Jimat Warisan

Jimat Warisan
Ajakan Tobat


__ADS_3

Firman yang tidak sempat datang melayat ke rumah Tini dan Luthfi di hari kematian Fajar dan Tiwi. Datang sehari pasca kematian dari kedua anak Lutfhi dan Tini tersebut. Firman terlihat begitu bersedih mendengar kabar kematian dari dua keponakannya tersebut.


Membawa sebuah kue yang di bungkus plastik berwarna hitam. Firman berharap kedatangan dari dirinya ke rumah Tini dan Lutfhi, tidak akan membuat dirinya di usir oleh Lutfhi dan Tini. Mengingat Lutfhi dan Tini selama ini memang kerap melakukan hal tersebut pada mereka yang di anggap tidak layak datang ke rumahnya. Termasuk pada Ima dan Lukas.


Tiga kali menekan bel rumah Tini, tidak ada satu pun orang yang datang menghampiri Firman. Sempat putus asa, akhirnya bel keempat di tekan oleh Firman dengan begitu kuatnya. Bel itu terdengar hingga ke telinga Tini dan Lutfhi. Mereka pun langsung datang menghampiri Firman yang masih setia menunggu di depan gerbang rumah keduanya.

__ADS_1


Tini yang tidak pernah suka dengan kakaknya tersebut. Terlihat langsung menunjukkan wajah cemberut saat melihat Firman datang ke rumahnya. Tini benar-benar tidak suka akan kedatangan dari Firman ke rumah. Sehingga dia langsung bertanya akan kedatangan dari Firman ke rumahnya dengan nada yang sedikit keras.


Firman tidak membalas keburukan yang di lakukan oleh Tini. Dia terdiam saat Tini mulai mengintrogasi dirinya dengan kata-kata kasar. Firman hanya menjawab pertanyaan yang memang dia bisa jawab. Sementara pertanyaan kasar di luar itu, dia lebih memilih untuk diam. Apalagi perihal tumbal dan sebagainya, Firman tidak ingin terpancing emosi dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Tini pada dirinya.


Firman pun memberikan kue yang di bawa oleh dirinya pada Tini. Jangankan menerima kue tersebut, memegangnya saja Tini tidak sudi. Dia langsung membuang kue itu ke tong sampah yang ada di dekat dirinya. Tidak lupa Tini juga memaki kue itu sebagai kue murahan yang tidak sesuai dengan selera dari Tini saat ini.

__ADS_1


Melihat respon Tini yang semakin tidak baik. Firman pun berpamitan untuk pergi dari hadapan Tini. Namun Lutfhi yang belum sempat memaki Firman. Meminta Firman untuk masuk dulu. Lutfhi ingin memberikan peralatan dukun yang mungkin bisa Firman gunakan untuk melakukan pesugihan kembali. Mengingat Firman pernah melakukan pesugihan dengan sosok kuntilanak.


Tini dan Lutfhi pun terus menggunjing Firman dengan lelucon yang merendahkan Firman. Perlahan Firman mulai emosi, namun dia kembali ingat dengan apa yang di sampaikan oleh Lukas. Jika emosi tidak akan pernah baik, jadi Firman di minta untuk bisa sedikit lebih bersabar lagi. Sebab jika tidak di lakukan oleh Firman. Mungkin Firman akan melakukan tindakan yang tentunya sangat merugikan dirinya sendiri. Itu sudah jauh lebih benar di lakukan oleh Firman. Daripada harus melawan apa yang di lakukan oleh Lutfhi dan Tini. Lelucon yang membuat Firman sakit hati. Namun harus Firman tahan dengan sekuat hati. Sebab lelucon itu sama sekali tidak pernah baik.


Firman yang sudah tidak ingin mendengar apa yang di sampaikan oleh Lutfhi dan Tini. Pada akhirnya memilih untuk pergi dari hadapan keduanya. Dia pun pergi dari hadapan Tini dan Lutfhi. Tidak lupa dia mengucapkan salam pada Tini dan Lutfhi. Walaupun salam dari Firman sama sekali tidak di balas oleh Tini dan Lutfhi. Namun setidaknya dia sudah melakukan hal yang baik untuk di lakukan oleh seorang muslim ketika meninggal obrolan. Di mana dia harus mengucapkan salam sebagai tanda perpisahan.

__ADS_1


Lutfhi dan Tini terlihat semakin percaya diri untuk untuk bisa meledek Firman dengan perkataan yang kasar tentunya. Mereka sama sekali tidak menyesali apa yang telah di katakan pada Firman. Mereka berdua justru senang dengan perkataan yang mereka lontarkan pada Firman. Perkataan itu memang cocok untuk menggambarkan bagaimana Firman adalah sosok yang begitu buruk untuk di jadikan sebuah suri tauladan. Firman adalah sosok manusia yang tidak jauh buruk dari Lutfhi dan Tini selama ini.


__ADS_2