Jimat Warisan

Jimat Warisan
Lukas Membawa Sandra Dan Sandi


__ADS_3

Hasil perundingan tetap mengharuskan dua anak Firman untuk tetap pergi dari kampung. Keduanya harus segera meninggalkan kampung untuk memenuhi tuntutan warga yang khawatir akan teror Kuntilanak di kampung mereka.


Berat bagi kedua anak Firman untuk pergi dari rumah Darwis dan Ima. Mereka harus berpisah dengan kedua orang yang sudah mereka anggap sebagai orangtua mereka sendiri. Apalagi Sandi yang sudah begitu nyaman dengan Ima, terlihat berat saat harus berpisah dengan perempuan berusia 50 tahun tersebut. Sandi tak kunjung henti meneteskan air mata kesedihannya. Bagaimana dia harus kehilangan meninggalkan sosok Ima yang selama ini begitu baik pada dirinya.


Sandra menangis juga, tapi dia lebih sedikit tegar. Mungkin dia sudah paham betul apa yang akan terjadi pada dirinya. Mengingat keberadaan dari Sandra dan Sandi memang menjadi sorotan tersendiri bagi warga kampung. Sandra dan Sandi di anggap sebagai dua anak pembawa sial bagi kampung. Sehingga Sandra dan Sandi pun harus segera pergi meninggalkan kampung.


Sandra berpesan pada Darwis dan Ima untuk selalu mendoakan keduanya. Mudah-mudahan Sandra dan Sandi bisa melewati semua ujian yang ada pada dirinya. Ini adalah ujian paling berat yang harus di lewati oleh Sandra dan Sandi. Tapi keduanya yakin bisa melewati ujian paling berat dalam hidup mereka tersebut. Ini akan menjadi sebuah petualangan baru Sandra dan Sandi bersama dengan Lukas.

__ADS_1


Lukas akhirnya menjadi wali baru bagi Sandra dan Sandi. Mengontrak sebuah rumah kontrakan tiga petak. Lukas siap melindungi kedua anak Firman itu dari berbagai pihak yang mencoba berbuat jahat pada keduanya. Lukas yakin, tidak ada kuntilanak yang mencoba meneror Sandra dan Sandi. Sehingga Lukas berharap Sandra dan Sandi akan lebih berani lagi dalam banyak hal. Tidak harus takut dengan kemungkinan terburuk yang akan menyerang mereka berdua.


Lutfhi dan Tini terus tersenyum saat perundingan itu usai. Keduanya begitu bahagia akhirnya tidak ada keluarga Firman lagi di kampung tersebut. Lutfhi dan Tini berharap Firman dan keluarganya menderita seperti yang dahulu Tini dan Lutfhi rasakan. Penderitaan yang teramat di rasakan oleh Tini dan Lutfhi sebelum keduanya mendapat keris sakti yang bersemayam sesosok Genderuwo.


Lutfhi dan Tini menghampiri Sandra dan Sandi yang hendak pergi bersama dengan Lukas. Keduanya kompak mengatakan kalimat yang sama. Di mana baik Lutfhi dan Tini mengatakan jika itu adalah bagian dari karma atas apa yang telah di perbuat oleh Firman dan almarhumah istrinya. Keduanya orang yang jahat, tak heran kedua anaknya harus menanggung apa yang telah di tanam oleh Firman dan istrinya selama ini.


Tini dan Lutfhi justru langsung marah dengan apa yang di katakan oleh seorang Lukas. Keduanya tak terima, sehingga keduanya berani mengatakan jika mereka siap membalas ucapan dari Lukas dengan sesuatu yang menyakitkan untuk Lukas. Mungkin santet atau hal lainnya. Namun Tini dan Lutfhi siap melakukan hal buruk pada Lukas.

__ADS_1


Apa yang Tini dan Lutfhi sampaikan pada seorang Lukas, langsung di sanggah oleh seorang Darwis. Dia meminta Tini dan Luthfi tidak menghardik seorang Lukas dengan perkataan yang kotor. Lukas hanya mengingatkan sesuatu hal yang baik untuk keduanya. Sehingga Tini dan Lutfhi seharusnya merasa bersyukur dengan apa yang Lukas sampaikan, bukan malah menghardik Lukas dengan perkataan motor tersebut.


Tini dan Lutfhi semakin emosi, wajah keduanya semakin merah. Mungkin kepiting di rebus bisa jadi gambaran bagaimana keduanya terlihat begitu sangat marah. Tidak ada yang harus di takutkan, Lutfhi dan Tini siap membalas apa yang di lakukan Darwis dan Lukas di hari ini.


Lutfhi dan Tini yang semakin meradang pada Lukas dan Darwis, coba di tenangkan oleh pak Kiayi. Dia mengatakan pada keduanya untuk lebih tenang lagi. Mungkin dengan hati yang tenang, Lutfhi dan Tini akan semakin baik lagi. Tidak ada yang harus di takuti oleh Lutfhi dan Tini. Sehingga Lutfhi dan Tini pun harus benar-benar tenang.


Merasa terpojokkan, akhirnya Lutfhi dan Tini memilih untuk pergi dari tempat perundingan tersebut. Keduanya tetap marah pada sosok Lukas yang di anggap begitu sok alim. Keduanya berharap Lukas akan menyesali atas semua ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2