
Ketika sore tiba, anak-anak didik Achmad sudah mulai berkumpul untuk berlatih di tempat biasanya. Lapangan itu sebenarnya sudah di tembok. Hanya saja, Achmad belum sempat mendirikan bangunan di tempat itu. Sehingga gangguan angin dapat membuat pertandingan menjadi kurang baik.
Ada 10 anak yang berlatih bulutangkis pada Achmad. Cidera berkepanjangan membuat Achmad harus mengubur mimpinya menjadi seorang pemain bulutangkis ternama. Sebagai balas dendam atas kegagalan yang harus di alami oleh dirinya. Achmad pun bertekad untuk melatih anak-anak di kampungnya latihan bulutangkis. Hingga mereka bisa meneruskan cita-cita Achmad yang terkubur oleh sebuah cidera.
Achmad pun berjanji akan membuat anak-anak yang berlatih pada dirinya menjadi salah seorang pemain yang hebat di masa depan. Achmad memfasilitasi anak-anak yang berlatih di kampungnya itu dengan uang dari orangtuanya yang merupakan seorang tuan tanah. Sehingga dari segi biaya, mereka tidak harus khawatir. Sebab semua biaya di tanggung oleh Achmad sepenuhnya.
Dari awalnya banyak anak yang turut dalam latihan bulutangkis tersebut. Tapi rasa malas, jenuh dan sebagainya. Telah mengeliminasi mereka dengan sendirinya. Hingga kini hanya tersisa 10 anak didik dari Achmad itu sendiri. Mereka pun siap meneruskan cita-cita Achmad untuk menjadi seorang pemain bulutangkis ternama.
Seperti biasa, sebelum latihan sore ini di gelar. Seseorang di minta untuk berdoa terlebih dahulu. Semoga dengan doa tersebut, di harapkan setiap pemain bisa mengeluarkan permainan terbaik mereka. Hingga tidak ada yang mengalami cidera ketika sedang berlatih.
__ADS_1
Awalnya semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Sampai ketika sebuah kok yang di pukul oleh salah seorang anak didik dari Achmad melambung jauh. Anak lain yang mengambil kok itu, langsung kesurupan secara tiba-tiba.
Anak itu secara tiba-tiba tertawa tanpa sebab. Sebelum mengambil sebilah kayu untuk menyerang anak lain. Perlahan, tidak hanya satu anak saja yang kesurupan. Hampir semua anak didik Achmad turut mengalami hal yang sama. Achmad yang panik, mencoba membaca beberapa doa. Beberapa anak berhasil sadar kembali, tapi sebagian lainnya semakin parah. Mereka justru semakin hilang kesadarannya.
Achmad juga di kejutkan dengan kehadiran sesosok mahluk berbadan besar dengan rambut gondrong. Serta bola mata merah menyala. Kedua gigi taringnya keluar memanjang. Mahluk itu tak lain, dan tak bukan adalah sosok genderuwo peliharaan seorang Lutfhi. Dia memang ditugaskan oleh Lutfhi untuk menyerang Achmad dan anak didiknya yang sedang bermain bulutangkis.
Achmad yang ketakutan melihat genderuwo yang bersemayam di atas sebuah pohon besar. Lari ketakutan melihat genderuwo besar tersebut. Hingga Achmad meninggalkan anak didiknya yang sempat kesurupan di buat oleh genderuwo peliharaan Lutfhi.
Melihat Achmad yang di landa ketakutan hebat. Bapak Achmad sedikit panik dengan wajah Achmad yang penuh ketakutan tersebut. Sampai akhirnya Achmad meminta bapaknya tersebut untuk mencarikan Achmad tempat latihan baru. Sebab di tempat latihan tersebut, ada sosok genderuwo berbadan besar yang meneror Achmad dan anak didiknya.
__ADS_1
Pak Arif begitu senang dengan keputusan Achmad yang akhirnya mengizinkan dirinya untuk menjual lahan tersebut pada Lutfhi. Dengan begitu, lahan itu sudah pasti akan di jual oleh pak Arif pada Lutfhi.
Pak Arif segera menghubungi Lutfhi untuk memberitahu Lutfhi, jika dirinya sudah siap menjual tanah miliknya tersebut pada Lutfhi.
"Hallo Mas Lutfhi."
"Iya pak Arif. Ada apa yah?"
"Saya bersedia menjual tanah tersebut pada mas Luthfi. Anak saya sudah setuju untuk menjual tanah itu pada Mas Lutfhi."
__ADS_1
"Baik Pak kalau begitu. Nanti kita bicarakan lagi lebih lanjut. Nanti saya akan kembali ke rumah Pak Arif untuk melihat kelengkapan surat, serta dokumen lainnya."
"Baik Mas. Saya akan siapkan semua dokumen itu segera. Saya menunggu Mas Lutfhi datang ke rumah saya."