
Malam yang mencekam, telah membuat para warga sadar akan bahaya yang akan terjadi pada mereka. Mungkin benar apa yang di sampaikan oleh Tini akan sosok kuntilanak yang akan menghantui mereka. Sehingga mereka harus segera mengusir kedua anak Firman dari kampung mereka. Sebab jika mereka tidak segera melakukan hal tersebut, bukan tidak mungkin kuntilanak dari Firman itu akan terus meneror warga dengan ulah usilnya.
Di komandoi oleh seorang Nining yang merupakan ibu dari Galih. Para warga yang berjumlah puluhan itu siap mengepung rumah Ima yang menjadi tempat bagi kedua anak Firman berada. Mereka sudah tidak bisa menerima keberadaan dari kedua anak Firman lagi di kampung mereka. Sehingga solusi satu-satunya untuk membuat mereka aman adalah dengan mengusir kedua anak Firman dari kampung mereka.
Ini akan menjadi pekerjaan yang sulit bagi Nining dan warga lainnya. Tentu Darwis tidak akan membiarkan keponakannya tersebut di usir dari rumahnya. Mengingat kedua anak Firman itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tidak ada orang yang akan mengurus kedua anak Firman yang benar-benar sebatang kara.
Nining dan warga lainnya tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya berharap Sandra dan Sandi akan segera meninggalkan kampung. Sehingga teror dari kuntilanak pada warga kampung tidak akan kembali datang. Ini hal yang paling menakutkan bagi para warga. Mereka bertemu dengan sosok kuntilanak seram yang meneror mereka dengan berbagai cara. Hal yang tentunya sangat menakutkan.
Nining dan gerombolan warga itu mulai berjalan menuju rumah Darwis. Mereka sudah tidak sabar untuk mengusir kedua anak Firman yang di anggap pembawa sial untuk kampung mereka. Sehingga keduanya harus segera di usir dari kampung itu segera.
Usir...
Usir...
Usir...
__ADS_1
Usir...
Sahut para warga dengan suara nyaring. Mereka sudah tidak sabar untuk segera mengusir kedua anak Firman dari kampung mereka. Tidak ada lagi tempat bagi kedua anak Firman di kampung tersebut. Terlebih sudah ada sosok kuntilanak yang telah meneror warga dengan keberadaan dari kedua anak Firman tersebut. Sehingga warga meminta kedua anak Firman itu untuk segera pergi dari kampung mereka.
Tepat di depan rumah Darwis, Sandra hendak pergi ke sekolah. Dengan seragam serta tas yang telah di gunakan. Dia terlihat begitu bersemangat untuk segera pergi ke sekolah. Lukas yang setiap hari mengantar seorang Sandra. Sudah siap dengan sebuah sepeda motor. Dia sudah siap mengantar sepupunya tersebut menuju sekolah.
Sandra begitu ketakutan dengan kedatangan dari para warga yang terlihat begitu marah pada dirinya. Apalagi kalimat cemoohan langsung di sampaikan pada Sandra. Sehingga Sandra yang sedang mengikat tali sepatu, seketika masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia begitu ketakutan dengan kedatangan para warga yang hendak mengusir dirinya dari rumah Darwis.
Lukas langsung meminta Sandra masuk ke dalam kamarnya. Sementara dengan penuh percaya diri, Lukas menghampiri kerumunan dari warga yang hendak mengusir Sandra dan Sandi dari rumahnya.
Lukas tidak mengerti dengan amukan dari warga. Dia yang tak mengetahui serangan kuntilanak di malam hari, benar-benar merasa tidak paham dengan kedatangan dari puluhan warga ke rumahnya. Sehingga Lukas meminta para warga untuk tidak anarkis di rumahnya tersebut.
Sudah tidak ingin kehilangan momen lagi, Nining langsung mengajak warga lainnya untuk segera menjemput dua anak Firman dari rumah Lukas. Mungkin mereka akan membawa kedua anak Firman itu keluar dari kampung mereka. Sehingga mereka akan aman dari serangan teror Kuntilanak yang akan menyerang mereka.
Darwis dan Ima bersujud pada semua warga yang hendak menjemput kedua anak Firman keluar dari rumah mereka. Keduanya berharap para warga akan bisa lebih berbesar hati untuk tidak segera mengusir kedua anak Firman dari rumah mereka berdua. Mengingat kedua anak Firman yang sudah tidak memiliki wali sama sekali. Mengingat Firman yang harus di rawat di rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Semua warga sudah tidak peduli lagi pada semua omongan dari Darwis dan Ima. Mereka hanya ingin kedua anak Firman benar-benar di usir dari kampung mereka. Sehingga tidak ada teror Kuntilanak yang akan menyerang kampung mereka. Itu yang mereka harapkan.
Para warga itu mulai merangsek masuk ke rumah Darwis dan Ima, sekalipun mereka mencoba menahannya. Namun banyaknya warga yang datang ke rumah Darwis, membuat keluarga Darwis tidak mampu menahan warga yang mencoba masuk ke rumah mereka.
Sandra dan Sandi saling berpelukan. Keduanya tak henti menangis melihat amarah dari puluhan warga. Keduanya meminta untuk tidak di usir dari kampung tersebut. Namun ketakutan warga yang berlebihan pada kuntilanak, telah menghilangkan rasa iba yang ada di hati mereka. Dengan segera mereka pun membawa kedua anak Firman itu keluar dari rumah Darwis.
Darwis, Lukas dan Ima hanya bisa menangis melihat kedua anak Firman di bawa paksa oleh puluhan warga. Mereka tidak memiliki upaya apapun lagi, mengingat para warga itu yang sudah begitu marah pada kedua anak Firman yang di anggap membawa siap bagi warga kampung.
Pak RT dan pak Kiayi datang menemui para warga. Mereka meminta semua ini di selesaikan secara baik-baik. Ini akan menjadi keputusan yang baik saat di selesaikan secara baik juga.
Pak RT mengajak semuanya berunding di kantor RT. Sehingga tidak akan ada yang merasa di sakiti oleh keputusan tersebut. Semua harus menerima dengan baik.
Akhirnya semua warna pun setuju dengan keputusan dari pak RT. Mereka pun mau berunding di kantor RT bersama pak RT dan pak Kiayi. Ini akan jadi keputusan yang paling berat bagi pak RT untuk memutuskan. Jika dia salah, bukan tidak mungkin dia akan berdosa besar. Itu yang harus di pikirkan oleh pak RT dalam membuat keputusan yang akan di ambil oleh dirinya tersebut.
Akhirnya pak RT dan pak Kiayi pun langsung bersama-sama dengan warga menuju kantor RT. Di mana semuanya akan berunding di sana. Tini dan Lutfhi yang baru datang ke rumah Darwis, tidak sempat mendengar penuh apa yang akan di lakukan. Sehingga Tini hanya bisa mendapatkan informasi dari warga lain yang ada di lokasi. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1