
Darwis mendatangi kediaman ibu mertuanya. Dia bermaksud untuk mendirikan sebuah sekolah yang akan di gunakan untuk tempat Lukas mengajar. Sekolah agama itu nantinya akan menjadi tempat bagi Lukas dalam membagikan ilmu agama pada anak-anak di sekitar kampungnya.
Permintaan dari Darwis itu langsung di setujui oleh ibu mertuanya. Dia menerima permintaan dari Darwis untuk menjadikan lahan yang luas itu sebagai bangunan sekolah. Dimana nantinya tempat itu pun akan menjadi ladang pahala bagi ibu mertuanya tersebut.
Darwis begitu bahagia akan penerimaan ibu mertuanya dalam menghibahkan salah satu lahan miliknya. Dengan begitu, Darwis tidak harus pusing lagi dalam mencari lahan yang akan di gunakan untuk Lukas membuat sekolah agama miliknya. Kini Darwis hanya perlu mengumpulkan modal untuk membangun bangunan yang akan di gunakan untuk membangun sekolah nantinya.
Kabar bahagia itu langsung di bawa Darwis menuju rumah. Orang pertama yang Darwis beritahu adalah istri. Ima, istri Darwis begitu senang dengan keputusan ibunya yang memberikan lahan itu untuk Lukas. Hingga dia tidak sabar akan Lukas yang akan segera membangun sekolah pertamanya di lahan tersebut.
Darwis juga langsung memberitahu pada Lukas, begitu Lukas keluar dari dalam kamarnya. Dengan wajah sumringah, Darwis mengatakan jika nenek Lukas memberikan izin pada Lukas untuk membangun sebuah sekolah yang akan menjadi tempat penyebrangan ilmu agama di kampungnya.
__ADS_1
Lukas senang bukan kepayang. Dia langsung sujud syukur begitu mengetahui jika restunya sudah di dapat oleh neneknya. Dengan begitu akan sangat mudah bagi Lukas untuk menyebarkan ilmu agama pada penduduk kampung yang selama ini masih jauh dari syariat islam yang ada.
Lukas mengajak Darwis untuk meninjau lokasi lahan tersebut. Dia ingin memastikan lahan itu benar-benar bisa di jadikan tempat untuk membuat bangunan sekolah. Sehingga Lukas siap membawa perubahan bagi penduduk kampung yang masih hidup dengan nilai-nilai nenek moyang yang menjurus pada sebuah kemusyrikan.
Dengan sepeda motor milik Darwis. Lukas dan Darwis segera mendatangi lokasi lahan yang tak jauh dari rumahnya tersebut. Lahan itu benar-benar cocok untuk di jadikan sebagai sekolah. Lokasi lahan itu yang strategis, membuat Lukas dengan mudah bisa mengajak banyak anak di kampungnya untuk belajar di sekolah yang akan di buatnya.
"Aku harap akan banyak anak yang datang ke sekolahku nanti. Aku sudah tidak sabar untuk menyaksikan itu." ucap Lukas.
Di antara semak-semak, Lukas melihat sebuah nampan berisi banyak makanan yang di letakkan di semak-semak tersebut. Lukas langsung tertarik dengan nampan itu. Hingga dia langsung melihat nampan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa orang membuang banyak makanan di sini?" tanya Lukas dengan wajah bingung.
"Seperti ini bukan di buang. Tapi ini adalah sesajen yang biasa di lakukan oleh warga di sekitar sini. Mereka kerap melakukan sesajen di hari-hari tertentu." jawab Darwis.
"Tujuannya untuk apa?" tanya Lukas kembali.
"Mungkin untuk menyembah roh leluhur mereka. Bisa juga dengan maksud keselamatan dan sebagainya." jawab Darwis kembali.
Melihat kenyataan yang ada. Lukas semakin yakin harus segera merubah kehidupan yang ada di kampungnya. Sebab banyak penduduk kampung yang sudah mulai tersesat dengan apa yang ada. Mereka sudah menyimpang dari nilai-nilai agama yang sakral. Hingga mereka sudah jauh dari larangan agama.
__ADS_1
Mungkin dengan mendidik generasi baru menjadi lebih religius lagi. Lukas yakin, penduduk di kampungnya akan semakin lebih baik lagi dalam menjalankan perintah agama. Meninggalkan warisan nenek moyang mereka yang sarat akan nilai-nilai kesyirikan. Itu yang membuat Lukas semakin mantap untuk maju dalam menegakkan kebenaran akan agama di kampungnya.