Jimat Warisan

Jimat Warisan
Keinginan Ibu Tini Bertemu Dengan Tini


__ADS_3

"Tin... Tini... Tin... Ibu haus nak." Ujar Ibu Tini dengan suara lirihnya.


Suara ibu Tini tersebut terdengar oleh anaknya yang lain. Dia pun langsung menghampiri ibu Tini untuk menanyakan apa yang di butuhkan oleh ibunya tersebut.


"Ibu butuh apa?" tanya anaknya dengan begitu panik.


"Tini mana.. Dia dimana?" tanya ibunya kembali.

__ADS_1


Anak ketiganya itu pun bingung. Sebab Tini sejak ibunya jatuh sakit, hingga sekarang. Belum juga datang untuk menjenguk ibunya sendiri. Padahal ibu Tini terkenal begitu sayang pada Tini. Akan sangat heran, jika Tini masih belum menjenguk ibunya tersebut. Mungkin itu yang membuat ibu Tini begitu sedih dengan kenyataan pahit yang harus di alaminya.


Wajah ibunya sudah sangat kurus, mungkin itu faktor asupan makanan dari ibunya yang sudah mulai berkurang. Ketika sakit, memang ibunya sudah jarang makan. Sehingga tubuhnya kini mulai kurus kering. Itu yang menjadi kekhawatiran bagi anak-anaknya. Tapi tidak dengan Tini yang masih enggan menjenguk ibunya yang hampir sekarat tersebut.


Kakak Tini nomor tiga yang bernama Ira tersebut, langsung menghubungi Tini untuk memintanya segera menjenguk ibunya. Tapi baru juga menelpon Tini, panggilan dari Ira itu langsung di tolak oleh Tini. Sehingga Ira begitu kesal dengan sikap egois dari Tini.


Ira kemudian menghubungi Lutfhi. Tapi sama seperti Tini, Lutfhi juga langsung menolak panggilan telepon dari Ira. Keduanya begitu kompak untuk menolak panggilan telepon dari Ira. Sekali pun Ira ingin meminta Tini untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit parah tersebut.

__ADS_1


Ira kembali menghubungi Tini, dia berharap Tini akan mengangkat panggilan telepon dari dirinya. Sebab ibunya berharap Tini akan datang ke rumahnya tersebut. Beruntung bagi Ira, akhirnya Tini mengangkat panggilan telepon dari dirinya. Dengan ekspresi wajah sedih, Ira langsung meminta Tini untuk datang menjenguk ibunya.


Tapi Tini yang sudah di hasut oleh seorang Lutfhi. Enggan datang ke rumah ibunya tersebut. Apalagi Tini merasa ibunya tersebut sudah membuat sakit hati seorang Tini. Sehingga tidak ada kata maaf bagi ibunya dari Tini. Sebab ibunya telah membuat Tini sakit hati atas penolakan akan keris sakti milik bapak Tini tersebut.


Tini justru dengan ucapan sembrononya, berdoa agar ibunya tersebut segera meninggal. Sehingga tidak ada lagi orang yang akan menggangu Tini dengan alasan sakitnya. Ucapan Tini benar-benar seperti seorang anak durhaka. Dia tidak memikirkan perasaan ibunya yang tengah berjuang dalam hidupnya. Tini seolah tidak peduli dengan ibunya yang tengah sakit keras. Tini hanya peduli pada kekayaan semata yang membuatnya kehilangan hati nurani dan pikirannya sebagai seorang manusia baik. Hatinya kini benar-benar sudah mengeras.


Di tambah dengan Lutfhi yang juga turut memaki ibu mertuanya tersebut. Tak ayalnya seperti yang Tini ucapkan, Lutfhi juga berharap mertuanya itu segera meninggal. Sebab Lutfhi menganggap mertuanya tersebut adalah sosok yang kikir. Bahkan untuk urusan keris pun mertuanya menolak memberikan pada Lutfhi. Sehingga Lutfhi begitu kesal pada ibu mertuanya sendiri. Orang yang telah melahirkan istrinya tersebut.

__ADS_1


Lutfhi juga meminta Tini untuk memutuskan segala akses pada ibunya. Sehingga ibunya tersebut tidak bisa lagi menemui mereka. Lutfhi tidak ingin harus membagi sebagian harta yang saat ini telah Lutfhi dan Tini miliki. Harus di bagikan pada ibunya juga. Ini sangat tidak ada bagi Lutfhi yang telah bersusah payah untuk membuat keluarganya menjadi kaya raya.


Ira benar-benar tak menyangka, Tini dan Lutfhi akan melakukan hal tersebut. Bagi Ira, apapun yang telah di lakukan oleh ibunya pada Tini dan Lutfhi akan keris itu. Tidak jadi bahan kebencian dari Tini dan Lutfhi pada ibunya. Sebab ibunya tidak ingin keris tersebut di salah gunakan oleh Tini dan Lutfhi. Itu yang di takutkan oleh ibunya dalam hal keris tersebut.


__ADS_2