
Haji Sholeh meminta Ima untuk menjadi orang yang akan memasak berbagai macam makanan untuk syukuran yang akan di adakan oleh dirinya. Haji Sholeh mempercayakan sepenuhnya pada seorang Ima. Dengan begitu, Ima akan di percaya oleh haji Sholeh untuk memegang uang di bagian dapur.
Sementara Darwis di minta haji Sholeh untuk mengundang warga dalam acara syukuran yang akan di lakukan oleh haji Sholeh. Dia tidak tahu semua warga yang ada di kampung. Sehingga haji Sholeh butuh bantuan seorang Darwis untuk mengundang para warga ke rumahnya tersebut.
Darwis pun siap menjalankan tugas dari haji Sholeh dengan baik. Dia siap mengundang semua warga dari yang terdekat, hingga yang terjauh. Rumah haji Sholeh pun akan di penuhi oleh warga yang hendak ikut acara syukuran di rumah haji Sholeh. Darwis siap memastikan hal tersebut.
Ima pun siap memberikan tenaganya untuk membuat makanan yang lezat. Apalagi Ima sudah cukup berpengalaman dalam memasak makanan. Hingga Ima siap menyajikan makanan yang istimewa untuk para tamu undangan yang akan datang di acara syukuran dari haji Sholeh. Itu sudah tidak bisa di ragukan oleh seorang haji Sholeh.
Haji Sholeh pun begitu bahagia dengan antusiasme yang di tunjukkan oleh Ima dan Darwis. Mereka berdua memang sudah seperti saudara bagi haji Sholeh. Tak heran haji Sholeh menjadikan seorang Darwis sebagai tangan kanan dari dirinya.
Darwis pun dengan perasaan penuh semangat langsung mendatangi rumah warga satu persatu. Tak terkecuali dengan rumah Lutfhi yang menjadi rumah paling megah saat ini. Kedatangan dari Darwis tentu di sambut oleh dua keponakannya. Fajar begitu senang dengan kedatangan dari Darwis yang selalu mengajak Fajar jalan-jalan terdahulu.
Fajar membawa Darwis masuk ke dalam rumahnya. Tak lama Fajar memanggil Lutfhi untuk bertemu dengan seorang Darwis. Darwis terlihat begitu bahagia saat Fajar menyambut baik kedatangan darinya.
Lutfhi datang dengan membawa wajah yang kurang senang. Dia sama sekali tidak menyambut baik kedatangan dari seorang Darwis. Bahkan Lutfhi sama sekali tidak mempersilakan Darwis untuk duduk di atas sofa mahalnya. Padahal Darwis dahulu begitu baik pada seorang Lutfhi. Namun Lutfhi yang kadung kecewa akan kedekatan dari Darwis dengan haji Sholeh. Lutfhi pun turut membenci seorang Darwis yang Lutfhi anggap bagian dari haji Sholeh.
__ADS_1
"Mau apa kamu datang ke rumah saya?" tanya Lutfhi dengan wajah kusut.
"Kakak mau undang kamu Lut." jawab Darwis tetap dengan senyum.
"Undang apa?" tanya Lutfhi kembali.
"Jadi haji Sholehkan baru pindah lagi ke sini. Oleh Sebab itu dia akan mengadakan sebuah acara syukuran. Apakah kamu mau ikut acara syukuran tersebut?"
"Tidak! Aku tidak akan datang ke acara orang sombong itu. Aku tidak akan pernah Sudi untuk menginjakan kaki di rumahnya." Tegas Lutfhi.
"Tidak ada tapi, aku tidak akan pernah datang ke rumah orang sombong tersebut. Aku sama sekali tidak mengenal dia siapa. Itu yang aku tahu. Jadi jangan pernah undang saya ke acara orang sombong tersebut. Lebih baik kamu segera pergi dari rumah saya. Saya juga sudah muak lihat muka kamu di sini."
