Jimat Warisan

Jimat Warisan
Teror Untuk Warga


__ADS_3

Lutfhi dan Tini belum puas, jika mereka masih melihat dua anak Firman masih berada di rumah Darwis. Mereka berdua berharap kedua anak Firman yang akan menanggung semua kebejatan yang selama ini di lakukan oleh Firman kepada dirinya. Sehingga Lutfhi berharap kedua anak Firman tersebut akan semakin menderita di buat oleh keduanya.


Tini dan Lutfhi mulai melakukan hal yang mungkin akan membuat kedua anak Firman itu akan segera di usir dari kampung. Cara yang paling ampuh tentu adalah melakukan teror baru untuk membuat warga ketakutan. Jika teror yang datang pak RT masih belum bisa membuat kedua anak Firman di usir dari kampung. Mungkin teror pada seluruh warga kampung akan jauh lebih efektif. Sehingga para warga akan semakin yakin untuk mengusir dua anak Firman dari kampung mereka.


Ritual pemanggilan Genderuwo di lakukan oleh seorang Lutfhi. Tini pun turut berada dalam ritual yang ada di salah satu kamar di rumah Lutfhi. Dia terlihat begitu menghayati setiap ajian yang di bacakan oleh Lutfhi. Hingga Genderuwo yang di panggil oleh seorang Lutfhi pun hadir ke hadapan dirinya.


Aroma kurang sedap langsung mengisi seluruh ruangan. Namun Tini harus bisa menahan aroma itu dengan sekuat tenaga. Dia tidak boleh melakukan tindakan yang akan membuat Genderuwo itu marah. Tini harus kuat menahan aroma bau yang keluar dari Genderuwo tersebut.

__ADS_1


Aroma bau itu sudah mulai tercium, pertanda Genderuwo itu sudah semakin dekat. Tini yang awalnya begitu khusyuk dalam membaca ajian bersama dengan Lutfhi. Perlahan mulai melirik ke arah luar, di mana Genderuwo itu mulai berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


Tini ingin muntah, namun dia harus bisa menahan aroma bau dari Genderuwo itu. Sebab jika dia muntah, sudah di pastikan Tini akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat lagi. Dia pun harus kuat dalam menahan aroma kurang sedap dari Genderuwo itu.


Lutfhi langsung membuka kedua bola matanya saat mengetahui Genderuwo itu sudah berada di hadapannya. Lutfhi langsung tersenyum untuk menyapa Genderuwo yang merupakan peliharaannya tersebut. Lutfhi senang bisa kembali bertemu dengan Genderuwo itu. Dia ingin kembali meminta bantuan Genderuwo itu untuk menakut-nakuti para warga dengan sosok Kuntilanak.


"Apa yang harus aku lakukan untukmu Tuan?" tanya Genderuwo itu dengan suara beratnya.

__ADS_1


Tini yang harus terus menahan aroma kurang sedap dari Genderuwo itu. Terus berusaha untuk tidak muntah dengan aroma yang ada. Padahal Tini sudah tidak kuat dengan aroma itu. Aroma yang tercium seperti bangkai tikus mati itu harus Tini tahan, demi menghargai Genderuwo Lutfhi.


"Apakah istrimu sudah terbiasa dengan aromaku?" tanya Genderuwo itu melirik ke arah Tini.


"Sudah, aku sudah terbiasa dengan aromamu." jawab Tini menunduk.


"Bagus. Kamu bersekutu denganku. Kamu harus tahan dengan aroma itu, aku sendiri yang menikmati aroma kurang sedapku. Jadi kamu harus bisa tahan itu semua." ucap Genderuwo itu.

__ADS_1


Tini hanya mengangguk dengan apa yang di utarakan oleh Genderuwo itu. Tini siap melakukan yang terbaik untuk Genderuwo itu. Hal yang tidak akan pernah Tini kecewa pada Genderuwo tersebut.


Tak lama, Genderuwo itu segera pergi dari hadapan Tini dan Lutfhi. Dia bersiap untuk membuat seluruh warga kampung ketakutan. Mereka akan langsung percaya pada semua ucapan dari Lutfhi, sehingga kedua anak Firman benar-benar akan di usir dari kampung tersebut.


__ADS_2