Jimat Warisan

Jimat Warisan
Saran Syukuran


__ADS_3

Dengan langkah yang tertatih. Ibu Tini datang ke rumah Tini dengan berjalan kaki. Dia terlihat begitu lelah saat tiba di rumah Tini. Selama ini ibu Tini mengharapkan kedatangan Tini dan Lutfhi untuk menjenguk ibunya tersebut.


Wajah tidak senang langsung di perlihatkan oleh Lutfhi dengan kedatangan dari ibunya. Keduanya terlihat kurang nyaman dengan kedatangan ibunya tersebut. Mereka pun begitu acuh saat ibunya mulai masuk ke rumah. Apalagi Lutfhi yang terlihat begitu benci melihat ibu mertuanya yang telah secara mentah-mentah menolak memberikan keris sakti itu pada dirinya. Lutfhi memilih masuk kedalam kamarnya, di banding harus mengobrol panjang lebar dengan ibu mertuanya tersebut.


Tini yang juga kecewa pada ibunya. Dengan sangat terpaksa menemani ibu mertuanya itu untuk mengobrol di ruang tamu. Wajah Tini tetap tidak berubah, dia terlihat tetap kurang senang dengan kedatangan dari ibunya tersebut. Dengan kedua tangannya yang di lipat keatas perut, Tini menjawab pertanyaan dari ibunya dengan sewot. Padahal selama ini ibunya adalah orang yang cukup perhatian pada Tini. Tapi Tini justru membalas perhatian dari ibunya dengan sebuah sikap yang tidak sopan.


Berbeda dengan kedua orangtuanya yang begitu benci pada nenek mereka. Kedua anak Tini justru begitu akrab dengan ibu Tini. Mereka yang memang sering bermain dengan neneknya tersebut. Terlihat senang dengan kedatangan nenek mereka di rumah barunya tersebut.

__ADS_1


Begitu ibunya telah bermain dengan kedua anaknya tersebut. Tini pun langsung bergegas pergi dari ruang tamu. Dia ingin menghampiri Lutfhi yang sedari tadi telah pergi meninggalkan ibunya.


Namun ibunya meminta Tini untuk tidak pergi terlebih dahulu. Dia meminta Tini untuk tetap bersama dirinya. Tapi Tini sempat menolak untuk bersama ibunya tersebut. Dia tetap ingin berada di samping suaminya. Hingga Tini langsung mendapat sedikit bentakan dari ibunya. Tini pun akhirnya menuruti perintah ibunya yang mulai sedikit marah pada Tini.


"Ibu mau bicara apa sih?" tanya Tini dengan wajah kesalnya.


"Aku sih setuju saja, tapi aku juga harus berdiskusi dengan suami dulu. Soalnya dia yang punya rumah ini. Jadi segala keputusan ada di tangan dia." jawab Tini dengan penuh kehati-hatian.

__ADS_1


"Suruh sini suami kamu. Ibu mau ngomong sama dia." ucap Ibu Tini.


Fajar pun langsung di minta Tini untuk memanggil ayahnya tersebut. Dengan segera Fajar memanggil Lutfhi yang berada di dalam kamarnya. Walaupun sedikit malas, Lutfhi pun akhirnya menemui ibu mertuanya tersebut.


Lutfhi duduk di samping Tini. Gesture yang di tunjukkan Lutfhi benar-benar tidak begitu baik. Dia tidak enggan menatap wajah mertuanya tersebut. Hingga Mertuanya meminta Lutfhi untuk menatap dengan baik wajah mertuanya tersebut.


Ketika pandangan Lutfhi telah lurus ke arah mertuanya itu. Ibu mertuanya itu langsung mengutarakan keinginannya. Dimana dia ingin acara 100 hari suaminya di gelar di rumah Lutfhi. Ini juga momen yang bagus bagi Lutfhi dan Tini untuk membuat syukuran atas rumah baru yang mereka miliki. Hingga acara itu bisa di lakukan dengan secara bersamaan.

__ADS_1


Lutfhi tidak mempermasalahkan semua acara tersebut. Mungkin itu lebih baik, sehingga Lutfhi tidak harus membuat syukuran lagi. Lutfhi menyetujui ide dari ibu mertuanya tersebut. Acara 100 hari kematian dari suaminya akan di gelar dengan acara syukuran rumah baru dari Lutfhi dan Tini.


__ADS_2