
Ningsih adalah seorang pembantu baru yang yang bekerja di rumah Lutfhi dan Tini. Tidak seperti Surti yang merupakan warga kampung yang sama dengan Tini. Ningsih merupakan seorang pembantu yang di datangkan Tini dari kampung sebelah.
Perawakan Ningsih yang terlihat tegas, seperti cocok untuk bekerja di rumah Tini yang sedikit angker. Hingga Ningsih pun di rekrut oleh Tini untuk menjadi pembantu barunya.
Ningsih sendiri pernah mendengar hal-hal aneh yang ada di rumah Tini dari beberapa orang. Tapi Ningsih yang di kenal sebagai seorang yang pemberani, tidak terlihat takut dengan apa yang ada. Ningsih justru siap menghadapi setiap teror yang mungkin akan datang pada dirinya. Ningsih sama sekali tidak pernah takut dengan isu genderuwo yang berhembus ke telinganya.
Hari ini Ningsih di tinggal sendiri oleh di rumah. Dia harus membersihkan rumah yang besar itu sendiri. Tanpa ada orang yang menemaninya. Kedua anak Tini dan Lutfhi sedang bersekolah. Sehingga Ningsih benar-benar sendirian di rumah.
Awalnya suasana rumah tidak begitu seram. Semuanya berjalan normal begitu saja. Sampai saat Ningsih mencuci piring di wastafel dapur. Ningsih terkejut saat tiba-tiba lampu dapur mati dengan sendirinya.
Ningsih yang bukan penakut, mengira lampu itu mati di sebabkan oleh bohlam lampu yang telah rusak. Hingga Ningsih tidak peduli dengan suasana gelap yang ada di dapur. Baru bulu kuduk Ningsih perlahan berdiri, saat gelas-gelas yang Ningsih letakkan di sebuah rak berjatuhan ke atas lantai.
__ADS_1
Ningsih mulai takut dengan suasana tersebut. Apalagi lampu dalam keadaan mati, hal yang membuat Ningsih menjadi sedikit ketakutan. Ningsih terus berpikir positif. Dia mengira gelas-gelas yang jatuh itu tersenggol oleh tikus yang ada di dapur. Hingga dengan segera Ningsih merapikan pecahan gelas yang ada.
Ningsih mengambil sedikit demi sedikit pecahan gelas tersebut. Sampai akhirnya Ningsih melihat sesosok mahluk menyeramkan menghampiri Ningsih. Mahluk itu langsung menampakkan wajah seramnya pada Ningsih. Hingga Ningsih yang melihat wajah genderuwo itu secara langsung, teriak dengan begitu kencangnya.
Teriakan dari seorang Ningsih langsung terdengar ke telinga Lutfhi dan Tini. Keduanya yang baru pulang, langsung menghampiri Tini yang berteriak dengan begitu kuatnya dari arah dapur. Tini dan Lutfhi yang khawatir akan kondisi dari Ningsih, segera memberikan pertolongan pada Ningsih.
Saat Lutfhi dan Tini tiba di dapur, dia melihat Ningsih yaah sudah pingsan di atas lantai dengan pecahan beling dimana-mana. Tini dan Lutfhi menghampiri Ningsih dengan begitu hati-hati, mengingat pecahan beling itu bisa saja melukai kaki keduanya.
Lutfhi dan Tini membawa tubuh Ningsih yang bongsor itu menuju kamarnya. Untung kamar Ningsih yang tak jauh dari dapur, sehingga Lutfhi dan Tini tidak harus mengeluarkan tenaga yang cukup banyak untuk membawa Ningsih menuju kamar.
Tiba di kamarnya, Ningsih perlahan mulai sadar. Tapi dia yang masih trauma, terlihat begitu ketakutan dengan situasi yang ada. Sehingga Ningsih harus bersembunyi di balik tubuh Tini. Ningsih begitu parno melihat genderuwo Lutfhi yang terlihat menyeramkan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kamu pingsan?" tanya Lutfhi.
"Tadi saya lihat genderuwo di dapur mas Lutfhi." jawab Ningsih.
"Genderuwo apa, tidak ada genderuwo di rumah ini." balas Tini.
"Tapi benar mbak Tini, saya tadi lihat genderuwo di dapur. Makanya saya pingsan." ucap Ningsih.
"Katanya kamu itu bukan penakut, masa kamu pingsan sih lihat begitu saja." ucap Lutfhi.
Ningsih pun terdiam dengan sindiran halus yang di berikan Lutfhi pada dirinya. Benar apa yang di katakan oleh Lutfhi, sebelum menjadi pembantu Lutfhi dan Tini. Dia mengakui bahwa dirinya tidak takut pada mahluk halus. Sehingga Lutfhi dan Tini merekrut dirinya sebagai seorang pembantu di rumah mereka.
__ADS_1