Jimat Warisan

Jimat Warisan
Hadiah Untuk Tini


__ADS_3

Tini terlihat masih begitu marah pada seorang Lutfhi. Dia tidak bisa melupakan bagaimana Lutfhi telah membuat dirinya kecewa. Dia menolak permintaan sederhana dari seorang Tini. Hingga Tini menolak untuk berbincang dengan Lutfhi.


Tini terus menunjukkan wajah cemberutnya saat menghidangkan makan malam pada Lutfhi dan kedua anaknya. Setiap pertanyaan dari Lutfhi, hanya di jawab oleh Tini dengan dua jawaban saja. Tidak dan iya, tidak ada lanjutannya lagi.


Tak hanya menunjukkan wajah kesalnya pada Lutfhi yang menolak permintaan dari dirinya. Tini juga tak segan membentak kedua anaknya, ketika mereka meminta sesuatu pada Tini. Dia menjawab permintaan dari kedua anaknya itu dengan jawaban yang kasar. Hingga kedua anaknya menjadi penuh ketakutan saat akan meminta lauk pauk pada seorang Tini.


Tak ada doa yang seharusnya di ucapkan oleh seseorang ketika makan. Selesai menyendokan nasi serta lauk pauknya. Semuanya pun langsung menyantap makanan masing-masing. Semuanya begitu menikmati makan malam kali ini. Apalagi lauk pauknya yang di beli di restoran mahal. Sudah pasti memiliki rasa yang lezat, hingga setiap anggota keluarga Lutfhi begitu menikmati makan malam bersama tersebut..


Berbeda dengan Tini yang masih menyimpan bara dalam hatinya. Dia terlihat tidak bernafsu untuk menyantap makanan tersebut. Tini seperti tidak memiliki kekuatan untuk menghabiskan makan malam miliknya. Hingga Tini menyendok makan malamnya tersebut dengan sedikit demi sedikit. Tidak seperti kedua anaknya, maupun Lutfhi suaminya. Mereka bertiga menyendok dengan takaran yang cukup banyak.


Tini yang semakin tak memiliki napsu makan di malam ini. Akhirnya memilih untuk menyudahi sesi makan malam bersama ini. Dia pergi dengan wajah yang masih cukup kecewa pada seorang Lutfhi. Dia masih tidak bisa percaya, Lutfhi akan menolak permintaan dari dirinya tersebut. Hingga rasa kecewa Tini pada seorang Lutfhi pun cukup besar dengan penolakan yang di lakukan oleh Lutfhi tersebut.


Lutfhi tidak langsung mengejar Tini yang masih cukup kecewa. Dia membiarkan istrinya itu untuk merenung. Mungkin saat Tini sudah sedikit bisa tenang, Lutfhi akan kembali menghampiri Tini di kamar miliknya. Sehingga keduanya bisa berbincang lebih dalam lagi. Mungkin Tini akan lebih mengerti lagi akan alasan Lutfhi yang menolak permintaan dari Tini tersebut.


Begitu Lutfhi telah menyelesaikan makan malamnya. Dia pun segera menghampiri Tini di dalam kamarnya. Lutfhi membawa sebuah cincin emas cantik di saku celananya. Mungkin cincin itu akan jadi permohonan maaf dari Lutfhi pada seorang Tini.

__ADS_1


Lutfhi pun langsung duduk di samping Tini yang terlihat bersedih di atas kasurnya. Lutfhi mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Tini.


"Manyun aja, udah kek Mandra tuh bibir."


Tini tidak merespon ucapan dari Lutfhi m Dia tetap menunjukkan ekspresi wajah kesal pada seorang Lutfhi. Tini masih belum bisa sepenuhnya memaafkan Lutfhi yaah menolak permintaan dari dirinya.


"Jadi kamu mau nih, kalau rahasia kita terbongkar sama semua orang. Tadi pas aku datang ke salah satu anak buah si Kosim. Aku bertemu dengan istrinya, kamu tahu apa." ujar Lutfhi menggantung.


