akan lagi merasakan sensasi panas yang dia rasakan.
Tanpa sengaja, Lutfhi mendengar obrolan dari beberapa warga akan kasus kematian ibu mertuanya yang mendadak. Kematian itu cukup menyakitkan bagi ibu mertuanya. Tapi itu adalah sebuah konsekuensi yang haru di dapat, demi memperkaya seorang Lutfhi.
Beberapa warga mengatakan ada yang melakukan santet pada ibu mertua Lutfhi tersebut. Tapi sebagian lainnya mengatakan itu merupakan hal yang wajar, sebab ibu mertua Lutfhi sendiri sudah tua. Sehingga wajar dengan kematian mendadak yang terjadi.
Firman mengajak Darwis yang merupakan menantu tertua ibunya mengobrol. Mungkin dengan mengobrol dengan Darwis, akan ada titik terang dari kematian ibunya tersebut. Hingga Firman bisa menduga secara tepat. Jika kematian ibunya di sebabkan oleh seseorang yang telah menumbalkan sosok ibunya.
"Aku melihat sesuatu yang cukup mengherankan." ucap Firman pada Darwis.
__ADS_1
Obrolan dari Firman yang baru di mulai itu, di ketahui oleh Lutfhi. Dia menguping obrolan antara Darwis dan Firman dari tembok rumah ibu mertuanya.
"Heran apa maksud kamu?" tanya Darwis penasaran.
"Ada sedikit lebam yang aku temukan di salah satu bagian tubuh Ibu. Sepertinya ada seseorang dari anggota keluarga kita yang telah menumbalkan ibu pada sosok ghaib." jawab Firman.
Tiba-tiba Lutfhi yang sedari awal menguping pembicaraan dari Darwis dan Firman. Akhirnya menampakkan dirinya. Dengan wajah yang terlihat kesal, Lutfhi mulai menuduh Firman yang telah menumbalkan ibunya sendiri.
"Aku pikir kamu itu harusnya introspeksi diri Firman. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu. Sementara kamu sendiri adalah seorang pemuja setan. Apa jangan-jangan kamu yang telah tega menumbalkan ibu?":
Firman yang tak terima dengan tuduhan dari seorang Lutfhi. Langsung terpancar emosi. Dia terlihat begitu marah dengan apa yang diucapkan oleh Lutfhi. Untung Darwis bisa melerai pertengkaran tersebut. Hingga pertengkaran memalukan itu, segera berakhir dengan begitu cepat.
__ADS_1
Namun masih ada cukup dendam dari hati seorang Firman pada Lutfhi. Begitu juga sebaliknya, Lutfhi pun siap melakukan manuver yang cukup besar untuk Firman. Sehingga Firman siap merasakan bagaimana sakitnya seperti yang Lutfhi rasakan.