
Pertemuan dengan Dena dan Deni dalam sebuah mimpi yang cukup panjang, telah membuat Lukas penasaran dengan maksud dari mimpi tersebut. Lukas tidak pandai menafsirkan mimpi itu sendiri, sehingga dia butuh seseorang yang memang memiliki kemampuan dalam menafsirkan mimpi. Seseorang yang tentunya lebih pandai dalam mencerna maksud dari mimpi dari Lukas tersebut.
Orang yang mungkin bisa di jadikan rujukan oleh Lukas adalah guru ngajinya. Mungkin beliau bisa lebih paham akan maksud dari mimpi yang cukup menyeramkan bagi Lukas tersebut. Hingga Lukas harus mencari tahu apa yang terjadi pada Dena dan Deni. Sehingga meminta bantuan dari Lukas.
Sehabis mengerjakan shalat dhuha, Lukas pun berpamitan pada Darwis dan Ima untuk mendatangi guru ngajinya. Lukas sengaja tidak menceritakan mimpi seramnya pada Darwis dan Ima. Lukas khawatir mimpinya akan di salah artikan oleh kedua orangtuanya. Hingga Lukas tidak berani menceritakan mimpi seramnya pada ibu dan bapaknya sendiri.
Sebelum berkunjung ke rumah guru ngajinya tersebut. Lukas kembali menyempatkan diri untuk mendatangi lokasi yang akan menjadi tempatnya mendirikan sekolah. Lukas begitu senang melihat saat sudah ada bangunan yang mulai nampak di lahan yang di berikan oleh neneknya tersebut. Lukas berharap nantinya sekolah tersebut akan menjadi ladang pahala bagi neneknya. Sebab akan di bangun sekolah yang menyebarkan ilmu penuh kebaikan.
__ADS_1
Lukas pun melanjutkan perjalanan untuk mendatangi tempat guru ngajinya. Menumpang pada sebuah angkutan umum. Lukas menikmati setiap perjalanan yaah di laluinya dengan berdzikir pada yang maha kuasa. Padahal di sekeliling Lukas, banyak orang yang sibuk dengan handphone mereka. Tapi tidak dengan Lukas yang tetap meluangkan untuk mengingat Tuhan dengan perjalanan yang di jalani oleh dirinya tersebut. Sebab ada resiko yang mungkin saja harus di tanggung oleh Lukas saat menggunakan kendaraan umum. Resiko kecelakaan yang bisa terjadi sewaktu-waktu, sangat rugi bagi Lukas untuk tidak mengingat Tuhan dengan resiko yang mungkin terjadi pada dirinya tersebut. Oleh sebab itu Lukas berusaha untuk selalu mengingat Tuhan dengan perjalanan yang di jalani olehnya tersebut.
Banyak orang yang begitu heran dengan apa yang di lakukan oleh Lukas. Mereka memandang Lukas dengan tatapan aneh. Sehingga Lukas sempat sedikit kurang nyaman dengan tatapan beberapa pengunjung pada dirinya. Walaupun itu salah satu resiko lain yang harus di sadari oleh Lukas saat menaiki kendaraan umum.
Saking herannya, bahkan ada anak kecil yang begitu penasaran dengan tasbih yang di pegang oleh Lukas. Dia tertarik untuk dengan tasbih Lukas yang berwarna hijau tersebut. Dia pun meminta Lukas untuk memberikan tasbih itu pada dirinya.
"Kamu ingin tasbih ini?" tanya Lukas.
__ADS_1
"Aku baru mendengar, ini namanya tasbih." jawab si anak.
"Apakah orangtua kamu tidak memiliki tasbih di rumah?" tanya Lukas kembali.
"Aku tidak pernah melihat benda yang sama di rumahku. Ini kali pertama aku melihat benda ini. Hingga aku begitu penasaran dengan benda ini. Maaf jika aku terlalu banyak bertanya." jawab si anak itu dengan polosnya.
Melihat kenyataan yang ada, Lukas semakin di buat sedih dengan kondisi dari anak-anak di kampungnya. Bahkan mereka tidak pernah melihat orangtua mereka berdzikir. Hingga tidak mengetahui sebuah tasbih. Ini tamparan bagi seorang Lukas. Sehingga Lukas harus mengubah hidup masyarakat di kampungnya untuk kembali ke jalan yang benar.
__ADS_1
Lukas pun memberikan tasbih miliknya pada anak kecil tersebut. Dia meminta pada anak itu untuk selalu berdzikir pada Allah SWT. Lukas juga mengajarkan cara berdzikir pada anak tersebut. Hingga anak itu pun begitu senang saat Lukas mengajarinya cara berdzikir. Anak itu langsung mempraktekkan apa yang di ajarkan oleh Lukas pada dirinya. Hingga Lukas terlihat begitu senang dengan semangat berdzikir yang di tunjukkan oleh anak tersebut.