Tini penasaran, tapi dia merasa malu untuk bertanya apa kelanjutan dari cerita seorang Lutfhi. Hingga Tini di antara dua persimpangan yang cukup berat. Apakah bertanya akan kelanjutan ceritanya, atau dia tetap pada rasa amarah dirinya pada seorang Lutfhi. Sehingga Tini tetap membuat Lutfhi merasa bersalah.


"Lanjutin dulu ceritanya, aku mohon." ucap Tini dengan sebuah permohonan.


Lutfhi tersenyum lebar saat Tini menahan tangan kanannya. Dia sudah yakin Tini akan penasaran dengan cerita yang di bawa oleh dirinya. Hingga Lutfhi pun sudah siap mengeluarkan jurusnya tersebut.


"Sebelum aku cerita, aku minta satu hal sama kamu." ucap Lutfhi.

__ADS_1


"Minta apa?" tanya Tini.


"Senyum dong. Masa aku cerita kamu cemberut gitu sih." jawab Lutfhi dengan wajah penuh senyum.


Tini pun menuruti permintaan dari Lutfhi. Dia berusaha tersenyum dengan keadaannya yang masih cukup kesal pada seorang Lutfhi. Tapi Tini mungkin berusaha untuk bisa tersenyum dengan situasi yang ada. Hingga Tini harus bisa membuat keadaan menjadi terlihat baik-baik saja.


Senyum Tini di rasa Lutfhi masih kurang baik. Hingga Lutfhi meminta Tini untuk tersenyum lebih ikhlas lagi. Senyum yang Lutfhi harapkan akan menjadi sebuah senyuman yang menandakan kebahagiaan dari seorang Tini. Lutfhi pun meminta Tini untuk tersenyum dengan lebar lagi. Senyum ikhlas yang di minta oleh Lutfhi pada istrinya tersebut.


Akhirnya Tini merubah posisi tersenyum dari dirinya. Dia menunjukkan senyuman yang begitu bahagia pada seorang Lutfhi. Hingga Lutfhi pun akhirnya melanjutkan ceritanya yang sempat terpotong tersebut.


Pada intinya, Lutfhi menceritakan bagaimana istri Ipan yang melihat keberadaan dari Genderuwo seorang Lutfhi. Dia melihat jelas sosok Genderuwo itu berada di samping Lutfhi. Hingga istri Ipan pun begitu ketakutan melihat Genderuwo yang berada di samping seorang Lutfhi.


Dari kejadian itu, Lutfhi khawatir akan terjadi hal buruk pada seorang Lutfhi. Jika Lutfhi sering menggunakan Genderuwo miliknya untuk menyerang orang lain. Akan semakin banyak orang yang akan curiga pada Lutfhi. Sehingga Lutfhi harus bisa lebih pandai lagi dalam menggunakan Genderuwo miliknya dalam menyerang orang lain. Oleh sebab itu Lutfhi meminta pengertian pada seorang Tini. Pengertian yang akan membuat Tini bisa lebih paham lagi akan kondisi dari seorang Lutfhi.


Tini pun akhirnya mengerti tujuan dari Lutfhi yang menolak mengerahkan Genderuwo miliknya untuk menyerang Sinta. Dia paham kini, hingga tidak akan memaksa Lutfhi untuk meminta Genderuwo miliknya untuk menyerang Sinta kembali.

__ADS_1


Untuk semakin membuat keduanya terlihat baik-baik saja. Sebuah cincin emas di beli oleh Lutfhi untuk Tini. Cincin itu akan jadi perlambang ucapan maaf dari seorang Lutfhi pada seorang Tini. Sehingga Lutfhi dan Tini bisa kembali akur lagi. Sebagai sepasang suami istri. Tini pun begitu senang dengan hadiah yang diterimanya.


__ADS_2