Melihat respon Lutfhi yang begitu ketus. Darwis tak menyangka Lutfhi akan mengatakan hal buruk tersebut. Padahal itu cuman ajakan biasa saja. Tapi Lutfhi mengatakan hal buruk itu pada haji Sholeh dan Darwis. Lutfhi benar-benar telah berubah.
Lutfhi sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Tapi dia menolak untuk datang ke acara yang di adakan oleh haji Sholeh tersebut. Bagi Lutfhi tidak ada maaf untuk seorang haji Sholeh. Dia tidak akan pernah berdamai dengan seorang haji Sholeh.
__ADS_1
Darwis pun akhirnya hanya mendapatkan sebuah kekecewaan dari seorang Lutfhi. Bukannya menerima jawaban yang cukup mengenakan. Darwis malah di usir Lutfhi dengan begitu kasarnya. Darwis pun berharap Lutfhi akan segera memperbaiki sikapnya. Itu hal yang harus Lutfhi lakukan, jika dia ingin bisa menjadi lebih baik lagi. Ada banyak hal yang Lutfhi tidak bisa lakukan. Salah satunya adalah merubah sikap kasarnya tersebut.
Darwis tak patah semangat. Dia tetap mendatangi rumah warga yang lain untuk datang ke acara syukuran yang akan di gelar di rumah haji Sholeh. Dia yakin, masih banyak warga lain yang mau untuk ikut dalam acara syukuran itu. Hanya Lutfhi saja yang menolak untuk ikut. Tidak dengan warga lainnya yang masih ingin bersilaturahmi dengan seorang haji Sholeh.
Tak ubahnya dengan Darwis yang mendapatkan sedikit celaan dari Lutfhi. Ima juga harus merasakan hal yang sama. Dia di hina oleh seorang Tini saat belanja di sebuah warung. Ima pun di kata-katai oleh Tini. Dia di fitnah Tini pernah menjadi selingkuhan haji Sholeh. Sehingga Ima begitu senang dengan kedatangan dari haji Sholeh ke kampung.
Sontak apa yang di sampaikan oleh Tini, di sanggah oleh seorang Ima. Dia mengatakan jika apa yang di katakan oleh Tini sama sekali tidak benar. Ima tidak pernah menjadi perempuan simpanan dari seorang haji Sholeh. Itu sama sekali tidak benar. Tini hanya mengarang sebuah cerita saja.
Tini tertawa dengan apa yang di sebut oleh Ima. Dia mengatakan jika tidak ada orang yang akan mengakui kesalahannya. Semua orang akan menutupi aib mereka. Termasuk seorang Ima yaah jelas-jelas pernah berselingkuh dengan seorang haji Sholeh. Itu yang Tini ketahui tentang Ima.
Beberapa orang pun mulai percaya dengan ucapan dari Tini. Apalagi Ima di kenal dekat dengan haji Sholeh. Namun sebagian lagi sama sekali tidak percaya. Mengingat Tini memang suka melakukan fitnah terhadap siapa saja. Tidak peduli dengan orang yang di fitnah. Itu yang mereka ingat. Sehingga ketika Tini mengatakan hal tersebut. Mereka sama sekali tidak percaya dengan ucapan dari seorang Tini. Sama sekali tidak percaya dengan semua itu. Ini tidak akan mungkin terjadi. Ini hanya karangan dari seorang Tini.
Ima pun pulang dengan wajah yang begitu sedih. Bagaimana tidak, dia di fitnah oleh adiknya sendiri. Orang yang selama ini Ima begitu sayangi, ternyata memfitnah seorang Ima dengan begitu keji. Hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Ima sebelumnya.
Ima ingin menceritakan semuanya pada Darwis. Namun tentu itu akan menjadi masalah baru bagi Ima. Hingga Ima lebih baik menyimpan semua itu, tanpa harus menceritakan semuanya pada seorang Darwis. Sebab Darwis akan marah dengan apa yang di katakan oleh Tini pada Ima. Hal yang tidak akan pernah Ima bayangkan sebelumnya.
__ADS_1