
"Jangan.... Jangan..... Aku mohon jangan." ucap Tini penuh ketakutan.
Lutfhi yang mendengar suara Tini yang begitu keras di sampingnya. Seketika terbangun dari tidurnya. Lutfhi pun langsung menenangkan Tini yang begitu ketakutan.
Begitu bangun, Tini langsung berteriak dengan begitu kerasnya. Ada sosok Genderuwo yang menganggu dalam mimpinya. Di mana Tini bermimpi di kejar oleh Genderuwo itu. Hingga akhirnya Genderuwo itu melahap tubuh Tini dengan begitu napsu. Tini pun terus menghindar dari Genderuwo tersebut. Namun Genderuwo itu berhasil menangkap Tini, hingga akhirnya Genderuwo itu berhasil membunuh Tini dengan sebuah paku besar yang di bawanya.
__ADS_1
Tini hanya bisa mengiba saat Genderuwo itu akan memukul tubuhnya dengan paku tersebut. Dia berusaha meminta Genderuwo itu untuk tidak membunuhnya, namun Genderuwo itu tetap melakukan pembunuhan terhadap Tini dengan sebuah paku besar. Hingga Tini pun akhirnya terbunuh oleh Genderuwo tersebut.
Tini benar-benar ketakutan dengan mimpi yang di alaminya. Ini menjadi mimpi paling buruk yang di alami oleh Tini. Dia tidak pernah bermimpi seperti ini sebelumnya, sehingga Tini benar-benar ketakutan saat mimpi itu datang pada dirinya. Apalagi saat Tini membayangkan bagaimana paku besar coba di tusukan pada tubuhnya. Itu masih cukup membuat Tini trauma. Sebab paku yang panas itu benar-benar menusuk kulit Tini dengan begitu kerasnya. Ini menjadi sebuah mimpi paling buruk yang di alami oleh Tini. Hingga Tini berharap itu hanya akan jadi mimpi belaka saja. Tidak akan menjadi sebuah kenyataan yang akan benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Tini berharap itu tidak akan terjadi di kehidupan yang akan di jalani oleh dirinya.
Semua cerita yang di ceritakan oleh Tini pada Lutfhi, hampir sama dengan apa yang di mimpikan oleh Lutfhi di hari sebelumnya. Paku panas yang coba di tusukan oleh Genderuwo itu. Hampir sama dengan apa yang Lutfhi mimpikan di hari kemarin. Dia pun bermimpi yang sama dengan Tini. Hingga Lutfhi merasa mimpi itu mengandung arti tersendiri. Di mana Genderuwo itu sudah tidak sabar untuk mendapatkan tumbal dari Lutfhi dan Tini. Mungkin saja, jika tidak segera mendapatkan tumbal yang di inginkan. Nyawa dari Tini dan Luthfi akan menjadi taruhannya. Ini pasti akan terjadi pada mereka berdua.
__ADS_1
Tini memeluk tubuh Lutfhi, menceritakan bagaimana ketakutan yang kini di rasakan oleh dirinya. Dia tidak pernah setakut ini, hingga Tini benar-benar merasakan mimpi yang di alami oleh dirinya seperti sebuah kenyataan yang ada. Di mana Tini menjadi tumbal dari Genderuwo lapar itu.
Lutfhi berusaha menenangkan Tini dengan terus mengelus lembut rambut Tini. Dia meyakinkan Tini akan tumbal yang akan mereka segera dapat. Sehingga Tini tidak akan menjadi tumbal dari Genderuwo miliknya sendiri. Lutfhi meyakinkan itu pada Tini. Sehingga Tini tidak harus takut akan mimpinya tersebut. Lagi pula mimpi adalah bunga tidur, suatu hal yang normal terjadi. Mimpi bukan sebuah isyarat hidup manusia di masa mendatang. Melainkan hanya sebuah kejadian yang mungkin saja sedang di pikirkan oleh manusia. Sehingga tidak ada korelasinya dengan masa depan seseorang. Tini tidak harus takut akan hal tersebut. Dia harus tetap percaya diri dengan apa yang ada.
Tini sudah mulai sedikit tenang. Namun dia harus benar-benar bisa meyakinkan jika Lutfhi akan segera menemukan tumbal yang akan di persembahkan pada Genderuwo itu. Tini tidak ingin dirinya menjadi tumbal. Begitu juga kedua anaknya. Itu akan jadi episode paling buruk dalam hidup Tini. Kehilangan Fajar dan Tiwi adalah kehilangan terbesar dalam hidup Tini. Cukup bayi dalam kandungan Tini yang dulu saja menjadi tumbal. Tidak dengan dua anak Tini dan Lutfhi saat ini. Mereka jangan menjadi tumbal berikutnya dari Genderuwo tersebut.
__ADS_1
Lutfhi pun meyakinkan pada Tini akan keselamatan dari kedua anaknya yang mungkin tidak akan menjadi tumbal dari Genderuwo itu. Tini tidak harus takut akan keselamatan dari kedua anaknya, sebab mereka akan selamat dari ancaman tumbal Genderuwo itu. Sehingga Tini harus meyakini hal tersebut. Sebab jika Tini tidak yakin akan hal tersebut. Mungkin saja Tini akan meninggal oleh pikirannya sendiri. Itu yang di khawatirkan oleh Lutfhi saat ini. Jadi Tini harus bisa tenang dengan apa yang ada. Tidak ada hal yang harus di khawatirkan oleh Tini, dia harus tetap yakin dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Apa yang Lutfhi katakan pada Tini, cukup membuat Tini bisa merasakan sebuah kondisi yang menenangkan. Dia tidak lagi takut seperti sebelumnya. Kini Tini sudah mulai bisa tenang dengan pelukan dan sentuhan yang Lutfhi berikan pada dirinya. Tini kini mulai bisa berpikir lebih jernih lagi. Tidak ada lagi pikiran kotor yang menyerang dirinya. Pikiran yang menyerang Tini seperti saat Tini bermimpi tadi.